Pemutarbalikan fakta strata sosial – sebuah refleksi dari buku “The Upside-Down Kigdom”

Hal pertama yang bisa saya pelajari adalah pengotak-ngotakan, memang secara tidak disadari saya selalu berkumpul dengan orang yang berada di dalam satu rasa saya yaitu orang keturunan Tionghoa pertama, kedua dengan orang-orang yang berada di sosial ekonomi yang sama yaitu menengah ke atas dan ketiga saya lebih suka untuk berkumpul dengan orang yang sesama Kristiani. Kondisi ini terjadi karena ketika berada di dalam masyarakat kita tidak akan dapat melepaskan diri dari status yang kita bawa, di dalam buku ini dinamakan dengan catur sosial. Jadi ketika memulai relasi dengan lingkungan yang baru, saya merasakan bahwa saya selalu memilih-milih dahulu orang mana yang akan saya jadikan teman terlebih dahulu, saya langsung memasukkan mereka ke dalam ranking yang saya buat. Pada dasarnya seorang manusia akan menilai seseorang hanya dari status yang mereka bawa, tidak mungkin saat pertama kali bertemu dapat melihat seluruh sifat seseorang yang terlihat hanya status yang tampak, yang akhirnya kita akan membuat label-label tertentu . Belajar dari Yesus yang sangat luar bIasa mampu menanggalkan seluruh status dan papan catur sosIal yang Ia bawa untuk dapat bergaul bahkan berinteraksi lebih dalam dengan orang-orang yang non-Yahudi bahkan orang yang paling dianggap berdosa di mata orang Yahudi yaitu pemungut cukai. Yesuspun menghancurkan kemurnIan etnis yang diangggap sebagai suatu budaya Palestina. Pada saat itu memang yang paling menjadi masalah adalah mengenai orang Yahudi dan non-Yahudi. Terdapat jurang pemisah yang sangat jauh antara orang Yahudi dan non-Yahudi. Orang Yahudi tidak dapat menerima ajaran Yesus bahwa berkat yang diterima oleh Abraham untuk semua bangsa, apalagi keselamatan yang diterima berlaku untuk semua orang. Yesus juga melakukan banyakk mujizat kepada orang-orang non-Yahudi yang menggambarkan suatu makna bahwa Ia sedang mengabarkan misi mesIasnik yang membuat orang-orang yang dIanggap kafir oleh orang Farisi menjadi percaya bahwa Yesus adalah benar-beanr MesIas, ironisnya hal-hal yang dilakukan oleh Yesus ini tidak membuat orang-orang Farisi percaya akan siapa Yesus yang sebenarnya. Hal ini menunjukkan bahwa kabar baik mengenai keselamatan tidak bergantung kepada sIapa kita dan status kita tetapi kabar baik ini akan masuk ke dalam seluruh penjuru dunIa baik suku-suku yang terpinggirkan maupun suku-suku yang superior. Pelajaran yang saya tarik adalah saya sering menganggap ada orang yang saya rasa sudah tidak layak untuk mendengar berita keselamatan akibat dari perbuatannya yang benar-benar kejam, tapi semua itu salah orang-orang yang berada di dalam taraf yang saya anggap paling rendah justru merekalah yang harus mendengarkan kabar baik ini dan Yesus tidak pernah memilih-milih berdasarkan sIapa kita tetapi semua adalah kedaulatanNya. Selain itu Yesus juga banyak menyinggung masalah perbedaan status biologis maupun sosIal sebagai orang Kristen yang mau menjadi serupa dengan Kristus sudah bukan waktunya lagi bagai saya untuk melakukan pembedaan-pembedaan ras. Masalah diskriminasi ras inilah yang paling menegur saya karena secara tidak sadar, saya selalu menganggap orang-orang pribumi terutama mereka yang berada di kalangan sosIal ekonomi yang rendah sebagai orang yang hanya bisa mengacau dan tidak sejajar dengan saya. Saya banyak belajar dari Yesus yang tidak memandang perbedaan ras ini terutama dari sikapnya yang mau masuk ke kawasan orang SamarIa yang saat itu dIanggap merendahakan martabat orang Yahudi. Teladang Yesus yang juga cukup berbicara kepada saya adalah pandangan mengenai status perempuan. Banyak hal yang sudah tertanamkan didalam persepsi dan sikap saya terhadap perempuan. Budaya patrIachi benar-benar kuat masuk di dalam pikiran-pikiran bawah sadar saya setelah saya refleksikan, saya terkadang menganggap perempuan lebih rendah daripada kakum laki dan saya merasa beberapa hal di dalam organisasi tidak cocok bila saya harus melakukan dengan perempuan karena mereka lebih saya lihat tidak mampu dan kurang mandiri. Tetapi Yesus sekali lagi menunjukkan sikapnya yang luar bIasa kepada perempuan yang saat itu juga dIanggap rendah di budaya Yahudi karena perempuan selalu ditempakan lebih rendah dari perempuan dan seorang istripun hanya memiliki tugas untuk melahirkan anak. Yesus dengan sengaja melakukan hal-hal yang dIanggap tidak wajar oleh orang Yahudi yaitu berbicara dengan perempuan SamarIa dan membIarkan perempuan untuk mengikutinya. Perilaku Yesus yang tidak bIasa ini juga menjadi teladan bagi kaum-kaum wanita yang ada sehingga mereka sosok Yesus yang dapat menerima mereka secara penuh sehingga wanita memiliki status yang baru di dalam kerajaan yang sungsang. Selanjutnya adalah bagaimana supaya saya dapat menghindarkan diri saya dari persepsi-persepsi yang sudah saya bawa sejak kecil hingga sekarang supaya dapat berubah. Maka ada beberapa cara yang dIajarkan di dalam buku ini untuk mempercepat usaha untuk memperbaharui sub-sub kelompok yang memecah belah yaitu kita mengakui kelompok-kelompok ini, kemudIan kita harus memandang pada Yesus yang sudah melampui kotak-kotak sosIal dan akhirnya kita harus berusaha untuk melampaui kotak-kotak sosIal seperti yang telah Yesus lakukan.

Selanjutnya yang dapat kita amati di dalam lingkungan sosial sehari-hari kita adalah ketidaklepasan seorang akan status yang vertikal yang juga menjadi pemisah, yaitu penempatan seorang yang berada di bawah dan mereka yang memiliki posisi di atas orang lain. Pemisah ini dinamakan dengan stratifikasi sosial.Kedudukan yang lebih tinggi contohnya seperti ketua di dalam suatu organisasi memiliki kuasa dan kebanggan sendiri dibanding dengan anggota yang tidak memiliki jabatan apapun. Peringkat sosIal ini membuat nilai yang dimiliki seseorang akan semakin besar atau semakin kecil. DunIa sekarang ini sangatlah memandang suatu tingkatan, hampir sebagaIan besar orang akan lebih menghargai para eksekutif-eksekutif muda dibanding dengan pengemis-penegemis tua. Jadi setIap orang yang berada di dalam strata yang tinggi maka akan memiliki suatu keuntugan di mata dunIa ini yaitu kuasa untuk mempengaruhi orang lebih besar, hal ini sudah banyak terbukti bahwa orang yang kaya akan lebih mudah mendapatkan tempat secara politik di dalam negeri ini karena uang lebih banyak berbicara daripada hal-hal yang lain. Apakah hal seperti ini juga terjadi di zaman Yesus, tentu saja juga terjadi. Bahkan para murid Yesus secara tidak sadar juga memperebutkan posisi menjadi yang utama kelak di sorga nanti. Bagaimana dengan Yesus apakah Ia anti dengan yang namanya kuasa. Ternyata tidak, Ia juga banyak menggunakan kata-kata kuasa di dalam keseharIanNya. Namun kuasa yang Ia peroleh bukan dari dunIa politik namun dari Allah sendiri. Kuasa yang Ia miliki tidak Ia gunakan dengan semaunya sendiri tetapi benar-benar untuk menjalankan mandat Ilahi dan orang-orang yang Ia tolong benar-benar merasakan kuasa dari Allah sendriri. Perkataan Yesus mengenai berhenti memanjat juga menjadi suatu perkataan yang berbicara langsung kepada saya karena secara tidak disadari saya juga memiliki usaha-usaha untuk mencari posisi yang lebih dipandang supaya saya menjadi orang yang memiliki kuasa dan dihargai banyak orang. Saya memiliki pemikiran bahwa seseorang tidak akan pernah dihargai bila Ia tidak memiliki cukup banyak uang, ini menjadikan suatu perenungan di dalam hidup saya. Sebaliknya Yesus mengajarkan kita untuk menjadi seperti anak kecil. Anak kecil adalah sebuah sosk manusIa yang memiliki pemikiran yang sangat murni karena mereka tidak melihat perbedaan hiraki, perbedaan sosIal, dan belum terbersit sedikitpun di dalam pemikirannya untuk melakukan manipulasi guna memperoleh kekuasaan lebih. Oleh karena itu, sekarang saya belajar untuk membalik pola pikir mengenai kekuasaan yang dunIa ini ajarkan tetapi harus mulai mengarah kepada ajaran yang Yesusn ajarkan mengenai kebesaran = bawah, pelayan, budak, terakhir, anak-anak. sangat mudah untuk mencerna arti kata-kata kebesaran ini namun akan sangat sulit di dalam menerapkan mkana kata kebesaran ini. Yesus telah menjadi contoh di dalam menerapkan apa yang Ia ajarkan. Ia dahulunya adalah seorang raja yang memiliki seluruh dunIa ini tetapi Ia telah merelakan dirinya untuk turun ke dalam dunIa ini menjadi seorang pelayan bagi manusIa yang seharunya melayani dIa, kisah ini sama dengan analogi kita yang mencucikan pakaIan dan alat-alat makan pembantu kita. Tetapi itulah yang Yesus ajarkan supaya kita menjadi yang terakhir dan melayani sIapa saja, tidak peduli dengan status mereka. Sebenarnya apa manfaat dari pada hiraki-hiraki yang ada, hiraki-hiraki yang selama ini dibagun di dalam masyarakat hanya akan menguntung mereka yang berada di posisi yang atas dan mereka yang berada di posis bawah akan selalu tidak diuntungkan. Dalam hal kekuasaan Yesus bukanlah anti terhadap kekuasaan namun Ia banyak sekali menggunakan kekuasaan yang Ia miliki untuk sesuatu hal yang mempermulIakan nama Tuhan. sekali lagi kekuasaan yang Ia dapat bukan menggunakan cara-cara yang dipakai oleh pemimpin-pemimpin dunIa yang cenderung berpolitik tidak benar tetapi Yesus menggunaka kasihNya untuk memperoleh kekuasaan tersebut. Pengaruh yang begitu luas yang Ia dapatkan semata-mata karena kasihNya yang Ia bagikan untuk semua orang tanpa memandang status sosIal yang ada membuat orang-orang melihat sosok yang menjadi teladan bagi setIap orang. Secara keseluruhan yang saya pelajari adalah kekuasaan yang saya punyai bukan dengan motivasi untuk menguasai orang lain tetapi untuk membantu orang lain. Kedua, untuk menjadi yang terdepan, maka kita harus menjadi yang terbelakang terlebih dahulu. Ketiga, Kuasa yang didapat lebih besar pengaruhnya bila mendapatkannya melalui kasih yang dibagikan.

Hal yang menarik yang saya pelajari berikutnya adalah unusual politic, cara-cara berpolitik Yesus yang tidak bisanya. Yesus tidak menggunakan cara-cara berpolitik yang -sama dengan orang-orang Farisi dan saduki di dalam mendapatkan suatu pengakuan. Banyak lambang-lambang yang cukup menarik untuk menggambarkan pemerintahan Yesus yaitu palungan & kandang bukan kamar VIP rumah sakit, baskom bukan guci dari emas, dan salib bukan tahta kerajaan. Pengorbanan Yesus yang Ia tunjukkan dengan menncuci kaki-kaki yang kotot bukanlah suatu tindakan yang bisa dIanggap bIasa karena membersihka kaki orang bukan pekerjaan yang menyenangkan dan menjadikan diri kita lebih rendah dibanding orang yang kita cucikan kakinya. Kain dan baskom ini menjadi suatu penunjuk bahawa Yesus benar-benar menjungkirbalikkan hiraki-hiraki sosIal yang ada dan menunjukkan kepada setIap kita utnuk saling melayani satu sama lain, tidak berebut untuk menjadi yang tertinggi tetapi bIarlah kita salaing mengasihi dan merendahkan diri satu dengan yang lain. Salib itupun juga menjadi suatu lambang pengorbanNya yang begitu besar, Ia dapat menghindari tanggung jawab tersebut tetapi Ia tidak mau. tanpa pelayanan baskomNy tidak akan pernah ada jalan salib itu. Pengajaran-penagajaran Yesus juga selalu menentang pengajaran keagamaan yang konvensional. Ia selalu memperjuangkan kebenarang yang harus disampaikan bukan demi keuntunganNya tetapi justru akan membawa banyak kerugIan kepada dirinNya. Ajaknnya kepada setIap murid untuk mengikuti teladanNya menjadi suatu bukti bahwa Ia benar-benar melakukan kebenaran-kebenaran. Yesus mengajak setIap kita untuk terlibat di dalam pelayananNya, karena Firman yang Ia ajarkan tidak akan berguna bila kita tidak dapat melakukannya. Murid terbesar adalah dIa yang melakukan dan mengajarkan perintah Tuhan. Salib menjadi suatu lambang kepurusan kita di dalam memilih mengikut Yesus. Banyak orang berpikir bahwa mengikut Yesus adalah segala jawaban di dalam masalah-masalah yang kita hadapi di dunIa ini namuan Ia tidak pernah menjanjikan hal itu, Ia hanya mengatakan bahwa mengikut DIa haruslah memilkul salib. Memikul salib berarti kita harus berani untuk meningggalkan ambisi-ambisi pribadi kita di dalam dunIa ini yang sangat dipenuhi dengan hawa nafsu. Langkah ini merupakan langkah yang paling berat yang saya rasakan ketika harus memikul salib meskipun belum sepenuhnya memikul salib ini. Saya sangat tidak rela untuk meninggalkan ambisi-ambisi pribadi saya namun saya sekarang sedang belajar untuk mampu melepaskannya dan benar-benar memikul salib secara penuh. Yang kedua adalah maka kita seakan-akan akan kehilangan hidup kita di dunai ini. . Ketika kita mengikut Yesus bukanlah suatu harga yang murah yang harus kita bayar tetapi harga yang begitu mahal tetapi hal itu masih tidak sebanding dengan pengorbanan Yesus di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa saya sehingga saya terlepas dari hukuman kekal. Komitmen yang harus saya bagun benar-benar komitmen ynag secara total menyerahkan diri saya di dalam Tuhan. Banyak sekali kesusahan yang harus ditempuh namun sukacita itu selalu berinringan dengan setIap derita yang saya alami.

Secara keseluruhan saya melihat memang dalam mengikut Yesus kita harus melakukan banyak hal yang berlawanan dengan apa yang dilakukan oleh dunIa ini, ini sesuai dengan ayat yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunIa ini. Dan inti daripada mengikut Kristus adalah kerelaan untuk memikul salib. Mungkin secara sederhana kata-kata itu muncul tetapi membutuhkan banyak pengorbanan yang mahal untuk dapat mewujudkannya. Amin


Komentar (1) »

Orang Nasrani Pandu Bangsamu

Judul: Orang Nasrani, Pandu Bangsamu Buku 1

Pengarang : Samuel Tumanggor

Penerbit: satu-satu

Tahun: 2007

Halaman: 179 Halaman

Indonesia tanah airku tanah tumaph darahku

di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku

Sepenggal kata-kata di atas merupakan kalimat pembuka dari syair lagu kebangsaan dan kebanggan kita-Indoensia Raya benar-benar telah merasuk ke seluruh jiwa dan pikiran kita, bahkan dua kalimat ini akan mudah sekali kita keluarkan tanpa perlu mengerahkan seluruh pikiran dan tenaga untuk mengucapkannya di setiap kita menyayikannya baik saat upacara bendera maupun waktu memperingati hari kemerdekaan. Namun pertanyaannya apakah sesuatu yang kita ucapkan dengan mudah bahkan sudah merasuk di dalam pikiran bawah sadar kita telah mampu kita wujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terlebih lagi kita sebagai orang Kristen yang menyatakan diri sebagai garam dan terang dunia. Penulis dengan tegas membuka seluruh rangkaian tulisannya dengan pertanyaan sudahkah kita sebagai orang nasrani menjadi pandu bagi ibu pertiwi di tengah-tengah kondisi pembusukan nasib bangsa dan memiliki semangat nasionalisme kristen?

Penulis (Samuel Tumanggor) yang merupakan lulusan dari salah satu jurusan teknik Institut Teknologi Nasional dan sekarang aktif di dalam projek terjemahan dinamis Alkitab perjanjian lama dengan sistematis menyususn pasal-pasal (ia memberikan nama bab dengan istilah pasal) seperti sebuah album musik yang setiap pasal otonom. Jadi, setiap pasal mempunyai aransemen yang berbeda-beda. Konsep yang penulis angkat merupakan pemikiran yang original yang memiliki kepedulian dan beban yang kuat terhadap bangsa ini yang jarang sekali ditemui di kalangan orang-orang Kristen, bahakn keunggulan buku ini , penulis dapat mengemas bahasanya dengan sederhana sehingga setiap kalangan akan sangat mudah untuk mencernanya. Kiprahnya di bidang penulisan juga telah menghasilkan sebuah buku sebelumnya dengan judul Demi Allah dan Demi, yang mengambil inspirasi dari perkataan seorang Kristen yang memiliki peran begitu luar biasa di kancah pemerintahan Soekarno yaitu Johannes Leimena bahwa “Negara Indonesia adalah suatu karunia Allah kepada bangsa Indonesia dengan suku-suku bangsany. Dengan demikian Allah mempunyai suatu maksud dengan kita sebagai negara dan bangsa.” Buku ke-2 ini menjadi lanjutan kerinduan penulis untuk memaparkan pandangan kebangsaan dari sudut pandang orang Nasrani dan berbagi mengenai konsep kebangsaan.

Dalam buku Orang Nasrani, Pandu Bangsamu ini, penulis membagi pembahasannya menjadi 3 sub bahasan. Bagian pertama penulis menekankan pada pendaratan kewarganegaraan surga kita dalam kewarganegaraan bumi/keindonesiaan. Sesuai dengan pertanyaan pembuka, banyak dari kita lupa akan peran kita untuk dapat memandu negeri kita tercinta menuju kepada jalan kebenaran. Allah menyatakan perntaaan umum kepada semua orang untuk memberikan kita nurani untuk berkumpul dalam suatu bangsa dan menjadi pejuan bagi bangsa kita yang terwujud di dalam lagu-lagu kebangsaan setiap negara seperti Taiwan yang menegasakan setiap penduduk untuk memcut diri untuk melanjutkan pemulian ibu pertiwi. Sedangkan pernyataan khusus, Alkitab kerap kali menunjukkan bahwa nasib dari suatu bangsa ditentukan oleh tindak-tanduk anak-anak bangsa yang memimpinnya, jika kita memimpin tanpa ketundukan kita kepada Tuhan dan keberdosaan kita maka celakalah bangsa yang kita ini, hal ini sesuai dengan Firman Allah (Im 18:26-28, Ul 9:4-5). Sekali lagi penulis menekankan kepad setiap kita orang-orang percaya untuk berani mengambil bagian di dalam kepemimpinan negeri ini karena negeri ini akan hancur secara cepat maupun lambat bila dipimpin selalu oleh orang-orang yang tidak tunduk kepada Tuhan dan tidak akan terberkati. Penulis juga mengkritisi akan ajaran Kristen yang menekankan akan kewarganegaraan surga sehingga memisahkannya dengan kewarganegraan bumi karena dipenuhi ketakutan akan penodaan kekudusan karena bersinggungan dengan dunia sekularitas. Tentu hal ini tidak benar bila kita memisahkannya karena dalam Doa Bapa kami jelas terungkap bahwa Yesus menyatakan jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga, selagi kita hidup di bumi kita harus membawa kehendak kerajaan sorga di bumi juga. Penulis juga melihat fenomena di gereja-gereja saat ini yang selalu menekankan kita sebagai kelompok minor sehingga tidak mungkin orang Kristen memiliki peran di dalam negara dan cuma sanggaup mengeluarkan jargon-jargon seperti “kita buat iblis gemetar,” “Transformasi bangsa pasti terjadi,” dan “Indonesia penuh kemuliaan,” tetapi kita tidak lupa berdoa dan beraksi. Karena kelemahan-kelemahan ini membuat gereja lupa mendorong anak-anak muda yang menjadi tunas harapan bangsa untuk dapar berkiprah dan berperan di dalam keseharian mereka maupun pikiran-pikiran kritis mereka. Padahal sejarah Indoensia membuktikan bahwa kegerakan yang luar biasa terjadi di Indonesia banyak dipelopori oleh orang muda seperti WR Supratman menciptakan lagu Indonesia Raya pada usia 23 tahun juga Johannes Leimena mempersatukan pemuda Indonesia pada usia yang sama. Ini menjadi PR bagi gereja dan lembaga-lembaga Kriten untuk mempersiapkan tunas-tunas bangsa yang siap memimpin bangsa. Kita juga sering berpikir siapakah kita, sehingga kita layak untuk menjadi pandu bagi negeri ini. Sudah terlalu banyak contoh-contoh nyata, siapapun kita pasti dapat berperan bagi bangsa ini seperti Johannes Leimena (dokter merangkap politikus dan mentri kesehatan) dan Romo Yusuf (pastor merangkap arsitek yang berjuan bagi keadilan rakyat kecil). Menurut saya, bangsa ini benar-benar merindukan pemimpin-pemimpin yang memiliki karakterk Kristiani yang benar-benar berserah dan takut akan Tuhan supaya menghasilkan dampak yang benar-benar menjadi Terang di tengah kegelapan bangsa saat ini. Anda semua wajib menjadi pemandu bagi bangsa ini dalam segala hal yang anda kuasai asalkan anda memiliki kehidupan spiritualitas yang sehat. Yang cukup disayangkan, penulis di dalam tema ini kurang banyak menyoroti dari sudut pandang kepemimpinan dan peran Yesus yang secara riil pada saat ia hidup terhadap bangsanya, padahal saat awal-awal bab ia sempat menyinggung mengenai teladan Yesus yang seharusnya menjadi contoh bagi kaum Nasrani. Yang kedua adalah isi yang akan disampaikan terlalu padat sehingga pembahsannya belum sampai mendalam hanya sebatasa pemaparan sebuah ide yang cepat.

Banyak dari kita mungkin juga mempertanyakan apakah Allah benar-benar berperan di dalam pembentukan dan setiap kejadian yang terjadi di dalam bangsa Indonesia. Tentunya beberapa dari kita ada yang pernah memikirkannya dan ada yang tidak peduli akan pertnyaan ini, namun penulis merasa bahwa pertanyaa ini penting sekali untuk dijawab. Ia mengatakan bahwa “Ya” Bangsa Indonesia ini ada sepenuhnya adalah pembentukan dari Tuhan. Keyakinan jawaban ini serasa terbantahakan dengan kondisi jaman yang serasa jauh dari “kasih Allah” yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman. Sangat sulit bagi kita untuk benar-benar dapat menerima bagaimana mungkin bangsa yang dikenhendaki Tuhan menjadi seperti ini. Penulis mengajak setiap kita untuk menundukkan hati dan pikiran kita untuk mengerti apa yang bisa kita pelajari. Sebagai pembuka, penulis melihat dari sudut pandang pembentukan bangsa-bangsa seperti persebaran orang-orang kulit hitam yang bermula dari jasirah Arab menyebar ke Eropa, Amerika, akhirnya sampai ke Asia bahkan pakar antropologi mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah mereka (ras negroid). Segala misteri persebaran in menjadi salah satu jawaban bahwa suatu bangsa dapat terbentuk benar-benar karya Ilahi dan sulit bagi kita untuk dapat mengertiNya karena banyak hal yang belum tersingkap dan Allah yang berperan aktif dalam pembentukan ini. Bagaimana dengan kasih Allah kepada bangsa ini dapat dijelaskan? penulis melihat bahwa kasih yang diterima oleh setiap bangsa bukan berarti kasih itu merupakan hal-hal yang menyenangkan saja tetapi itu juga bersamaan dengan keadilan yang Allah nyatakan, karena itu kita tidak dapat menyoroti setiap kesusahan yang dialami bangsa kita semata-mata karena Allah tidak mengasihi Indonesia. Sekali lagi, kita harus menempatkan Allah sebagai otoritas tertinggi dari segala sesuatu yang ada di bumi ini karena hanya Dia yang tahu awal dan akhir daripada bangsa ini. Sekarang kita dapat melihat bagaimana pimpinan Tuhan yang begitu luar biasa di dalam pembentukan bangsa ini mulai dari persebaran orang kulit hitam kemudian rasa mongoloid yang masuk ke Indonesia, kemerdekaan atas penjajahan Belanda yang boleh membebaskan bangsa ini dari belengggu penyiksaan dan pemersatuan suku-suku bangsa yang ada, dapatkan kita mengatakan lagi bahwa apakah Allah benar-benar menuntun pembentukan Indonesia. Begitu banyak karya Tuhan yang luar biasa kepada bangsa ini, sekarang hanya menyisakan sebuah pertanyaan maukah kita untuk menjadi pandu bagi bangsa ini?

Penulis mengakhiri keseluruhan rangkaian penulisannya dengan menganggkat sebuat tema yang berjudul “Kuat Kuasa Tulisan.” Mendengar kata tulis-menulis mungkin bagi sebagian kita, hal tersebut merupakan hal yang tidak biasa kita lakukan sebagai orang Nasrani Indonesia. Kita perlu mengingat sebuah karya radikal yang pernah dibuat oleh seorang anak bangsa yang bertebal hanya 16 halamn dan diterbitkan tahun 1913, buku itu berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang ditulis oleh Ki Hajar Dewantara. Tulisan tersebutlah yang membakar semangat anak-anak bangsa untuk bangkit bagi ibu pertiwi dan membuat Belanda marah besar terhadap beliau. Tulisan bukan hanya berhenti menjadi sampah yang tidak memiliki guna setelah dibaca tetapi yang perlu kita sadari bahwa tulisan mampu melahirkan sebuah bangsa seperti Indonesia. Penulis di buku ini membahsa sangat menarik mengenai pentingnya suatu gagasan yang muncul akan mampu memberikan pengaruh seperti membutakan pikiran orang (buku Mein Kampf karya Hitler yang mengagung-agungkan bangsa Jerman), dan membentuk citra (fenomena bagaimana SBY dapat mendapatkan simpati dan memenangkan pemilu karena artikel-artikel yang ditulis oleh pers). Penulis juga menyinggung tugas besar bagi Gereja Indonesia untuk dapat memandu anak-anak bangsa untuk mampu menuangkan setiap ide-ide ke dalam tulisan sehingga bangsa ini tidak selalu tergantung kepada pustaka-pustaka orang Nasrani Barat. Pada bagian akhir tulisannya, penulis mencoba melakukan peneropongan terhadap penyebab mengapa seorang anak Indonesia sangat tidak gemar menulis dan ia membagikan penglamannya yang lebih sering terlibat di dalam dunia tulis menulis dengan memberikan beberapa kiat-kiat.

Sayangnya buku ini sering mengulang-ulang inti bahasan dengan mengemasnya secara berbeda-beda seakan-akan terkesan terlalu bertele-tele, tetapi Secara keseluruhan buku ini sangat cocok kita baca dengan santai karena bahasanya cukup merakyat dan cukup praktissehingga kita bisa merenungkan secara lebih mendalam mengenai masalah kebangsaan secara Kristiani. Di dalam momen-momen memeringati hari kemerdekaan, buku ini sangat pas sekali untuk kita beli dan baca selain karya dalam negeri juga mampu menggugah semangat kita untuk mencari peran yang ditempatkan Allah kepada setiap kita untuk mampu berperan bagi bangsa ini.

Jadi apa lagi yang saudara tunggu untuk menulis? Apakah di dalam pikiran saudara-saudara tidak ada satu gagasan atau ide yang pernah muncul? Bangsa ini akan selalu menantikan kehadiran anda dalam kancah penulisan yang akan membawa perubahan bagi Indonesia selagi Tuhan masih mengijinkan anda untuk menulis! Semoga Tuhan selalu menanamkan rasa cinta dan bangga akan tanah air tercinta dan Tuhan menggugah setiap kita untuk memandu Ibu Pertiwi di segala bidang kita! Majulah Indonesia!

Komentar bertahan »

INTEGRASI PSIKOLOGI KLINIS DAN PSIKONEUROIMMUNOLOGI:

I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Psikologi Klinis adalah suatu cabang ilmu psikologi yang membahas mengenai integrasi antara science, teori dan praktek untuk memahami, memprediksi, dan mengatasi masalah adjustment, disability, dan discomfort menuju pada peningkatan human adaptation & personal development. Psikologi klinis merupakan cabang ilmu yang bersusaha untuk melihat keterkaitan antara bilogis, sosial dan psikologis terhadap kesehatan individu.

Psikologi klinis memiliki banyak sekali area yang menjadi lingkup bahasannya antara lain anak, remaja, lansia, forensik, kesehatan, dan masih banyak lagi. tetapi pada makalah ini saya akan lebih menyoroti ke psychology of dying. Area ini menjadi kurang populer untuk saat ini karena pembahasannya berhubungan dengan bagaimana kondisi psikologi orang yang akan menghadapi kematian. Ilmu ini sudah mulai jarang diajarkan di fakultas-fakultas psikologi karena banyak bersentuhan dengan kematian dan sulit sekali untuk melakukan penelitian terhadap hal ini. Saya rasa di tengah berbagai tekanan yang dihadapi munculnya kasu-kasu mengenai kematian semakin menarik. Saya bersuaha melihat kondisi kematian terhadap stress dan penurunan fungsi imun tubuh.

Ada semacam fenomena peningkatan angka kematian pada tanggal, minggu, maupun musim tertentu yang biasanya dihubungkan dengan berbagai situasi yang melatarbelakanginya, seperti kematian akibat influenza pada musim winter, kematian akibat kecelakaan lalulintas pada liburan akhir pekan, kematian akibat serangan jantung pada hari Senin dan bahkan kematian pada jam tertentu setiap hari ( siklus sirkadian ) . Peningkatan kematian yang terpola sesuai keadaan tertentu dapat berhubungan dengan fluktuasi proses alami ( seperti perubahan siklus tahunan ) atau berhubungan dengan masalah sosiokultural ( seperti : perubahan aktivitas antara kerja harian dan liburan akhir pekan).
Telah diketahui pula bahwa stress psikologis dapat mempengaruhi kesehatan bahkan sampai kematian seseorang.
Mekanisme komplek mengenai hal ini banyak dibahas pada bidang psikoneuroimunologi. Dalam sepanjang sejarah epidemiologi , para peneliti telah juga memperhatikan banyak faktor yang cukup luas , namun difokuskan pada pengaruh fisik , kimia, dan biologi lingkungan dan efek faktor sosio-kultural yang negatif terhadap kematian , seperti kehilangan orang yang dikasihi , kehilangan pekerjaan dan perceraian. Namun disatu sisi kejadian yang sangat berarti bagi individu dapat menunda proses kematian beberapa saat, seperti seseorang yang dalam keadaan kritis mungkin memasuki fase ‘tawar-menawar’ dengan Tuhan untuk tetap hidup sampai pernikahan anaknya.

Sebuah cerita pengalaman seorang dokter di rumah sakit yang pernah dimuat di BMJ mungkin dapat menggambarkan betapa besar pengaruh ’stress psikologis’

terhadap kematian.

Seorang pasien laki-laki usia 58 tahun , pedagang India yang bekerja di Afrika datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dada . Istri dan anaknya yang berusia 35 tahun bersama pasien tadi saat pemeriksaan elektrokardiografi menunjukkan adanya infark miokard posterior . Pasien ini sangat percaya bahwa dirinya akan meninggal hari itu. Sebelum terapi diberikan, dia berkata , “dokter , anda tahu usia saya 58 tahun . Kakak saya meninggal 3 tahun lalu pada usia 58 tahun, bibi saya juga meninggal pada usia 58 tahun dan …..,” saya memotong pembicaraan , sambil berpikir sejenak , betapa hebatnya ‘takhyul’ merasuki ilmu kedokteran. ” Anda tidak akan mati , tuan. Anda hanya membutuhkan tidur malam yang nyenyak. Silahkan katakan selamat malam pada anak dan istri anda” . ” ….dan kakak sayapun meninggal akibat sakit jantung, usianya 58 tahun dan …..,” Pasien tadi tetap meneruskan pembicaraannya. Setelah itu saya mengantar istri dan anaknya meninggalkan ruangan perawatan intensif. Istrinya meminta saya untuk memberikan ijin menemani suaminya sepanjang malam, namun kebijaksanaan rumah sakit tidak memungkinkan keluarga untuk tidur di dalam ruang perawatan intensif. Anaknya pun sekali lagi meminta kepada saya mengijinkan ibunya untuk tinggal, tapi secara sopan saya menolak permintaan itu dan mengantar mereka keluar ruang perawatan pada jam 11 malam. Pada jam 5.15 pagi, sekitar 6 jam setelah saya meninggalkan ruang perawatan intensif , telepon berdering. ” Dokter…..,” suara suster yang gelisah, ” kondisi pasien anda berubah “. Ini perkataan eufimisme untuk menyatakan pasien telah meninggal. Saya memastikan bahwa kematian memang telah terjadi saat mendengar jeritan tangis istrinya di luar pintu. “Bagaimana dia dokter….?” . Saya masih tidak tahu apa yang harus saya katakan pada istri pasien tadi. Kemudian dia berkata ” dokter , lakukan sesuatu untuk saya , tolong saya , saya memohon..”. “Apalagi yang bisa saya perbuat ?”. Suara saya pelan dalam sedikit kebingungan. ” Beri saya suntikan yang bisa membuat saya pergi bersamanya , saya memohon…..”. Tidak ada sepatah katapun keluar dari saya dalam keheningan . Saya dengar suara langkah kaki mendekat dan terdengar suara anak laki-lakinya , ” bagaimana ayahku ?” . Peristiwa ini kadang membuat saya ingin menangis saat teringat kembali perkataan anaknya saat itu , ” Kami telah memohon berulang kali untuk membiarkan kami menghabiskan waktu dengan ayah pada malam terakhirnya di dunia dan dokter tidak memberikan kesempatan itu..” Sebuah umur kematian yang diturunkan atau merupakan suatu stress psikologis terhadap angka 58 ?

I. 2. Rumusan Masalah

1. Apakah Psikologi Klinis dapat menjawab masalah kematian karena persepsi mengenai kematian?

2. Apakah ketakutan akan kematian menyebabkan stress?

3. Apakah ketakutan akan kematian mempengaruhi sistem imun?

I.3. Tujuan

Tujuan umum untuk menjelaskan penyebab dari kematian yang dialami oleh pasien tersebut.

I.4. Manfaat

1. Manfaat Praktis

Memberikan pengetahuan bahwa ketakutan akan kematian juga persepsi tentang kematian dapat menyebabkan stress bagi seseorang.

2. Manfaat Teoritis

Memberiakn gambaran fenomena nyata dan gambaran tentang pengaruh pemikiran akan kematian terhadap stress.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Stres dan Stresor

Dalam ilmu psikologi stres diartikan sebagai suatu kondisi kebutuhan tidak terpenuhi secara adekuat, sehingga menimbulkan adanya ketidakseimbangan. Taylor (1995) mendeskripsikan stres sebagai pengalaman emosional negatif disertai perubahan reaksi biokimiawi, fisiologis, kognitif dan perilaku yang bertujuan untuk mengubah atau menyesuaikan diri terhadap situasi yang menyebabkan stres.

Teori stres bermula dari penelitian Cannon (1929) yang kemudian diadopsi oleh Meyer (1951) yang melatih para dokter untuk menggunakan riwayat hidup penderita sebagai sarana diagnostik karena banyak dijumpai kejadian traumatik pada penderita yang menjadi penyebab penyakitnya.

Hans Selye (1956) dalam penelitiannya menggunakan stimulus untuk menimbulkan reaksi fisiologik yang ia sebut GAS (General Adaptation Syndrome). Menurut teorinya stresor fisik maupun psikologik akan mengakibatkan 3 tingkatan gejala adaptasi umum; tahap reaksi alarm (alarm reaction), resistensi (resistance) dan tahap kehabisan tenaga (exhaustion).

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres disebut stresor. Stresor dibedakan atas 3 golongan yaitu :

a. Stresor fisikbiologik : dingin, panas, infeksi, rasa nyeri, pukulan dan lain-lain.

b. Stresor psikologis : takut, khawatir, cemas, marah, kekecewaan, kesepian, jatuh cinta dan lain-lain.

c. Stresor sosial budaya : menganggur, perceraian, perselisihan dan lain-lain. Stres dapat mengenai semua orang dan semua usia.

Wheaton (1983) membedakan stres akut dan kronik sedangkan Holmes dan Rahe (1967) menekankan pembagian pada jumlah stres (total amount of change) yang dialami individu yang sangat berpengaruh terhadap efek psikologiknya. Ross dan Viowsky (1979) dalam penelitiannya berpendapat, bahwa bukan jumlah stres maupun beratnya stres yang mempunyai efek psikologik menonjol akan tetapi apakah stres tersebut diinginkan atau tidak diinginkan (undesirable) yang mempunyai potensi besar dalam menimbulkan efek psikologik. Stres baik ringan, sedang maupun berat dapatmenimbulkan perubahan fungsi fisiologis, kognitif, emosi dan perilaku

Sistem Kekebalan Tubuh

Keutuhan tubuh dipertahankan oleh sistem kekebalan tubuh yang terdiri atas sistem imun nonspesifik (natural /innate/ native) dan spesifik (adaptive / acquired).

Sistem imun nonspesifik

Sistem imun nonspesifik dapat memberikan respon langsung terhadap antigen, sistem ini disebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu. Komponen sistem imun nonspesifik terdiri atas pertahanan fisik dan mekanik, biokimiawi, humoral dan seluler.

Dalam sistem pertahanan fisik dan mekanik kulit, mukosa, silia saluran nafas, batuk dan bersin akan mencegah masuknya berbagai kuman patogen ke dalam tubuh. Adapun bahan yang disekresi mukosa saluran nafas, kelenjar sebaseus kulit, telinga, spermin dalam semen mengandung bahan yang berperan dalam pertahanan tubuh secara biokimiawi.

Pertahanan non spesifik humoral terdiri dari berbagai bahan seperti komplemen, interferon, fagosit (makrofag, neutrofil), tumor necrosis factor (TNF) dan C-Reactive protein (CRP). Komplemen berperan meningkatkan fagositosis (opsonisasi) dan mempermudah destruksi bakteri dan parasit. Interferon menyebabkan sel jaringan yang belum terinfeksi menjadi tahan virus. Di samping itu interferon dapat meningkatkan aktifitas sitotoksik Natural Killer Cell (sel NK). Sel yang terinfeksi virus atau menjadi ganas akan menunjukkan perubahan di permukaannya sehingga dikenali oleh sel NK yang kemudian Membunuhnya Natural Killer Cell (sel NK), adalah sel limfoid yang ditemukan dalam sirkulasi dan tidak mempunyai ciri sel limfoid dari sistem imun spesifik, sehingga disebut sel non B non T (sel NBNT) atau sel populasi ke tiga. Sel NK dapat menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel neoplasma.

Fagosit atau makrofag dan sel NK berperanan dalam sistem imun nonspesifik seluler. Dalam kerjanya sel fagosit juga berinteraksi dengan komplemen dan sistem imun spesifik. Penghancuran kuman terjadi dalam beberapa tingkat, yaitu kemotaksis, menangkap, memakan (fagositosis), membunuh dan mencerna.

Sistem imun spesifik

Sistem imun spesifik terdiri dari sistem imun spesifik humoral dan selular. Yang berperan dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B atau sel B yang jika dirangsang oleh benda asing akan berproliferasi menjadi sel plasma yang dapat membentuk antibodi (imunoglobulin). Selain itu juga berfungsi sebagai Antigen Presenting Cells (APC)

Sedangkan yang berperan dalam sistem imun spesifik selular adalah limfosit T atau sel T yang berfungsi sebagai regulator dan efektor. Fungsi regulasi terutama dilakukan oleh sel T helper (sel TH, CD4+) yang memproduksi sitokin seperti interleukin-4 (IL-4 dan IL-5) yang membantu sel B memproduksi antibodi, IL-2 yang mengaktivasi sel-sel CD4, CD8 dan IFN yang mengaktifkan makrofag. Fungsi efektor terutama dilakukan oleh sel T sitotoksik (CD 8) untuk membunuh sel-sel yang terinfeksi virus, sel-sel tumor, dan allograft. Fungsi efektor CD4+ adalah menjadi mediator reaksi hipersensitifitas tipe lambat pada organisme intraseluler seperti Mycobacterium tuberculosis.

Pada keadaan tidak homeostasis, bangkitnya respon imun ini dapat merugikan kesehatan, misal pada reaksi autoimun atau reaksi hipersensitifitas (alergi). Beberapa penyakit seperti diabetes melitus, sklerosis multipel, lupus, artritis rematoid termasuk contoh penyakit autoimun. Kondisi ini terjadi jika sistem imun disensitisasi oleh protein yang ada dalam tubuh kemudian menyerang jaringan yang mengandung protein tersebut.

III. Pembahasan

III. 1. Kerangka Konseptual Hipotesis

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Psikologi Klinis

Psikologi Kematian

Persepsi terhadap kematian

Stress

Penurunan Imun

Rentan terhadap kematian

Intervensi terhadap persepsi negatif akan kematian

Penurunan Stressor

Organization Chart<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

Jadi kerangka hipotesis yang dibangun berdasarkan teori dan konsep dari psikologi klinis. Psikologi klinis memiliki berbagai macam area dan fokus pembahasan kali ini berdasarkan perspektif sudut pandang psikologi kematian dan intervensi yang tepat untuk mengatasi masalah persepsi-persepsi dan belief yang tidak tepat mengenai kematian. Belief dan persepsi yang salah akan membaut orang tersebut menjadi distress dan stress yang berat tersebut akan membuatnya menajdi semakin lemah. Kelelahan yang dirasakan akan membuat sistem imun menjadi berkurang dan orang tersebut akan semakin rentan terhadap kematian.

III. 2. Metode Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah studi literatur, karena menjelaskan kaitan antara psikologi kematian dengan persepsi akan kematian yang menyebabkan stress dan menyebabkan seseorang menjadi rentan untuk meninggal. Penelitian ini menggunakan paradigam psikoneuroimunologi dan psikologi klinis yang semuanya mengarah ke pengaruh pikiran manusia dan faktor biologis. Fenomena diangkat dari 1 orang sampel dalam bentuk sebuah narasi yang kemudia dianalisis dengan menggunakan berbagai teori yang diambil dari buku, junral, dan literatur lainnya.

III. 3. Hasil

Peneliti telah mengumpulkan berbagai macam data dan mendapatkan sebuah hasil dari fenomena ini dan berkaitan dengan fenomena yang lainnya di mana ini merupakan hasil pengembangan dari konseptual hipotesis

Hubungan yang erat antara stress dan kematian dapat dilihat jelas pada sudden death syndrome , dimana individu yang kelihatannya sehat, mati mendadak dalam jangka waktu hitungan menit atau jam akibat suatu kejadian yang bermakna. WB Cannon (1942) menyebutnya sebagai voodoo death . Pada tahun 1965, Engel GL mengumpulkan 275 kasus kematian mendadak yang dimuat di surat kabar dan menganalisanya. Dalam pembagian menjadi 4 kategori penyebab , kematian paling banyak ( 135 kasus ) diakibatkan kejadian traumatik pada hubungan erat antar manusia, selanjutnya 103 kasus akibat suatu situasi yang membahayakan, pergulatan dan ’serangan’. Kemudian dilanjutkan dengan 21 kasus kematian akibat kehilangan status, harga diri , kegagalan ( semua ‘korban’ pada kategori ini adalah : laki-laki ), dan pada 16 kasus kematian terjadi saat ‘kemenangan besar’ atau ‘perasaan menyenangkan’. Namun dari kesemua kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa ‘korban’ mati mendadak akibat dihadapkan pada suatu kejadian yang tidak mungkin diabaikan, sangat mengganggu, tidak diharapkan, dengan kualitas dramatis pada

intensitas dan bersifat ireversibel atau menetap.

Besarnya pengaruh stress psikologis terhadap kematian sangatlah sulit bila akan dilakukan penelitian secara eksperimental karena terbentur masalah ethis, sehingga hubungan kedua hal tersebut banyak diteliti melalui pendekatan epidemiologi.
Philips DP , dkk, melakukan penelitian hubungan antara kematian dengan stress psikologis melalui studi epidemiologi dengan pendekatan fenomena kultural, yaitu suatu asosiasi yang tidak menyenangkan atau asosiasi negatif pada satu satu kelompok kultur ( China dan Jepang ) dengan kelompok kultur lain ( Amerika dan Eropa) terhadap simbol angka 4 dengan kematian. Dalam bahasa China, Kantonese dan Jepang kata ‘angka 4′ dan ‘mati’ dilafalkan hampir sama. Sehingga dalam kultur China dan Jepang angka 4 adalah tidak menyenangkan. Contoh beberapa konsekuensi hal tersebut adalah rumah sakit di China maupun Jepang tidak mencantumkan adanya lantai 4 maupun ruangan nomor 4. Pada kultur China dan Jepang pun dihindari untuk melakukan perjalanan pada tanggal 4. Dengan dasar tersebut dibuat hipotesa, bila memang angka 4 merupakan angka yang menimbulkan stress psikologis maka angka kematian akan mencapai puncak pada tanggal 4 pada kelompok kultur Jepang dan China dibandingkan kultur lainnya. Hasil penelitian cukup mencengangkan yaitu adanya puncak jumlah kematian pada orang China dan Jepang yang sebelumnya menderita sakit jantung pada tanggal 4 dibandingkan orang Amerika dan Eropa. Mengenai angka 13 dengan ‘mati’ tidak ada lafal pengucapan yang sama dalam kultur Amerika dan Eropa sehingga tidak ada peningkatan angka kematian pada tanggal tersebut.

Pengaruh stress psikologis awal bulan maupun awal hari kerja setiap minggu terhadap kematian juga telah diteliti oleh beberapa peneliti. Evans C , dkk melakukan penelitian berdasarkan data catatan kematian di Skotlandia antara tahun 1986 sampai 1995 yang meliputi 91.193 laki-laki dan 79.051 perempuan yang meninggal akibat penyakit jantung koroner. Didapatkan data adanya peningkatan kematian pada hari Senin akibat penyakit jantung koroner ( PJK) di luar rumah sakit pada orang -orang yang sebelumnya tidak pernah dirawat di rumah sakit akibat PJK. Penyebab peningkatan kematian tersebut kemungkinan disebabkan oleh peningkatan kebiasaan minum di akhir pekan atau juga akibat stress psikologis pekerjaan pada hari pertama kerja. Sedangkan pengaruh awal bulan terhadap peningkatan angka kesakitan dan kematian dapat disebabkan oleh beberapa kejadian yang tidak menyenangkan seperti stress psikologis akibat berbagai tagihan pembayaran . Penelitian Durkheim ( 1897 ) menunjukkan pula angka bunuh diri tinggi pada awal bulan dibandingkan akhir bulan . Shaner , dkk yang melakukan studi terhadap 105 orang veteran yang menderita skizofrenia menunjukkan adanya peningkatan angka perawatan rumah sakit pada awal bulan yang disebabkan karena penggunaan kokain, setelah mereka menerima tunjangan kecacatan dari pemerintah. Selain itu pula penyalahgunaan obat dan penggunaan kokain meningkatkan kejadian bunuh diri, pembunuhan maupun

kecelakaan lalu lintas.

Witte DR , dkk melakukan penelitian pengaruh besarnya stress psikologis pada pecandu sepakbola di Belanda pada saat dilakukan pertandingan antara kesebelasan Belanda melawan Prancis pada perempat final kejuaraan sepakbola Eropa 1996. Hasil pertandingan itu berakhir nol-nol meskipun memasuki waktu tambahan dan akhirnya dimenangkan oleh kesebelasan Perancis melalui adu Penalti. Sekitar 9.8 juta penduduk Belanda menyaksikan pertandingan tersebut. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa angka kematian akibat PJK maupun stroke meningkat pada laki-laki Belanda saat harus

dilakukannya pertandingan tersebut.

Penelitian lain menunjukkan hal sebaliknya yaitu besarnya pengaruh psikologis dalam menunda kematian. Penelitian yang dilakukan Phillips , dkk pada kultur China maupun kultur Yahudi menunjukkan adanya fenomena dip/peak angka kematian pada kejadian penting pada kehidupan seseorang. Penemuan itu menunjukkan bahwa seseorang dapat memperpanjang hidupnya sampai beberapa saat setelah kejadian penting dalam hidupnya seperti perayaan tertentu, hari ulang tahun ataupun pernikahan seseorang. Sering juga didapatkan suatu fenomena di rumah sakit seseorang yang koma sekian lama meninggal setelah semua orang yang begitu penting dalam hidupnya telah berkumpul di sampingnya. Diketahui pula bahwa Thomas Jefferson dan John Adams ( Presiden USA ) meninggal pada tanggal 4 Juli ( tanggal deklarasi kemerdekaan Amerika ). Adalah bukan suatu hal yang kebetulan bila kita mengetahui kata terakhir yang diucap Jefferson sebelum meninggal adalah menanyakan apakah hari itu tanggal 4 , seperti yang diceritakan oleh dokter pribadinya.

Dari beberapa hasil penelitian ini, kasus yang terjadi sudah dapat kita analisis bahwa pengaruh persepsi tentang kematian sangat mungkin dapat menyebabkan seseorang meninggal. Orang tersebut mengalami stress karena ia selalu berpikir bahwa ia akan mati saat usia 58 tahun, persepsi yang selalu ia bawa tersebut membuatnya semakin menjadi takut dan khawatir akan kematian yang akan ia hadapi tidak lama lagi jadi sewaktu itu imun sistem di dalam tubuhnya menjadi semakin rentan. Stress yang ia alami telah menjadi distress karena ia sangat takut sekali akan kematian dan ia sangat yakin bahwa ia akan mati saat usia 58 tahun sama seperti kakaknya. Orang tersebut tidak dapat beradaptasi dengan stress yang ia hadapi dan ia mengalami kelelahan. Akibat dari kelelahan tersebut sistem imun di dalam tubuhnya semakin lemah dan penyakit yang sudah ada membuatnya semakin parah. Saat itu ia menjadi rentan sekali untuk mengahdapi kematian karena bisa diakibatkan sistem imunnya yang berkurang secara drastis dan membuatnya tidak memiliki sistem pertahan tubuh.

Letak pengaruh psikolohi klini adalah dengan mealkukan dukungan secara emosional kepada pihak diri pasien dan lingkungannya. Lingkungan juga menjadi penentu semakin menguatnya stressor dan meringankan stress yang dihadapi oleh seseorang (Lutgendrof & Costanzo, 2002). Dari kasus ini sangat tergambarkan bahwa lingkungan yaitu istrinya juga memiliki pikiran yang sama sehingga tidak dapat saling mendukung. Hal itu yang membuat suaminya semakin drop karena tidak adanya dukungan dari istrinya. Peran dari praktisi piskologi klinis adalah memberikan intervensi terhadap suaminay seperti dukungan sosial maupun pengubahan pola pikir yaitu dengan terapi kognitif pasien dan keluarganya.

Psikologi klinis dalam psikoneuroimmunologi memiliki peran yang cukup signifikan bila dilihat dari satu segi psikologi kematian saja juga dapat memberikan efek yang besar bagi kemajuan kualitas hidup seseorang. Pengembangan dari intervensi-intervensi yang dilakukan bisa lebih dikembangkan seperti hipnosis, psikoterapi dan masih banyak lagi akan sangat memmbantu proses daripada terapi dan mengembangkan keilmuwan.

IV. PENUTUP

IV. 1. Kesimpulan

Dari hasil-hasil yang didapat maka peniliti dapat menyimpulkan bahwa peran dari psikologi klinis dalam mengatasi permasalah stress yang memiliki dampak pada sistem imun tubuh memiliki pengaruh yang cukup kuat terutama dalam intervensi klinis yang dapat dilakukan selain itu persepsi seseorang tentang kematian baik maupun buruk memiliki dampak terhadap stress yang dihadapi karena ketika seseorang memiliki pikiran kematian yang memberatkannnya maka itu menjadi distress bagi dirinya dan mengakibatkan dia mengalami penuruanan sistem imun dan menjadikkannya semakin lemah dan rentan untuk meninggal.

V. 2. Saran

Saran lebih tepat ditujukan kepada setiap psikolog dan dokter yang selalu berhubungan dengan pasien supaya merekadapat dengan tanggap untuk menangani fenomena yang sering terjadi di dalam masyarakat kita terutama yang masih kurang rasionalis dalam berpikir. Psikolog dan dokter harus segera memberikan intervensi kepada pihak pasien dan keluargnya supaya mereka tidak bertahan di dalam pikiran yang irasional tetapi dapat mengubah pola pikirnya sehingga tidak menghadpi stress yang berat dan tidak menggangu fungsi hdup juga kematian dapat dihindarkan.

V. DAFTAR PUSTAKA


1. Pelletier KR. Stress : Etiology, assessment, and management in holistic medicine. In :
Selye H ( ed ). Selye’s Guide to stress research. New York 1983 . Van Nostrand Reinhold Co. p. 43-75
2. Konotey- Ahulu. The suprascientific in clinical medicine : a challenge for professor Know All. BMJ 2001 : 323: 1452-3
3. Phillips DP, Liu GC, Kwok K, Jarvinen JR, Zhang W, Abramson IS. The Hound of Baskervilles effect : natural experiment on the influence of psychological stress on timing of death. BMJ 2001 : 323 ; 1443 – 6.
4. Phillips DP, King EW. Death takes holiday : mortality surrounding major social occasions. The Lancet 1988 ; September : 728 – 32.
5. Phillips DP, Smith DG. Postponement of death until symbolically meaningful occasions. JAMA 1990 ; 263 :1947 – 51
6. Evans C, Chalmers J, Capewell S, Redpath A, Finlayson A, et al. ” I don’t like Mondays” – day of the week of coronary heart disease deaths in Scotland: study of routinely collected data. BMJ 2000 ; 320 : 218- 9
7. Witte DR, Bots ML, Hoes AW, Grobbee DE. Cardiovascular mortality in Dutch men during 1996 European football championship: longitudinal population study. BMJ 2000; 321 : 1552-4
8. Samuels MA. Neurogenic heart and lung disease. Available on : CD Room AAN 2002.
9. Phillips DP, Christenfeld N, Ryan NM. An Increase in the number of deaths in the united states in the first week of the month. N Eng J Med 1999; 341 : 93-8
10. Shaner A, Eckman TA, Roberts LJ, et al. Disability income , cocaine use, and repeated hospitalization among schizophrenic cocaine abusers: a government -sponsored revolving door. N Eng J Med 1995 ; 333: 777-83
11. Lerner BH. Can stress cause disease? Revisiting the tuberculosis research of Thomas Holmes, 1949-1961. Ann Intern Med 1996 ; 124 : 673-680.

Komentar bertahan »