I. PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Psikologi Klinis adalah suatu cabang ilmu psikologi yang membahas mengenai integrasi antara science, teori dan praktek untuk memahami, memprediksi, dan mengatasi masalah adjustment, disability, dan discomfort menuju pada peningkatan human adaptation & personal development. Psikologi klinis merupakan cabang ilmu yang bersusaha untuk melihat keterkaitan antara bilogis, sosial dan psikologis terhadap kesehatan individu.
Psikologi klinis memiliki banyak sekali area yang menjadi lingkup bahasannya antara lain anak, remaja, lansia, forensik, kesehatan, dan masih banyak lagi. tetapi pada makalah ini saya akan lebih menyoroti ke psychology of dying. Area ini menjadi kurang populer untuk saat ini karena pembahasannya berhubungan dengan bagaimana kondisi psikologi orang yang akan menghadapi kematian. Ilmu ini sudah mulai jarang diajarkan di fakultas-fakultas psikologi karena banyak bersentuhan dengan kematian dan sulit sekali untuk melakukan penelitian terhadap hal ini. Saya rasa di tengah berbagai tekanan yang dihadapi munculnya kasu-kasu mengenai kematian semakin menarik. Saya bersuaha melihat kondisi kematian terhadap stress dan penurunan fungsi imun tubuh.
Ada semacam fenomena peningkatan angka kematian pada tanggal, minggu, maupun musim tertentu yang biasanya dihubungkan dengan berbagai situasi yang melatarbelakanginya, seperti kematian akibat influenza pada musim winter, kematian akibat kecelakaan lalulintas pada liburan akhir pekan, kematian akibat serangan jantung pada hari Senin dan bahkan kematian pada jam tertentu setiap hari ( siklus sirkadian ) . Peningkatan kematian yang terpola sesuai keadaan tertentu dapat berhubungan dengan fluktuasi proses alami ( seperti perubahan siklus tahunan ) atau berhubungan dengan masalah sosiokultural ( seperti : perubahan aktivitas antara kerja harian dan liburan akhir pekan).
Telah diketahui pula bahwa stress psikologis dapat mempengaruhi kesehatan bahkan sampai kematian seseorang. Mekanisme komplek mengenai hal ini banyak dibahas pada bidang psikoneuroimunologi. Dalam sepanjang sejarah epidemiologi , para peneliti telah juga memperhatikan banyak faktor yang cukup luas , namun difokuskan pada pengaruh fisik , kimia, dan biologi lingkungan dan efek faktor sosio-kultural yang negatif terhadap kematian , seperti kehilangan orang yang dikasihi , kehilangan pekerjaan dan perceraian. Namun disatu sisi kejadian yang sangat berarti bagi individu dapat menunda proses kematian beberapa saat, seperti seseorang yang dalam keadaan kritis mungkin memasuki fase ‘tawar-menawar’ dengan Tuhan untuk tetap hidup sampai pernikahan anaknya.
Sebuah cerita pengalaman seorang dokter di rumah sakit yang pernah dimuat di BMJ mungkin dapat menggambarkan betapa besar pengaruh ‘stress psikologis’
terhadap kematian.
Seorang pasien laki-laki usia 58 tahun , pedagang India yang bekerja di Afrika datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dada . Istri dan anaknya yang berusia 35 tahun bersama pasien tadi saat pemeriksaan elektrokardiografi menunjukkan adanya infark miokard posterior . Pasien ini sangat percaya bahwa dirinya akan meninggal hari itu. Sebelum terapi diberikan, dia berkata , “dokter , anda tahu usia saya 58 tahun . Kakak saya meninggal 3 tahun lalu pada usia 58 tahun, bibi saya juga meninggal pada usia 58 tahun dan …..,” saya memotong pembicaraan , sambil berpikir sejenak , betapa hebatnya ‘takhyul’ merasuki ilmu kedokteran. ” Anda tidak akan mati , tuan. Anda hanya membutuhkan tidur malam yang nyenyak. Silahkan katakan selamat malam pada anak dan istri anda” . ” ….dan kakak sayapun meninggal akibat sakit jantung, usianya 58 tahun dan …..,” Pasien tadi tetap meneruskan pembicaraannya. Setelah itu saya mengantar istri dan anaknya meninggalkan ruangan perawatan intensif. Istrinya meminta saya untuk memberikan ijin menemani suaminya sepanjang malam, namun kebijaksanaan rumah sakit tidak memungkinkan keluarga untuk tidur di dalam ruang perawatan intensif. Anaknya pun sekali lagi meminta kepada saya mengijinkan ibunya untuk tinggal, tapi secara sopan saya menolak permintaan itu dan mengantar mereka keluar ruang perawatan pada jam 11 malam. Pada jam 5.15 pagi, sekitar 6 jam setelah saya meninggalkan ruang perawatan intensif , telepon berdering. ” Dokter…..,” suara suster yang gelisah, ” kondisi pasien anda berubah “. Ini perkataan eufimisme untuk menyatakan pasien telah meninggal. Saya memastikan bahwa kematian memang telah terjadi saat mendengar jeritan tangis istrinya di luar pintu. “Bagaimana dia dokter….?” . Saya masih tidak tahu apa yang harus saya katakan pada istri pasien tadi. Kemudian dia berkata ” dokter , lakukan sesuatu untuk saya , tolong saya , saya memohon..”. “Apalagi yang bisa saya perbuat ?”. Suara saya pelan dalam sedikit kebingungan. ” Beri saya suntikan yang bisa membuat saya pergi bersamanya , saya memohon…..”. Tidak ada sepatah katapun keluar dari saya dalam keheningan . Saya dengar suara langkah kaki mendekat dan terdengar suara anak laki-lakinya , ” bagaimana ayahku ?” . Peristiwa ini kadang membuat saya ingin menangis saat teringat kembali perkataan anaknya saat itu , ” Kami telah memohon berulang kali untuk membiarkan kami menghabiskan waktu dengan ayah pada malam terakhirnya di dunia dan dokter tidak memberikan kesempatan itu..” Sebuah umur kematian yang diturunkan atau merupakan suatu stress psikologis terhadap angka 58 ?
I. 2. Rumusan Masalah
1. Apakah Psikologi Klinis dapat menjawab masalah kematian karena persepsi mengenai kematian?
2. Apakah ketakutan akan kematian menyebabkan stress?
3. Apakah ketakutan akan kematian mempengaruhi sistem imun?
I.3. Tujuan
Tujuan umum untuk menjelaskan penyebab dari kematian yang dialami oleh pasien tersebut.
I.4. Manfaat
1. Manfaat Praktis
Memberikan pengetahuan bahwa ketakutan akan kematian juga persepsi tentang kematian dapat menyebabkan stress bagi seseorang.
2. Manfaat Teoritis
Memberiakn gambaran fenomena nyata dan gambaran tentang pengaruh pemikiran akan kematian terhadap stress.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Stres dan Stresor
Dalam ilmu psikologi stres diartikan sebagai suatu kondisi kebutuhan tidak terpenuhi secara adekuat, sehingga menimbulkan adanya ketidakseimbangan. Taylor (1995) mendeskripsikan stres sebagai pengalaman emosional negatif disertai perubahan reaksi biokimiawi, fisiologis, kognitif dan perilaku yang bertujuan untuk mengubah atau menyesuaikan diri terhadap situasi yang menyebabkan stres.
Teori stres bermula dari penelitian Cannon (1929) yang kemudian diadopsi oleh Meyer (1951) yang melatih para dokter untuk menggunakan riwayat hidup penderita sebagai sarana diagnostik karena banyak dijumpai kejadian traumatik pada penderita yang menjadi penyebab penyakitnya.
Hans Selye (1956) dalam penelitiannya menggunakan stimulus untuk menimbulkan reaksi fisiologik yang ia sebut GAS (General Adaptation Syndrome). Menurut teorinya stresor fisik maupun psikologik akan mengakibatkan 3 tingkatan gejala adaptasi umum; tahap reaksi alarm (alarm reaction), resistensi (resistance) dan tahap kehabisan tenaga (exhaustion).
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres disebut stresor. Stresor dibedakan atas 3 golongan yaitu :
a. Stresor fisikbiologik : dingin, panas, infeksi, rasa nyeri, pukulan dan lain-lain.
b. Stresor psikologis : takut, khawatir, cemas, marah, kekecewaan, kesepian, jatuh cinta dan lain-lain.
c. Stresor sosial budaya : menganggur, perceraian, perselisihan dan lain-lain. Stres dapat mengenai semua orang dan semua usia.
Wheaton (1983) membedakan stres akut dan kronik sedangkan Holmes dan Rahe (1967) menekankan pembagian pada jumlah stres (total amount of change) yang dialami individu yang sangat berpengaruh terhadap efek psikologiknya. Ross dan Viowsky (1979) dalam penelitiannya berpendapat, bahwa bukan jumlah stres maupun beratnya stres yang mempunyai efek psikologik menonjol akan tetapi apakah stres tersebut diinginkan atau tidak diinginkan (undesirable) yang mempunyai potensi besar dalam menimbulkan efek psikologik. Stres baik ringan, sedang maupun berat dapatmenimbulkan perubahan fungsi fisiologis, kognitif, emosi dan perilaku
Sistem Kekebalan Tubuh
Keutuhan tubuh dipertahankan oleh sistem kekebalan tubuh yang terdiri atas sistem imun nonspesifik (natural /innate/ native) dan spesifik (adaptive / acquired).
Sistem imun nonspesifik
Sistem imun nonspesifik dapat memberikan respon langsung terhadap antigen, sistem ini disebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu. Komponen sistem imun nonspesifik terdiri atas pertahanan fisik dan mekanik, biokimiawi, humoral dan seluler.
Dalam sistem pertahanan fisik dan mekanik kulit, mukosa, silia saluran nafas, batuk dan bersin akan mencegah masuknya berbagai kuman patogen ke dalam tubuh. Adapun bahan yang disekresi mukosa saluran nafas, kelenjar sebaseus kulit, telinga, spermin dalam semen mengandung bahan yang berperan dalam pertahanan tubuh secara biokimiawi.
Pertahanan non spesifik humoral terdiri dari berbagai bahan seperti komplemen, interferon, fagosit (makrofag, neutrofil), tumor necrosis factor (TNF) dan C-Reactive protein (CRP). Komplemen berperan meningkatkan fagositosis (opsonisasi) dan mempermudah destruksi bakteri dan parasit. Interferon menyebabkan sel jaringan yang belum terinfeksi menjadi tahan virus. Di samping itu interferon dapat meningkatkan aktifitas sitotoksik Natural Killer Cell (sel NK). Sel yang terinfeksi virus atau menjadi ganas akan menunjukkan perubahan di permukaannya sehingga dikenali oleh sel NK yang kemudian Membunuhnya Natural Killer Cell (sel NK), adalah sel limfoid yang ditemukan dalam sirkulasi dan tidak mempunyai ciri sel limfoid dari sistem imun spesifik, sehingga disebut sel non B non T (sel NBNT) atau sel populasi ke tiga. Sel NK dapat menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel neoplasma.
Fagosit atau makrofag dan sel NK berperanan dalam sistem imun nonspesifik seluler. Dalam kerjanya sel fagosit juga berinteraksi dengan komplemen dan sistem imun spesifik. Penghancuran kuman terjadi dalam beberapa tingkat, yaitu kemotaksis, menangkap, memakan (fagositosis), membunuh dan mencerna.
Sistem imun spesifik
Sistem imun spesifik terdiri dari sistem imun spesifik humoral dan selular. Yang berperan dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B atau sel B yang jika dirangsang oleh benda asing akan berproliferasi menjadi sel plasma yang dapat membentuk antibodi (imunoglobulin). Selain itu juga berfungsi sebagai Antigen Presenting Cells (APC)
Sedangkan yang berperan dalam sistem imun spesifik selular adalah limfosit T atau sel T yang berfungsi sebagai regulator dan efektor. Fungsi regulasi terutama dilakukan oleh sel T helper (sel TH, CD4+) yang memproduksi sitokin seperti interleukin-4 (IL-4 dan IL-5) yang membantu sel B memproduksi antibodi, IL-2 yang mengaktivasi sel-sel CD4, CD8 dan IFN yang mengaktifkan makrofag. Fungsi efektor terutama dilakukan oleh sel T sitotoksik (CD 8) untuk membunuh sel-sel yang terinfeksi virus, sel-sel tumor, dan allograft. Fungsi efektor CD4+ adalah menjadi mediator reaksi hipersensitifitas tipe lambat pada organisme intraseluler seperti Mycobacterium tuberculosis.
Pada keadaan tidak homeostasis, bangkitnya respon imun ini dapat merugikan kesehatan, misal pada reaksi autoimun atau reaksi hipersensitifitas (alergi). Beberapa penyakit seperti diabetes melitus, sklerosis multipel, lupus, artritis rematoid termasuk contoh penyakit autoimun. Kondisi ini terjadi jika sistem imun disensitisasi oleh protein yang ada dalam tubuh kemudian menyerang jaringan yang mengandung protein tersebut.
III. Pembahasan
III. 1. Kerangka Konseptual Hipotesis
<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>
|
Psikologi Klinis |
|
Psikologi Kematian |
|
Persepsi terhadap kematian |
|
Stress |
|
Penurunan Imun |
|
Rentan terhadap kematian |
|
Intervensi terhadap persepsi negatif akan kematian |
|
Penurunan Stressor |
<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>
Jadi kerangka hipotesis yang dibangun berdasarkan teori dan konsep dari psikologi klinis. Psikologi klinis memiliki berbagai macam area dan fokus pembahasan kali ini berdasarkan perspektif sudut pandang psikologi kematian dan intervensi yang tepat untuk mengatasi masalah persepsi-persepsi dan belief yang tidak tepat mengenai kematian. Belief dan persepsi yang salah akan membaut orang tersebut menjadi distress dan stress yang berat tersebut akan membuatnya menajdi semakin lemah. Kelelahan yang dirasakan akan membuat sistem imun menjadi berkurang dan orang tersebut akan semakin rentan terhadap kematian.
III. 2. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah studi literatur, karena menjelaskan kaitan antara psikologi kematian dengan persepsi akan kematian yang menyebabkan stress dan menyebabkan seseorang menjadi rentan untuk meninggal. Penelitian ini menggunakan paradigam psikoneuroimunologi dan psikologi klinis yang semuanya mengarah ke pengaruh pikiran manusia dan faktor biologis. Fenomena diangkat dari 1 orang sampel dalam bentuk sebuah narasi yang kemudia dianalisis dengan menggunakan berbagai teori yang diambil dari buku, junral, dan literatur lainnya.
III. 3. Hasil
Peneliti telah mengumpulkan berbagai macam data dan mendapatkan sebuah hasil dari fenomena ini dan berkaitan dengan fenomena yang lainnya di mana ini merupakan hasil pengembangan dari konseptual hipotesis
Hubungan yang erat antara stress dan kematian dapat dilihat jelas pada sudden death syndrome , dimana individu yang kelihatannya sehat, mati mendadak dalam jangka waktu hitungan menit atau jam akibat suatu kejadian yang bermakna. WB Cannon (1942) menyebutnya sebagai voodoo death . Pada tahun 1965, Engel GL mengumpulkan 275 kasus kematian mendadak yang dimuat di surat kabar dan menganalisanya. Dalam pembagian menjadi 4 kategori penyebab , kematian paling banyak ( 135 kasus ) diakibatkan kejadian traumatik pada hubungan erat antar manusia, selanjutnya 103 kasus akibat suatu situasi yang membahayakan, pergulatan dan ‘serangan’. Kemudian dilanjutkan dengan 21 kasus kematian akibat kehilangan status, harga diri , kegagalan ( semua ‘korban’ pada kategori ini adalah : laki-laki ), dan pada 16 kasus kematian terjadi saat ‘kemenangan besar’ atau ‘perasaan menyenangkan’. Namun dari kesemua kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa ‘korban’ mati mendadak akibat dihadapkan pada suatu kejadian yang tidak mungkin diabaikan, sangat mengganggu, tidak diharapkan, dengan kualitas dramatis pada
intensitas dan bersifat ireversibel atau menetap.
Besarnya pengaruh stress psikologis terhadap kematian sangatlah sulit bila akan dilakukan penelitian secara eksperimental karena terbentur masalah ethis, sehingga hubungan kedua hal tersebut banyak diteliti melalui pendekatan epidemiologi.
Philips DP , dkk, melakukan penelitian hubungan antara kematian dengan stress psikologis melalui studi epidemiologi dengan pendekatan fenomena kultural, yaitu suatu asosiasi yang tidak menyenangkan atau asosiasi negatif pada satu satu kelompok kultur ( China dan Jepang ) dengan kelompok kultur lain ( Amerika dan Eropa) terhadap simbol angka 4 dengan kematian. Dalam bahasa China, Kantonese dan Jepang kata ‘angka 4′ dan ‘mati’ dilafalkan hampir sama. Sehingga dalam kultur China dan Jepang angka 4 adalah tidak menyenangkan. Contoh beberapa konsekuensi hal tersebut adalah rumah sakit di China maupun Jepang tidak mencantumkan adanya lantai 4 maupun ruangan nomor 4. Pada kultur China dan Jepang pun dihindari untuk melakukan perjalanan pada tanggal 4. Dengan dasar tersebut dibuat hipotesa, bila memang angka 4 merupakan angka yang menimbulkan stress psikologis maka angka kematian akan mencapai puncak pada tanggal 4 pada kelompok kultur Jepang dan China dibandingkan kultur lainnya. Hasil penelitian cukup mencengangkan yaitu adanya puncak jumlah kematian pada orang China dan Jepang yang sebelumnya menderita sakit jantung pada tanggal 4 dibandingkan orang Amerika dan Eropa. Mengenai angka 13 dengan ‘mati’ tidak ada lafal pengucapan yang sama dalam kultur Amerika dan Eropa sehingga tidak ada peningkatan angka kematian pada tanggal tersebut.
Pengaruh stress psikologis awal bulan maupun awal hari kerja setiap minggu terhadap kematian juga telah diteliti oleh beberapa peneliti. Evans C , dkk melakukan penelitian berdasarkan data catatan kematian di Skotlandia antara tahun 1986 sampai 1995 yang meliputi 91.193 laki-laki dan 79.051 perempuan yang meninggal akibat penyakit jantung koroner. Didapatkan data adanya peningkatan kematian pada hari Senin akibat penyakit jantung koroner ( PJK) di luar rumah sakit pada orang -orang yang sebelumnya tidak pernah dirawat di rumah sakit akibat PJK. Penyebab peningkatan kematian tersebut kemungkinan disebabkan oleh peningkatan kebiasaan minum di akhir pekan atau juga akibat stress psikologis pekerjaan pada hari pertama kerja. Sedangkan pengaruh awal bulan terhadap peningkatan angka kesakitan dan kematian dapat disebabkan oleh beberapa kejadian yang tidak menyenangkan seperti stress psikologis akibat berbagai tagihan pembayaran . Penelitian Durkheim ( 1897 ) menunjukkan pula angka bunuh diri tinggi pada awal bulan dibandingkan akhir bulan . Shaner , dkk yang melakukan studi terhadap 105 orang veteran yang menderita skizofrenia menunjukkan adanya peningkatan angka perawatan rumah sakit pada awal bulan yang disebabkan karena penggunaan kokain, setelah mereka menerima tunjangan kecacatan dari pemerintah. Selain itu pula penyalahgunaan obat dan penggunaan kokain meningkatkan kejadian bunuh diri, pembunuhan maupun
kecelakaan lalu lintas.
Witte DR , dkk melakukan penelitian pengaruh besarnya stress psikologis pada pecandu sepakbola di Belanda pada saat dilakukan pertandingan antara kesebelasan Belanda melawan Prancis pada perempat final kejuaraan sepakbola Eropa 1996. Hasil pertandingan itu berakhir nol-nol meskipun memasuki waktu tambahan dan akhirnya dimenangkan oleh kesebelasan Perancis melalui adu Penalti. Sekitar 9.8 juta penduduk Belanda menyaksikan pertandingan tersebut. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa angka kematian akibat PJK maupun stroke meningkat pada laki-laki Belanda saat harus
dilakukannya pertandingan tersebut.
Penelitian lain menunjukkan hal sebaliknya yaitu besarnya pengaruh psikologis dalam menunda kematian. Penelitian yang dilakukan Phillips , dkk pada kultur China maupun kultur Yahudi menunjukkan adanya fenomena dip/peak angka kematian pada kejadian penting pada kehidupan seseorang. Penemuan itu menunjukkan bahwa seseorang dapat memperpanjang hidupnya sampai beberapa saat setelah kejadian penting dalam hidupnya seperti perayaan tertentu, hari ulang tahun ataupun pernikahan seseorang. Sering juga didapatkan suatu fenomena di rumah sakit seseorang yang koma sekian lama meninggal setelah semua orang yang begitu penting dalam hidupnya telah berkumpul di sampingnya. Diketahui pula bahwa Thomas Jefferson dan John Adams ( Presiden USA ) meninggal pada tanggal 4 Juli ( tanggal deklarasi kemerdekaan Amerika ). Adalah bukan suatu hal yang kebetulan bila kita mengetahui kata terakhir yang diucap Jefferson sebelum meninggal adalah menanyakan apakah hari itu tanggal 4 , seperti yang diceritakan oleh dokter pribadinya.
Dari beberapa hasil penelitian ini, kasus yang terjadi sudah dapat kita analisis bahwa pengaruh persepsi tentang kematian sangat mungkin dapat menyebabkan seseorang meninggal. Orang tersebut mengalami stress karena ia selalu berpikir bahwa ia akan mati saat usia 58 tahun, persepsi yang selalu ia bawa tersebut membuatnya semakin menjadi takut dan khawatir akan kematian yang akan ia hadapi tidak lama lagi jadi sewaktu itu imun sistem di dalam tubuhnya menjadi semakin rentan. Stress yang ia alami telah menjadi distress karena ia sangat takut sekali akan kematian dan ia sangat yakin bahwa ia akan mati saat usia 58 tahun sama seperti kakaknya. Orang tersebut tidak dapat beradaptasi dengan stress yang ia hadapi dan ia mengalami kelelahan. Akibat dari kelelahan tersebut sistem imun di dalam tubuhnya semakin lemah dan penyakit yang sudah ada membuatnya semakin parah. Saat itu ia menjadi rentan sekali untuk mengahdapi kematian karena bisa diakibatkan sistem imunnya yang berkurang secara drastis dan membuatnya tidak memiliki sistem pertahan tubuh.
Letak pengaruh psikolohi klini adalah dengan mealkukan dukungan secara emosional kepada pihak diri pasien dan lingkungannya. Lingkungan juga menjadi penentu semakin menguatnya stressor dan meringankan stress yang dihadapi oleh seseorang (Lutgendrof & Costanzo, 2002). Dari kasus ini sangat tergambarkan bahwa lingkungan yaitu istrinya juga memiliki pikiran yang sama sehingga tidak dapat saling mendukung. Hal itu yang membuat suaminya semakin drop karena tidak adanya dukungan dari istrinya. Peran dari praktisi piskologi klinis adalah memberikan intervensi terhadap suaminay seperti dukungan sosial maupun pengubahan pola pikir yaitu dengan terapi kognitif pasien dan keluarganya.
Psikologi klinis dalam psikoneuroimmunologi memiliki peran yang cukup signifikan bila dilihat dari satu segi psikologi kematian saja juga dapat memberikan efek yang besar bagi kemajuan kualitas hidup seseorang. Pengembangan dari intervensi-intervensi yang dilakukan bisa lebih dikembangkan seperti hipnosis, psikoterapi dan masih banyak lagi akan sangat memmbantu proses daripada terapi dan mengembangkan keilmuwan.
IV. PENUTUP
IV. 1. Kesimpulan
Dari hasil-hasil yang didapat maka peniliti dapat menyimpulkan bahwa peran dari psikologi klinis dalam mengatasi permasalah stress yang memiliki dampak pada sistem imun tubuh memiliki pengaruh yang cukup kuat terutama dalam intervensi klinis yang dapat dilakukan selain itu persepsi seseorang tentang kematian baik maupun buruk memiliki dampak terhadap stress yang dihadapi karena ketika seseorang memiliki pikiran kematian yang memberatkannnya maka itu menjadi distress bagi dirinya dan mengakibatkan dia mengalami penuruanan sistem imun dan menjadikkannya semakin lemah dan rentan untuk meninggal.
V. 2. Saran
Saran lebih tepat ditujukan kepada setiap psikolog dan dokter yang selalu berhubungan dengan pasien supaya merekadapat dengan tanggap untuk menangani fenomena yang sering terjadi di dalam masyarakat kita terutama yang masih kurang rasionalis dalam berpikir. Psikolog dan dokter harus segera memberikan intervensi kepada pihak pasien dan keluargnya supaya mereka tidak bertahan di dalam pikiran yang irasional tetapi dapat mengubah pola pikirnya sehingga tidak menghadpi stress yang berat dan tidak menggangu fungsi hdup juga kematian dapat dihindarkan.
V. DAFTAR PUSTAKA
1. Pelletier KR. Stress : Etiology, assessment, and management in holistic medicine. In : Selye H ( ed ). Selye’s Guide to stress research. New York 1983 . Van Nostrand Reinhold Co. p. 43-75
2. Konotey- Ahulu. The suprascientific in clinical medicine : a challenge for professor Know All. BMJ 2001 : 323: 1452-3
3. Phillips DP, Liu GC, Kwok K, Jarvinen JR, Zhang W, Abramson IS. The Hound of Baskervilles effect : natural experiment on the influence of psychological stress on timing of death. BMJ 2001 : 323 ; 1443 – 6.
4. Phillips DP, King EW. Death takes holiday : mortality surrounding major social occasions. The Lancet 1988 ; September : 728 – 32.
5. Phillips DP, Smith DG. Postponement of death until symbolically meaningful occasions. JAMA 1990 ; 263 :1947 – 51
6. Evans C, Chalmers J, Capewell S, Redpath A, Finlayson A, et al. ” I don’t like Mondays” – day of the week of coronary heart disease deaths in Scotland: study of routinely collected data. BMJ 2000 ; 320 : 218- 9
7. Witte DR, Bots ML, Hoes AW, Grobbee DE. Cardiovascular mortality in Dutch men during 1996 European football championship: longitudinal population study. BMJ 2000; 321 : 1552-4
8. Samuels MA. Neurogenic heart and lung disease. Available on : CD Room AAN 2002.
9. Phillips DP, Christenfeld N, Ryan NM. An Increase in the number of deaths in the united states in the first week of the month. N Eng J Med 1999; 341 : 93-8
10. Shaner A, Eckman TA, Roberts LJ, et al. Disability income , cocaine use, and repeated hospitalization among schizophrenic cocaine abusers: a government -sponsored revolving door. N Eng J Med 1995 ; 333: 777-83
11. Lerner BH. Can stress cause disease? Revisiting the tuberculosis research of Thomas Holmes, 1949-1961. Ann Intern Med 1996 ; 124 : 673-680.
