Archive for Juli, 2008


I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Psikologi Klinis adalah suatu cabang ilmu psikologi yang membahas mengenai integrasi antara science, teori dan praktek untuk memahami, memprediksi, dan mengatasi masalah adjustment, disability, dan discomfort menuju pada peningkatan human adaptation & personal development. Psikologi klinis merupakan cabang ilmu yang bersusaha untuk melihat keterkaitan antara bilogis, sosial dan psikologis terhadap kesehatan individu.

Psikologi klinis memiliki banyak sekali area yang menjadi lingkup bahasannya antara lain anak, remaja, lansia, forensik, kesehatan, dan masih banyak lagi. tetapi pada makalah ini saya akan lebih menyoroti ke psychology of dying. Area ini menjadi kurang populer untuk saat ini karena pembahasannya berhubungan dengan bagaimana kondisi psikologi orang yang akan menghadapi kematian. Ilmu ini sudah mulai jarang diajarkan di fakultas-fakultas psikologi karena banyak bersentuhan dengan kematian dan sulit sekali untuk melakukan penelitian terhadap hal ini. Saya rasa di tengah berbagai tekanan yang dihadapi munculnya kasu-kasu mengenai kematian semakin menarik. Saya bersuaha melihat kondisi kematian terhadap stress dan penurunan fungsi imun tubuh.

Ada semacam fenomena peningkatan angka kematian pada tanggal, minggu, maupun musim tertentu yang biasanya dihubungkan dengan berbagai situasi yang melatarbelakanginya, seperti kematian akibat influenza pada musim winter, kematian akibat kecelakaan lalulintas pada liburan akhir pekan, kematian akibat serangan jantung pada hari Senin dan bahkan kematian pada jam tertentu setiap hari ( siklus sirkadian ) . Peningkatan kematian yang terpola sesuai keadaan tertentu dapat berhubungan dengan fluktuasi proses alami ( seperti perubahan siklus tahunan ) atau berhubungan dengan masalah sosiokultural ( seperti : perubahan aktivitas antara kerja harian dan liburan akhir pekan).
Telah diketahui pula bahwa stress psikologis dapat mempengaruhi kesehatan bahkan sampai kematian seseorang.
Mekanisme komplek mengenai hal ini banyak dibahas pada bidang psikoneuroimunologi. Dalam sepanjang sejarah epidemiologi , para peneliti telah juga memperhatikan banyak faktor yang cukup luas , namun difokuskan pada pengaruh fisik , kimia, dan biologi lingkungan dan efek faktor sosio-kultural yang negatif terhadap kematian , seperti kehilangan orang yang dikasihi , kehilangan pekerjaan dan perceraian. Namun disatu sisi kejadian yang sangat berarti bagi individu dapat menunda proses kematian beberapa saat, seperti seseorang yang dalam keadaan kritis mungkin memasuki fase ‘tawar-menawar’ dengan Tuhan untuk tetap hidup sampai pernikahan anaknya.

Sebuah cerita pengalaman seorang dokter di rumah sakit yang pernah dimuat di BMJ mungkin dapat menggambarkan betapa besar pengaruh ‘stress psikologis’

terhadap kematian.

Seorang pasien laki-laki usia 58 tahun , pedagang India yang bekerja di Afrika datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri dada . Istri dan anaknya yang berusia 35 tahun bersama pasien tadi saat pemeriksaan elektrokardiografi menunjukkan adanya infark miokard posterior . Pasien ini sangat percaya bahwa dirinya akan meninggal hari itu. Sebelum terapi diberikan, dia berkata , “dokter , anda tahu usia saya 58 tahun . Kakak saya meninggal 3 tahun lalu pada usia 58 tahun, bibi saya juga meninggal pada usia 58 tahun dan …..,” saya memotong pembicaraan , sambil berpikir sejenak , betapa hebatnya ‘takhyul’ merasuki ilmu kedokteran. ” Anda tidak akan mati , tuan. Anda hanya membutuhkan tidur malam yang nyenyak. Silahkan katakan selamat malam pada anak dan istri anda” . ” ….dan kakak sayapun meninggal akibat sakit jantung, usianya 58 tahun dan …..,” Pasien tadi tetap meneruskan pembicaraannya. Setelah itu saya mengantar istri dan anaknya meninggalkan ruangan perawatan intensif. Istrinya meminta saya untuk memberikan ijin menemani suaminya sepanjang malam, namun kebijaksanaan rumah sakit tidak memungkinkan keluarga untuk tidur di dalam ruang perawatan intensif. Anaknya pun sekali lagi meminta kepada saya mengijinkan ibunya untuk tinggal, tapi secara sopan saya menolak permintaan itu dan mengantar mereka keluar ruang perawatan pada jam 11 malam. Pada jam 5.15 pagi, sekitar 6 jam setelah saya meninggalkan ruang perawatan intensif , telepon berdering. ” Dokter…..,” suara suster yang gelisah, ” kondisi pasien anda berubah “. Ini perkataan eufimisme untuk menyatakan pasien telah meninggal. Saya memastikan bahwa kematian memang telah terjadi saat mendengar jeritan tangis istrinya di luar pintu. “Bagaimana dia dokter….?” . Saya masih tidak tahu apa yang harus saya katakan pada istri pasien tadi. Kemudian dia berkata ” dokter , lakukan sesuatu untuk saya , tolong saya , saya memohon..”. “Apalagi yang bisa saya perbuat ?”. Suara saya pelan dalam sedikit kebingungan. ” Beri saya suntikan yang bisa membuat saya pergi bersamanya , saya memohon…..”. Tidak ada sepatah katapun keluar dari saya dalam keheningan . Saya dengar suara langkah kaki mendekat dan terdengar suara anak laki-lakinya , ” bagaimana ayahku ?” . Peristiwa ini kadang membuat saya ingin menangis saat teringat kembali perkataan anaknya saat itu , ” Kami telah memohon berulang kali untuk membiarkan kami menghabiskan waktu dengan ayah pada malam terakhirnya di dunia dan dokter tidak memberikan kesempatan itu..” Sebuah umur kematian yang diturunkan atau merupakan suatu stress psikologis terhadap angka 58 ?

I. 2. Rumusan Masalah

1. Apakah Psikologi Klinis dapat menjawab masalah kematian karena persepsi mengenai kematian?

2. Apakah ketakutan akan kematian menyebabkan stress?

3. Apakah ketakutan akan kematian mempengaruhi sistem imun?

I.3. Tujuan

Tujuan umum untuk menjelaskan penyebab dari kematian yang dialami oleh pasien tersebut.

I.4. Manfaat

1. Manfaat Praktis

Memberikan pengetahuan bahwa ketakutan akan kematian juga persepsi tentang kematian dapat menyebabkan stress bagi seseorang.

2. Manfaat Teoritis

Memberiakn gambaran fenomena nyata dan gambaran tentang pengaruh pemikiran akan kematian terhadap stress.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Stres dan Stresor

Dalam ilmu psikologi stres diartikan sebagai suatu kondisi kebutuhan tidak terpenuhi secara adekuat, sehingga menimbulkan adanya ketidakseimbangan. Taylor (1995) mendeskripsikan stres sebagai pengalaman emosional negatif disertai perubahan reaksi biokimiawi, fisiologis, kognitif dan perilaku yang bertujuan untuk mengubah atau menyesuaikan diri terhadap situasi yang menyebabkan stres.

Teori stres bermula dari penelitian Cannon (1929) yang kemudian diadopsi oleh Meyer (1951) yang melatih para dokter untuk menggunakan riwayat hidup penderita sebagai sarana diagnostik karena banyak dijumpai kejadian traumatik pada penderita yang menjadi penyebab penyakitnya.

Hans Selye (1956) dalam penelitiannya menggunakan stimulus untuk menimbulkan reaksi fisiologik yang ia sebut GAS (General Adaptation Syndrome). Menurut teorinya stresor fisik maupun psikologik akan mengakibatkan 3 tingkatan gejala adaptasi umum; tahap reaksi alarm (alarm reaction), resistensi (resistance) dan tahap kehabisan tenaga (exhaustion).

Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres disebut stresor. Stresor dibedakan atas 3 golongan yaitu :

a. Stresor fisikbiologik : dingin, panas, infeksi, rasa nyeri, pukulan dan lain-lain.

b. Stresor psikologis : takut, khawatir, cemas, marah, kekecewaan, kesepian, jatuh cinta dan lain-lain.

c. Stresor sosial budaya : menganggur, perceraian, perselisihan dan lain-lain. Stres dapat mengenai semua orang dan semua usia.

Wheaton (1983) membedakan stres akut dan kronik sedangkan Holmes dan Rahe (1967) menekankan pembagian pada jumlah stres (total amount of change) yang dialami individu yang sangat berpengaruh terhadap efek psikologiknya. Ross dan Viowsky (1979) dalam penelitiannya berpendapat, bahwa bukan jumlah stres maupun beratnya stres yang mempunyai efek psikologik menonjol akan tetapi apakah stres tersebut diinginkan atau tidak diinginkan (undesirable) yang mempunyai potensi besar dalam menimbulkan efek psikologik. Stres baik ringan, sedang maupun berat dapatmenimbulkan perubahan fungsi fisiologis, kognitif, emosi dan perilaku

Sistem Kekebalan Tubuh

Keutuhan tubuh dipertahankan oleh sistem kekebalan tubuh yang terdiri atas sistem imun nonspesifik (natural /innate/ native) dan spesifik (adaptive / acquired).

Sistem imun nonspesifik

Sistem imun nonspesifik dapat memberikan respon langsung terhadap antigen, sistem ini disebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu. Komponen sistem imun nonspesifik terdiri atas pertahanan fisik dan mekanik, biokimiawi, humoral dan seluler.

Dalam sistem pertahanan fisik dan mekanik kulit, mukosa, silia saluran nafas, batuk dan bersin akan mencegah masuknya berbagai kuman patogen ke dalam tubuh. Adapun bahan yang disekresi mukosa saluran nafas, kelenjar sebaseus kulit, telinga, spermin dalam semen mengandung bahan yang berperan dalam pertahanan tubuh secara biokimiawi.

Pertahanan non spesifik humoral terdiri dari berbagai bahan seperti komplemen, interferon, fagosit (makrofag, neutrofil), tumor necrosis factor (TNF) dan C-Reactive protein (CRP). Komplemen berperan meningkatkan fagositosis (opsonisasi) dan mempermudah destruksi bakteri dan parasit. Interferon menyebabkan sel jaringan yang belum terinfeksi menjadi tahan virus. Di samping itu interferon dapat meningkatkan aktifitas sitotoksik Natural Killer Cell (sel NK). Sel yang terinfeksi virus atau menjadi ganas akan menunjukkan perubahan di permukaannya sehingga dikenali oleh sel NK yang kemudian Membunuhnya Natural Killer Cell (sel NK), adalah sel limfoid yang ditemukan dalam sirkulasi dan tidak mempunyai ciri sel limfoid dari sistem imun spesifik, sehingga disebut sel non B non T (sel NBNT) atau sel populasi ke tiga. Sel NK dapat menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel neoplasma.

Fagosit atau makrofag dan sel NK berperanan dalam sistem imun nonspesifik seluler. Dalam kerjanya sel fagosit juga berinteraksi dengan komplemen dan sistem imun spesifik. Penghancuran kuman terjadi dalam beberapa tingkat, yaitu kemotaksis, menangkap, memakan (fagositosis), membunuh dan mencerna.

Sistem imun spesifik

Sistem imun spesifik terdiri dari sistem imun spesifik humoral dan selular. Yang berperan dalam sistem imun spesifik humoral adalah limfosit B atau sel B yang jika dirangsang oleh benda asing akan berproliferasi menjadi sel plasma yang dapat membentuk antibodi (imunoglobulin). Selain itu juga berfungsi sebagai Antigen Presenting Cells (APC)

Sedangkan yang berperan dalam sistem imun spesifik selular adalah limfosit T atau sel T yang berfungsi sebagai regulator dan efektor. Fungsi regulasi terutama dilakukan oleh sel T helper (sel TH, CD4+) yang memproduksi sitokin seperti interleukin-4 (IL-4 dan IL-5) yang membantu sel B memproduksi antibodi, IL-2 yang mengaktivasi sel-sel CD4, CD8 dan IFN yang mengaktifkan makrofag. Fungsi efektor terutama dilakukan oleh sel T sitotoksik (CD 8) untuk membunuh sel-sel yang terinfeksi virus, sel-sel tumor, dan allograft. Fungsi efektor CD4+ adalah menjadi mediator reaksi hipersensitifitas tipe lambat pada organisme intraseluler seperti Mycobacterium tuberculosis.

Pada keadaan tidak homeostasis, bangkitnya respon imun ini dapat merugikan kesehatan, misal pada reaksi autoimun atau reaksi hipersensitifitas (alergi). Beberapa penyakit seperti diabetes melitus, sklerosis multipel, lupus, artritis rematoid termasuk contoh penyakit autoimun. Kondisi ini terjadi jika sistem imun disensitisasi oleh protein yang ada dalam tubuh kemudian menyerang jaringan yang mengandung protein tersebut.

III. Pembahasan

III. 1. Kerangka Konseptual Hipotesis

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT <![endif]–>

Psikologi Klinis

Psikologi Kematian

Persepsi terhadap kematian

Stress

Penurunan Imun

Rentan terhadap kematian

Intervensi terhadap persepsi negatif akan kematian

Penurunan Stressor

Organization Chart<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

Jadi kerangka hipotesis yang dibangun berdasarkan teori dan konsep dari psikologi klinis. Psikologi klinis memiliki berbagai macam area dan fokus pembahasan kali ini berdasarkan perspektif sudut pandang psikologi kematian dan intervensi yang tepat untuk mengatasi masalah persepsi-persepsi dan belief yang tidak tepat mengenai kematian. Belief dan persepsi yang salah akan membaut orang tersebut menjadi distress dan stress yang berat tersebut akan membuatnya menajdi semakin lemah. Kelelahan yang dirasakan akan membuat sistem imun menjadi berkurang dan orang tersebut akan semakin rentan terhadap kematian.

III. 2. Metode Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah studi literatur, karena menjelaskan kaitan antara psikologi kematian dengan persepsi akan kematian yang menyebabkan stress dan menyebabkan seseorang menjadi rentan untuk meninggal. Penelitian ini menggunakan paradigam psikoneuroimunologi dan psikologi klinis yang semuanya mengarah ke pengaruh pikiran manusia dan faktor biologis. Fenomena diangkat dari 1 orang sampel dalam bentuk sebuah narasi yang kemudia dianalisis dengan menggunakan berbagai teori yang diambil dari buku, junral, dan literatur lainnya.

III. 3. Hasil

Peneliti telah mengumpulkan berbagai macam data dan mendapatkan sebuah hasil dari fenomena ini dan berkaitan dengan fenomena yang lainnya di mana ini merupakan hasil pengembangan dari konseptual hipotesis

Hubungan yang erat antara stress dan kematian dapat dilihat jelas pada sudden death syndrome , dimana individu yang kelihatannya sehat, mati mendadak dalam jangka waktu hitungan menit atau jam akibat suatu kejadian yang bermakna. WB Cannon (1942) menyebutnya sebagai voodoo death . Pada tahun 1965, Engel GL mengumpulkan 275 kasus kematian mendadak yang dimuat di surat kabar dan menganalisanya. Dalam pembagian menjadi 4 kategori penyebab , kematian paling banyak ( 135 kasus ) diakibatkan kejadian traumatik pada hubungan erat antar manusia, selanjutnya 103 kasus akibat suatu situasi yang membahayakan, pergulatan dan ‘serangan’. Kemudian dilanjutkan dengan 21 kasus kematian akibat kehilangan status, harga diri , kegagalan ( semua ‘korban’ pada kategori ini adalah : laki-laki ), dan pada 16 kasus kematian terjadi saat ‘kemenangan besar’ atau ‘perasaan menyenangkan’. Namun dari kesemua kasus tersebut dapat disimpulkan bahwa ‘korban’ mati mendadak akibat dihadapkan pada suatu kejadian yang tidak mungkin diabaikan, sangat mengganggu, tidak diharapkan, dengan kualitas dramatis pada

intensitas dan bersifat ireversibel atau menetap.

Besarnya pengaruh stress psikologis terhadap kematian sangatlah sulit bila akan dilakukan penelitian secara eksperimental karena terbentur masalah ethis, sehingga hubungan kedua hal tersebut banyak diteliti melalui pendekatan epidemiologi.
Philips DP , dkk, melakukan penelitian hubungan antara kematian dengan stress psikologis melalui studi epidemiologi dengan pendekatan fenomena kultural, yaitu suatu asosiasi yang tidak menyenangkan atau asosiasi negatif pada satu satu kelompok kultur ( China dan Jepang ) dengan kelompok kultur lain ( Amerika dan Eropa) terhadap simbol angka 4 dengan kematian. Dalam bahasa China, Kantonese dan Jepang kata ‘angka 4′ dan ‘mati’ dilafalkan hampir sama. Sehingga dalam kultur China dan Jepang angka 4 adalah tidak menyenangkan. Contoh beberapa konsekuensi hal tersebut adalah rumah sakit di China maupun Jepang tidak mencantumkan adanya lantai 4 maupun ruangan nomor 4. Pada kultur China dan Jepang pun dihindari untuk melakukan perjalanan pada tanggal 4. Dengan dasar tersebut dibuat hipotesa, bila memang angka 4 merupakan angka yang menimbulkan stress psikologis maka angka kematian akan mencapai puncak pada tanggal 4 pada kelompok kultur Jepang dan China dibandingkan kultur lainnya. Hasil penelitian cukup mencengangkan yaitu adanya puncak jumlah kematian pada orang China dan Jepang yang sebelumnya menderita sakit jantung pada tanggal 4 dibandingkan orang Amerika dan Eropa. Mengenai angka 13 dengan ‘mati’ tidak ada lafal pengucapan yang sama dalam kultur Amerika dan Eropa sehingga tidak ada peningkatan angka kematian pada tanggal tersebut.

Pengaruh stress psikologis awal bulan maupun awal hari kerja setiap minggu terhadap kematian juga telah diteliti oleh beberapa peneliti. Evans C , dkk melakukan penelitian berdasarkan data catatan kematian di Skotlandia antara tahun 1986 sampai 1995 yang meliputi 91.193 laki-laki dan 79.051 perempuan yang meninggal akibat penyakit jantung koroner. Didapatkan data adanya peningkatan kematian pada hari Senin akibat penyakit jantung koroner ( PJK) di luar rumah sakit pada orang -orang yang sebelumnya tidak pernah dirawat di rumah sakit akibat PJK. Penyebab peningkatan kematian tersebut kemungkinan disebabkan oleh peningkatan kebiasaan minum di akhir pekan atau juga akibat stress psikologis pekerjaan pada hari pertama kerja. Sedangkan pengaruh awal bulan terhadap peningkatan angka kesakitan dan kematian dapat disebabkan oleh beberapa kejadian yang tidak menyenangkan seperti stress psikologis akibat berbagai tagihan pembayaran . Penelitian Durkheim ( 1897 ) menunjukkan pula angka bunuh diri tinggi pada awal bulan dibandingkan akhir bulan . Shaner , dkk yang melakukan studi terhadap 105 orang veteran yang menderita skizofrenia menunjukkan adanya peningkatan angka perawatan rumah sakit pada awal bulan yang disebabkan karena penggunaan kokain, setelah mereka menerima tunjangan kecacatan dari pemerintah. Selain itu pula penyalahgunaan obat dan penggunaan kokain meningkatkan kejadian bunuh diri, pembunuhan maupun

kecelakaan lalu lintas.

Witte DR , dkk melakukan penelitian pengaruh besarnya stress psikologis pada pecandu sepakbola di Belanda pada saat dilakukan pertandingan antara kesebelasan Belanda melawan Prancis pada perempat final kejuaraan sepakbola Eropa 1996. Hasil pertandingan itu berakhir nol-nol meskipun memasuki waktu tambahan dan akhirnya dimenangkan oleh kesebelasan Perancis melalui adu Penalti. Sekitar 9.8 juta penduduk Belanda menyaksikan pertandingan tersebut. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa angka kematian akibat PJK maupun stroke meningkat pada laki-laki Belanda saat harus

dilakukannya pertandingan tersebut.

Penelitian lain menunjukkan hal sebaliknya yaitu besarnya pengaruh psikologis dalam menunda kematian. Penelitian yang dilakukan Phillips , dkk pada kultur China maupun kultur Yahudi menunjukkan adanya fenomena dip/peak angka kematian pada kejadian penting pada kehidupan seseorang. Penemuan itu menunjukkan bahwa seseorang dapat memperpanjang hidupnya sampai beberapa saat setelah kejadian penting dalam hidupnya seperti perayaan tertentu, hari ulang tahun ataupun pernikahan seseorang. Sering juga didapatkan suatu fenomena di rumah sakit seseorang yang koma sekian lama meninggal setelah semua orang yang begitu penting dalam hidupnya telah berkumpul di sampingnya. Diketahui pula bahwa Thomas Jefferson dan John Adams ( Presiden USA ) meninggal pada tanggal 4 Juli ( tanggal deklarasi kemerdekaan Amerika ). Adalah bukan suatu hal yang kebetulan bila kita mengetahui kata terakhir yang diucap Jefferson sebelum meninggal adalah menanyakan apakah hari itu tanggal 4 , seperti yang diceritakan oleh dokter pribadinya.

Dari beberapa hasil penelitian ini, kasus yang terjadi sudah dapat kita analisis bahwa pengaruh persepsi tentang kematian sangat mungkin dapat menyebabkan seseorang meninggal. Orang tersebut mengalami stress karena ia selalu berpikir bahwa ia akan mati saat usia 58 tahun, persepsi yang selalu ia bawa tersebut membuatnya semakin menjadi takut dan khawatir akan kematian yang akan ia hadapi tidak lama lagi jadi sewaktu itu imun sistem di dalam tubuhnya menjadi semakin rentan. Stress yang ia alami telah menjadi distress karena ia sangat takut sekali akan kematian dan ia sangat yakin bahwa ia akan mati saat usia 58 tahun sama seperti kakaknya. Orang tersebut tidak dapat beradaptasi dengan stress yang ia hadapi dan ia mengalami kelelahan. Akibat dari kelelahan tersebut sistem imun di dalam tubuhnya semakin lemah dan penyakit yang sudah ada membuatnya semakin parah. Saat itu ia menjadi rentan sekali untuk mengahdapi kematian karena bisa diakibatkan sistem imunnya yang berkurang secara drastis dan membuatnya tidak memiliki sistem pertahan tubuh.

Letak pengaruh psikolohi klini adalah dengan mealkukan dukungan secara emosional kepada pihak diri pasien dan lingkungannya. Lingkungan juga menjadi penentu semakin menguatnya stressor dan meringankan stress yang dihadapi oleh seseorang (Lutgendrof & Costanzo, 2002). Dari kasus ini sangat tergambarkan bahwa lingkungan yaitu istrinya juga memiliki pikiran yang sama sehingga tidak dapat saling mendukung. Hal itu yang membuat suaminya semakin drop karena tidak adanya dukungan dari istrinya. Peran dari praktisi piskologi klinis adalah memberikan intervensi terhadap suaminay seperti dukungan sosial maupun pengubahan pola pikir yaitu dengan terapi kognitif pasien dan keluarganya.

Psikologi klinis dalam psikoneuroimmunologi memiliki peran yang cukup signifikan bila dilihat dari satu segi psikologi kematian saja juga dapat memberikan efek yang besar bagi kemajuan kualitas hidup seseorang. Pengembangan dari intervensi-intervensi yang dilakukan bisa lebih dikembangkan seperti hipnosis, psikoterapi dan masih banyak lagi akan sangat memmbantu proses daripada terapi dan mengembangkan keilmuwan.

IV. PENUTUP

IV. 1. Kesimpulan

Dari hasil-hasil yang didapat maka peniliti dapat menyimpulkan bahwa peran dari psikologi klinis dalam mengatasi permasalah stress yang memiliki dampak pada sistem imun tubuh memiliki pengaruh yang cukup kuat terutama dalam intervensi klinis yang dapat dilakukan selain itu persepsi seseorang tentang kematian baik maupun buruk memiliki dampak terhadap stress yang dihadapi karena ketika seseorang memiliki pikiran kematian yang memberatkannnya maka itu menjadi distress bagi dirinya dan mengakibatkan dia mengalami penuruanan sistem imun dan menjadikkannya semakin lemah dan rentan untuk meninggal.

V. 2. Saran

Saran lebih tepat ditujukan kepada setiap psikolog dan dokter yang selalu berhubungan dengan pasien supaya merekadapat dengan tanggap untuk menangani fenomena yang sering terjadi di dalam masyarakat kita terutama yang masih kurang rasionalis dalam berpikir. Psikolog dan dokter harus segera memberikan intervensi kepada pihak pasien dan keluargnya supaya mereka tidak bertahan di dalam pikiran yang irasional tetapi dapat mengubah pola pikirnya sehingga tidak menghadpi stress yang berat dan tidak menggangu fungsi hdup juga kematian dapat dihindarkan.

V. DAFTAR PUSTAKA


1. Pelletier KR. Stress : Etiology, assessment, and management in holistic medicine. In :
Selye H ( ed ). Selye’s Guide to stress research. New York 1983 . Van Nostrand Reinhold Co. p. 43-75
2. Konotey- Ahulu. The suprascientific in clinical medicine : a challenge for professor Know All. BMJ 2001 : 323: 1452-3
3. Phillips DP, Liu GC, Kwok K, Jarvinen JR, Zhang W, Abramson IS. The Hound of Baskervilles effect : natural experiment on the influence of psychological stress on timing of death. BMJ 2001 : 323 ; 1443 – 6.
4. Phillips DP, King EW. Death takes holiday : mortality surrounding major social occasions. The Lancet 1988 ; September : 728 – 32.
5. Phillips DP, Smith DG. Postponement of death until symbolically meaningful occasions. JAMA 1990 ; 263 :1947 – 51
6. Evans C, Chalmers J, Capewell S, Redpath A, Finlayson A, et al. ” I don’t like Mondays” – day of the week of coronary heart disease deaths in Scotland: study of routinely collected data. BMJ 2000 ; 320 : 218- 9
7. Witte DR, Bots ML, Hoes AW, Grobbee DE. Cardiovascular mortality in Dutch men during 1996 European football championship: longitudinal population study. BMJ 2000; 321 : 1552-4
8. Samuels MA. Neurogenic heart and lung disease. Available on : CD Room AAN 2002.
9. Phillips DP, Christenfeld N, Ryan NM. An Increase in the number of deaths in the united states in the first week of the month. N Eng J Med 1999; 341 : 93-8
10. Shaner A, Eckman TA, Roberts LJ, et al. Disability income , cocaine use, and repeated hospitalization among schizophrenic cocaine abusers: a government -sponsored revolving door. N Eng J Med 1995 ; 333: 777-83
11. Lerner BH. Can stress cause disease? Revisiting the tuberculosis research of Thomas Holmes, 1949-1961. Ann Intern Med 1996 ; 124 : 673-680.

PENDAHULUAN

JIKA Guus Hiddink mencalonkan diri jadi presiden, rakyat Rusia mungkin akan berbondong-bondong memilihnya. Bukan hanya lantaran ia sukses mengantarkan negara tersebut ke semifinal Euro 2008, tapi juga karena bisa menyulap sepakbola Rusia yang dingin, dan membosankan jadi hangat, cepat, dan indah. “Guus for President”, teriakan ini memang lantang disuarakan rakyat Rusia sekarang. Di dalam stadion ketika Rusia sedang berlaga, para pendukung tim Beruang Merah kerap menyebut-nyebutnya. Di

jalanan, anak-anak kecil pun berteriak lantang “Guus for President”.

Perjalanan hidup yang luar biasa. Berawal dari Achterhoek, sebuah sudut urban di Belanda, Hiddink kecil berangan-angan dan memasang cita-cita sebagai seorang petani. Sebagai anak desa di wilayah pertanian, menjadi petani dengan sawah garapan sendiri memang jamak jadi cita-cita tertinggi. Tapi sepakbola, yang semula diajarkan temannya, mengubah cita-cita Hiddink kecil. Semula hanya ikut-ikutan teman, ia lantas serius bergabung dengan klub amatir lokal, SC Varsseveld. Posisinya adalah gelandang.
Debut karir profesional dijalani Hiddink ketika bergabung dengan klub Belanda, De Graafschap, pada tahun 1967. Dia kemudian mulai bersinar dan menjadi pemain yang diburu para fan. Tiga tahun berlalu, Hiddink bergabung dengan klub PSV Eindhoven yang kini dikenal sebagai klub Belanda yang banyak melahirkan pemain terbaik. Sayang, Hiddink gagal meraih posisi utama dan akhirnya kembali ke De Graafschap. Dia menghabiskan waktu bersama De Graafschap hingga 1976. Hiddink juga sempat bermain di liga sepakbola Amerika Utara saat bermain bersama Washingtong Diplomat di periode Juli hingga Desember 1976. Ada lagi klub San Jose Earthquakes di liga yang sama hingga akhirnya Hiddink kembali ke Belanda untuk bermain di klub NEC pada akhir tahun 1977. Karir Hiddink sebagai pemain berakhir pada tahun 1982. Sebelum memutuskan pensiun, Hiddink kembali bergabung bersama klub pertamanya, yaitu De Graafschap, setahun sebelumnya. Meski memutuskan untuk gantung sepatu, Hiddink tetap berkecimpung di dunia sepakbola. Berbekal pengalamannya sebagai asisten manajer De Graafschap, Hiddink mengambil kesempatan menjadi manajer PSV Eindhoven pada tahun 1987.
Dari sanalah karirnya sebagai pelatih terus melesat, sampai sekarang.

Fenomena yang muncul akibat prestasi yang diraih Rusia sebuah sejarah bagi negara Rusia juga persepakbolaan dunia. Rusia selama ini memang jarang disebut-sebut di pentas sepakbola Eropa. Terakhir, nama mereka sempat bergema pada 1988, itu pun ketika masih bernaung dalam bendera Uni Soviet. Mencapai final Euro 1988 untuk ditaklukkan Belanda 0-2, yang diantaranya lewat gol menawan Marco van

Basten –arsitek Oranye sekarang.

20 tahun kemudian, Rusia sukses membalaskan dendamnya dengan melumat Belanda 3-1 untuk melenggang ke semifinal. Sebuah dendam yang menuntaskan kepenasaran para fan golongan tua. Dan keajaiban mencengangkan bagi fan golongan muda. Dan itu terjadi karena faktor Guus Hiddink. Ahli taktik genius yang menyulap 23 pemain tak dikenal, menjadi bahan pembicaraan setiap orang di seluruh dunia. “Hiddink lebih hebat dari Houdini (pesulap legendaris),” puji rakyat Rusia. Koran Rusia pun ramai-ramai memujanya. Semua koran di sana memajang foto Guus Hiddink di halaman depan, dengan ukuran foto sangat besar, yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Tak pernah sepakbola Rusia seindah ini sepanjang sejarahnya, ” tulis Rossiiskaya Gazeta, seperti dikutip lagi dari Times Online. `Koran Nezavisimaya Gazeta bahkan untuk pertama-kalinya menulis judul headline dengan bahasa Inggris “Made in Russia”, dengan foto Guus Hiddink terpampang besar. Di bawahnya ditulis juga “Kunci utama keajaiban sepakbola Rusia.”

Tak semua pihak setuju dengan pendewaan pria kelahiran Varsseveld, Belanda pada 8 November 1946 ini. Direktur Teknik UEFA, Andy Roxburgh menilai, Guus berada di tempat yang tepat. Menurutnya, Rusia memang sekarang dalam performa puncak karena punya waktu istirahat jauh lebih panjang. Kata Roxburgh, saat liga negara lain di Eropa masih berlangsung, Liga Rusia justru sudah usai. “Jadi, mereka punya waktu lebih panjang untuk istirahat, dan untuk fokus ke Euro ini,” ujarnya.
Ia merujuk pada perempat-final ketika Rusia menggilas Belanda 3-1 lewat perpanjangan waktu. “Terlihat para pemain Rusia lebih bugar. Memang mereka punya para pemain bagus. Pelatih jempolan. Tapi faktor staminalah yang utama,” tuturnya.
Komentar kritis mantan pelatih Skotlandia ini tak banyak didengar. Suaranya menghilang di tengah gaung mendewakan Guus Hiddink. Hal yang tak bisa dihindari lantaran catatan karirnya memang fenomenal. Sentuhannya memang selalu menghasilkan keajaiban. Lihat saja kiprah pasukan Korea Selatan yang mengejutkan dunia ketika merebut tempat di semifinal Piala Dunia 2002. Tengok juga bagaimana Australia dalam debutnya di Piala Dunia 2006 tiba-tiba saja lolos ke putaran dua. “No Guus no Glory” demikian teriakan mereka yang terkagum-kagum dengan meneer Belanda. “In Guus we Trust” demikian juga kepercayaan mereka pada pria yang menguasai multi bahasa ini. Akankah keajaiban

Guus Hiddink dengan pasukan Rusianya ini berlanjut?

Inilah pelatih dengan rekor nickname (julukan) terbanyak. Berbagai prestasi yang diraihkan, baik semasa jadi pelatih level klub, hingga negara, memang menghasilkan juga berbagai julukan. Tahun 1998, ketika mengarsiteki Belanda ke semifinal Piala Dunia 1998 di Prancis, publik Belanda menjulukinya “Guus Geluk” atau si Guus yang beruntung. Tahun 2002 ketika mengantar Korea Selatan ke semifinal Piala Dunia 2002, ia dijuluki “Hiddingu”, sebuah penghormatan dengan membumikan namanya dalam lafal orang Korea. 2006 saat ia meloloskan debutan Australia ke putaran dua Piala Dunia 2006, publik Australia menyebutnya sebagai “Ausie Guus”. Dan kini, ketika Rusia melenggang ke semifinal Euro 2008, ia pun mendapat julukan baru “Tsar Guus”.
Sebenarnya apa faktor-faktor rahasia yang membuat seorang Guus Hiddink mampu menjadi seorang pelatih yang memiliki gaya kempimpinan yang begitu fenomenal dan apa ada kaitan antara psikologi olahraga dengan keberhasilan Guus Hiddink dalam mencapai prestasi-prestainya yang begitu menkajubkan dengan mampu membawa underdog yang tidak dipandang satu matapun oleh tim-tim besar Eropa.

PEMBAHASAN

Memimpin suatu tim sepakbola memiliki banyak persamaan aspek dengan pengelolaan suatu organisasi. Diperlukan visi dan strategi yang kuat, ada kegiatan operasional implementasi dari rencana yang telah disusun, dan melibatkan juga aspek-

aspek efisiensi dan efektifitas keuangan.

Guus Hiddink mampu menggunakan setiap sumber daya kekuasaan yang ada padanya untuk mampu mengubah pola perilaku daripada pemainnya. yang pertama adalah Expert Power karena ia memiliki track record yang luar biasa sebelumnya dengan Belanda, Korea, dan Australia, sehingga menimbulkan suatu kepercayaan sendiri dari Rusia bahwa ia akan mampu memimpin mereka. Aspek pertama seorang pelatih yang berhasil adalah ia dipercaya oleh anak buanya bahwa ia mampu melatih mereka. Kekuasaan ini juga dintunjang dengan Legitimate power yaitu kekuasaan yang dimiliki seorang pemimpin sebagai hasil dari posisinya dalam suatu organisasi atau lembaga. Kekuasaan yang memberi otoritas atau wewenang (authority) kepada seorang pemimpin untuk memberi perintah, yang harus didengar dan dipatuhi oleh anak buahnya dan juga ciri kepemimpinan yang autokratik memutuskan sesuatu sendiri. Pada pelatih yang autokratik, ia memilih sendiri bawahan, melatih jadwal, dan bermain dengan sedikit masukan dari pemain dan asistennya. Jadi dalam melakukan segala sesuatu kepada timnya ia memmiliki kekuasaan yang luas dan cenderung tidak menerapkan sisi demokratis di dalam kepemimpinannya. Seperti, ia banyak dikritik oleh media mengenai pola kepemimpinannya yang cenderung tegas dan disiplin, di mana Hiddink mulai menangani Rusia pada Juli 2006, di awal kepemimpinannya, Hiddink telah menunjukkan sifat tegas dengan memulangkan Sergei Ignashevich yang kerap terlambat datang di sesi latihan. Dia mengatakan bahwa para pemainnya harus tepat waktu. Nasib sama juga menimpa Alexander Kerzhakov yang dinilai Hiddink terlalu malas. Terlepas dari itu, ia juga banyak mematahkan anggapan tentang pemain yang tua lebih pantas bermain karena memiliki lebih banyak pengalaman nyatanya Hiddink malah mengundang para pendatang baru bagi tim Rusia. Salah satunya Dmitri Torbinsky, yang lalu menyumbangkan satu gol

untuk kemenangan Rusia 3-1 di partai perempat final melawan Belanda. Coercive power telah ditunjukkan oleh Guus Hiddink dengan kemampuannya sebagai pemimpin untuk memberikan hukuman kepada pemain yang memang benar-benar tidak memenuhi syarat. Sehingga kepemimpinan Hiddink ini sering dianggap sebagai sebuah gaya yang kuno karena selalu menekankan paksaan tetapi hal ini memberikan bukti yang lain bahwa kepemimpinan gaya lama ini tidak selamanya tidak efektif karena ada beberapa hal yang menjadi sisi positif dari Hiddink yang tidak dimiliki oleh pelatih lain.

Sisi positif itu adalah kemampuannya untuk mengembangkan kekuasaan penghargaan (reward power) yaitu Yakni kekuasaan untuk memberi keuntungan positif atau penghargaan kepada yang dipimpin.Tentu hal ini bisa terlaksana dalam konteks bahwa sang pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahannya. Ia selalu memberikan arahan bahwa pemain yang mampu berlatih fisik secara rutin dan displin maka akan mendapatkan tempat langsung di kursi utama pemain. Ia tidak memandang kesenioritasan tetapi menganggap sama semua pemain dan memberikan kesempatan yang sama kepada semua pemain untuk menduduki skuad utama. Hal yang biasa dilakukan pelatih adalah menggantung tim pada pemain bintang seperti di Prancis yang mengandalkan Thiery Henry karena faktor keseniorannya dan namanya yang sudah banyak dikenal. Guus Hiddink tidak pernah mempedulikan masalah tersebut, ia berani mencoret salah satu pemain senior di Rusia karena perilakunya yang tidak sesuai dengan arahannya.

Faktor penentu lain adalah kemampuan Hiddink untuk mengkritisi budaya suatu negara yang mempengaruhi pola permainan dan kerjasama di dalam tim sepakbola. Riset yang pernah dilakukan perusahaan samsung terhadap kepemimpinan Guus Hiddink di Korea Selatan. Salah satu contoh kasus yang ia hadapi adalah Hiddink menemui kesulitan ketika harus mengaplikasikan teori sepak bola barat yang dimilikinya. Ia mengetahui persoalan utamanya terletak pada budaya dan etika Konfusianisme terutama soal aturan senioritas yang menghambat komunikasi antarpemain. Setiap meja diperuntukkan bagi kelompok pemain menurut urutan senioritas. Uniknya, selama makan tidak ada komunikasi antarsatu dan lain kelompok.” Saat itu juga Hiddink mengetahui persoalan sebenarnya sepak bola Korsel. Ia meminta pengurus Federasi Sepak Bola Korea untuk mengubah meja makan pemain. Hiddink tidak menginginkan ada pengelompokan pemain sesuai usia dan lamanya bermain di tim nasional, dan menginginkan semuanya berbaur. Sebagai gantinya, Hiddink menginginkan satu meja makan panjang untuk semua pemain. Tidak ada kursi senioritas, atau bagian-bagian tertentu untuk mereka yang dianggap lebih berpengalaman. Pemain junior dan senior saling berhadapan pada saat makan pada jarak sangat dekat. Ia juga memberikan tugas kepada setiap pemain senior untuk membuat jurnal harian dengan menanyakan apa yang menjadi keinginan dari pemain junior terhadap tim Korsel. Hal ini membuat pemain di dalam tim tidak lagi saling diam bila ada kesalahan saat pertandingan tetapi membuatnya mapu berkomunikasi satu sama lain. Hiddink sangat pandai dalam membangun komunikasi anatar pemain di dalam sebuah tim, hal itu yang ia lakukan kepada tim Rusia untuk menyatukan antara mereka yang senior dengan yang junior untuk membangun komunikasi dan kerjasam tim yang baik. Karena menurut Hiddink yang terpenting adalah mengembangakn kerjasam di dalam tim tidak peduli dengan status apapun. Ia selalu dikenal dengan pelatih yang mengesampingkan masalah diskriminasi apapun di dalam timnya dan selalu memperjuangkan kesetaraan.

Ia juga mengembangkan sistem kompetisi di dalam tim, seperti yang dibahas di atas ia tidak pernah peduli dengan pemain senior, bila mereka kalah di dalam berkompetisi mereka tidak akan terpilih dan hasilnya memakan cukup korban. Tetapi cara yang dipakai ini sangat tepat karena kompetisi selalu memunculkan motivasi yang lebih intrinsik sehingga pemain lebih memiliki semangat yang menggebu di dalam memperjuangkan diri untuk masuk ke dalam skuad utama dan menjadikan mereka berlatih lebih keras. Sistem kompetisi yang diterapkan ini memberikan efek yang positif kepada pemain-pemain Rusia yang membuat mereka akhirnya memiliki kemampuan fisik yang setara dengan pemain-pemain negara Eropa favorit karena motivasi untuk masuk tim utama ini.

Kemampuan kepemimpinan Hiddink telah dikenal dengan nama Hiddink Way, begitu orang Korea menyebutnya, berjalan sesuai rencana. Namun, sampai beberapa bulan sebelum piala dunia, Korsel hanya beberapa kali tampil mengesankan di depan publiknya. Saat menghadapi Prancis, misalnya, publik Korsel mulai bisa melihat kemampuan pemain Korsel mencetak gol ke gawang tim Eropa. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kemampuannya yang juga sama ditunjukkan dengan mampunya Rusia untuk meloloskan diri sampai ke babak semifinal padahal pada pertandingan awal Rusia harus menelan kekalahan yang memalukan karena kalah 4-1 dari Spanyol tetapi Hiddink memamng memiliki ramuan taktik yang begitu luar biasa dan pelajaran yang luar biasa yaitu tanpa diketahui banyak media massa, Hiddink saat itu telah memberikan sentuhan think and play kepada pemain-pemainnya. Ia mengajarkan bagaimana mengambil keputusan di saat tertekan, dan mengatasi tekanan lawan dan Ia mengajarkan kepada semua pemain bagaimana memainkan perubahan karakter bermain di lapangan, saat menyerang atau ketika diserang. Ia mengubah Rusia menjadi sebuah tim setara dengan tim-tim unggulan Eropa

Kehebatan Guus Hiddink yang luar biasa adalah kemampuannya merubah mentalitas “klub kecil” yang menghinggapi Korea Selatan, Australia dan Rusia menjadi tim dengan pemain yang memiliki self confidence yang luar biasa tinggi. Hiddink dikatakan memiliki kemampuan khusus untuk memikat dan menang atas para pemainnya. Sebelum Piala Dunia 2002, Hiddink berkata kepada para pemain Korsel bahwa mereka akan mengejutkan dunia. Begitu pula saat Korsel melangkah ke perempat final, Hiddink mengungkapkan pernyataan-pernyataan yang membangkitkan semangat para pemain. Salah satunya, apakah kamu menginginkan yang lebih? Taktik serupa juga diterapkan Hiddink dalam tim Rusia. Tanpa ragu, Hiddink mengaku siap disebut sebagai pengkhianat kalau Rusia berhasil mengalahkan Belanda. “Pelatih (Guus) Hiddink selalu berkata kalau kami bisa mengalahkan tim mana pun,” ungkap top skor Rusia, Ivan Saenko. Mereka menjadi merasa “sejajar” dengan siapapun. Dalam perang, keyakinan diri seperti itu sudah merupakan 1 langkah kemenangan. Rusia beberapa hari lalu tampil dominan dan sangat percaya diri menghadapi Belanda yang jauh lebih favorit dan memiliki banyak pemain lebih terkenal.

Kemampuan-kemampuan secara personal yang membuatnya lengkap menjadi seorang pemimpin adalah kemauannya untuk selalu belajar dan mengenal hal-hal yang baru. Guus Hiddink percaya, komunikasi dengan para pemain menjadi kunci utama untuk bisa membentuk sebuah tim yang solid. Dan komunikasi hanya bisa terjalin jika ia memahami bahasa para pemainnya. Filosofi itulah yang membuat sang meneer lantas menjadi ahli linguistik dan sekaligus juga belajar bahasa ibu dari tiap negara yang disinggahinya. Hasilnya mencengangkan. Ia menguasai tujuh bahasa, dan semuanya dalam derajat sangat fasih, yakni bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Korea, dan Spanyol. Ia pun menguasai secara pasif bahasa Italia. Kini ia siap menambah lagi perbendaharaan bahasanya lantaran Hiddink sekarang sedang belajar bahasa Rusia.
Dalam wawancara dengan Guardian beberapa waktu lalu, Hiddink mengatakan seorang pelatih memang harus memahami faktor budaya setempat, sebagai pondasi untuk bisa membentuk sebuah tim yang kuat. “Saya punya banyak alasan belajar bahasa. Saya percaya, hanya dengan memahami kebudayaan sebuah negara, kita bisa memahami karakter para pemainnya. Dan itu penting untuk terbentuknya sebuah tim,” ujar Hiddink.
Kemauannya untuk mengenali budaya negara yang ia latih juga ditunjukkan pada saat lagu kebangsaan Rusia dikumandangkan ia juga ikut menyayikannya dengan fasih sampai-sampai Presiden Rusia Dmitri Medvedev memberikan tawaran kepadanya untuk mau menjadi warga negara Rusia,

KESIMPULAN

Faktor-faktor rahasia yang menjadi kekuatan Guus Huddink untuk mampu membawa tim-tim underdog untuk mencapai prestasi yang laur biasa adalah gaya kepemimpinanya yang cenderung autokratif yang tegas dan disiplin tetapi ia juga mengembangkan kepemimpinan yang mengembangkan motivasi intrinsik seoraang pemain dengan kompetisi dan membrikan reward yang benar-benar pantas kepada mereka yang berhasi mengikuti arahannya. Selain tiu, aia adalah seorang pemimpin yang konsisten dengan apa yang akan ia lakukan tanpa mempedulikan perkataan media karena ia tahu bahwa apa yang ia lakukan tepat dan ia memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengembangkan kerjasama tim juga mengesampingkan senioritas.

Peran psikologi olahraga di dalam melihat kasus-kasus seperti adalah kemampuan untuk menggambarkan fenomena yang terjadi seperti Guus Hiddink dan mencari apa yang menjadi faktor kesuksesan yang diraih oleh pelatih tersebut sehingga muncul suatu wacana baru di dalam dunia kepelatihan yang nantinya akan mampu untuk diterpkan di berbagai bentuk tim baik di mancanegara maupun di dalam negeri. Indonesia sangat memerlukan sekali pakar-pakar psikologi olaharaga yang mampu menganalisis secara tajam fenomenay yang terjadi di manca negara sehingga dapat memberikan masukan bagi kemajuan dunia olaharaga Indonesia. Majulah terus perolahragaan Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Gunarsa, Singgih D. (1996). Psikologi Olahraga. Teori dan Praktik. Jakarta. Gunung Mulia

Persada Network. (2008). Sihir Hiddink. Diunduh 6 Juli 2008, from http://www. banjarmasinpost.co.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=32745.

Waan, D. L. (1997). Sport psychology. New Jersey; Prentice Hall. inc

Pelembagaan: Pelopor Budaya

Sampai pertengahan tahun 1980-an, sebagian besar organisasi dianggap semata-mata sebagai alat yang rasional untuk mengkoordinasi dan mengendalikan sekelompok orang dengan adanya tingkat-tingkat vertical, depertemen, hubungan wewenang, dan seterusnya. Namun, sebenarnya organisasi juga mempunyai kepribadian. Sekalipun bergerak di bidang yang sama, tetapi tiap perusahaan memiliki perasaan dan karakter yang unik di luar karakteristik strukturalnya. Asal-usul budaya sebagai variable independen yang mempengaruhi sikap dan perilaku karyawan dapat ditelusuri ke gagasan pelembagaan (institutionalization).

Bila organisasi menjadi terlembaga, organisasi itu memiliki kehidupannya sendiri, terlepas dari para pendirinya atau para anggotanya. Contohnya, Ross Perot yang menciptakan Electronic Data System (EDS) pada 1960-an, kemudian meninggalkannya pada tahun 1987 untuk mendirikan perusahaan baru, Perot Systems. EDS terus bertumbuh sekalipun telah ditinggalkan pendirinya. Selain itu, bila organisasi menjadi terlembaga, organisasi itu akan dihargai atas dirinya, tidak sekedar atas barang atau jasa yang dihasilkan. Jika tujuannya tidak lagi relevan, ia akan mendefinisikan ulang tujuannya. Contohnya, Organisasi Maret of Dimes yang awalnya bertujuan untuk mendanai perang terhadap polio. Ketika polio nyaris sepenuhnya terbasmi, organisasi tersebut tidak tutup, tetapi ia mendefinisikan ulang tujuannya sebagai pendana riset untuk mengurangi cacat kelahiran dan menurunkan tingkat kematian bayi. Jadi pelembagaan berlangsung dalam rangka menghasilkan pemahaman bersama di kalangan anggota mengenai perilaku apa yang tepat, terutama, dan bermakna.

Apakah Budaya Organisasional itu?

Budaya organisasi mengacu pada sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan organisasi itu dari organisasi-organisasi lain. Sistem makna ini merupakan seperangkat karakteristik utama yang dihargai oleh organisasi itu.

Ada tujuh karakteristik primer yang bersama-sama menangkap hakikat dari budaya organisasi:

1. Inovasi dan pengambilan resiko. Sejauh mana para karyawan didorong agar inovatif dan mengambil resiko.

2. Perhatian terhadap detail. Sejauh mana para karyawan diharapkan memperlihatkan kecermatan, analisis, dan perhatian terhadap detail.

3. Orientasi hasil. Sejauh mana manajemen memusatkan perhatian pada hasil, bukan pada tehnik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.

4. Orientasi orang. Sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan dampak hasil-hasil pada orang-orang di dalam organisasi itu.

5. Orientasi tim. Sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan berdasarkan tim, bukan berdasarkan individu.

6. Keagresifan. Sejauh mana orang-orang itu agresif dan kompetitif.

7. Kemantapan. Sejauh mana kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya status quo bukannya pertumbuhan.

Gambaran budaya suatu organisasi dapat diperoleh dengan menilai organisasi itu berdasarkan tujuh karakteristik di atas. Gambaran itu menjadi dasar bagi perasaan pemahaman bersama yang dimiliki para anggota mengenai organisasi tersebut, cara penyelesaian urusan di dalamnya, dan cara para anggota diharapkan berperilaku.

Budaya merupakan istilah deskriptif

Budaya organisasi itu berkaitan dengan cara karyawan mempersepsikan karakteristik budaya organisasi, bukannya dengan apakah mereka menyukai budaya itu atau tidak. Artinya, budaya itu merupakan istilah deskriptif. Pemahaman ini penting karena membedakan konsep budaya dari konsep kepuasan kerja. Kepuasan kerja berupaya mengukur respon afektif (perasaan) terhadap lingkungan kerja. Kepuasan kerja berhubungan bagaimana perasaan karyawan terhadap harapan organisasi itu, praktik imbalan, dan yang serupa. Budaya organisasi adalah deskriptif, sedangkan kepuasan kerja adalah evaluatif.

Apakah Organisasi Mempunyai Budaya yang Seragam?

Budaya organisasi menunjukkan persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu. Tetapi pengakuan bahwa budaya organisasi mempunyai sifat-sifat umum tidak berarti bahwa tidak ada sub-sub budaya di dalam setiap budaya yang ada. Budaya dominan mengungkap nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh mayoritas anggota organisasi itu. Sub budaya cenderung berkembang dalam organisasi besar untuk mencerminkan masalah, situasi, atau pengalaman bersama yang dihadapi para anggotanya. Sub budaya ini akan mencakup nilai-nilai budaya dominan ditambah nilai-nilai tambahan yang unik bagi anggota-anggota pada masing-masing departemen. Misalnya, dalam departemen penjualan dapat menganut sub budaya yang secara unik dianut bersama oleh anggota-anggotanya dan berbeda dengan sub budaya pada departemen produksi. Jika organisasi-organisasi tidak memiliki budaya dominan dan hanya tersusun dari sangat banyak sub budaya, maka nilai budaya organisasi sebagai variable independen akan sangat berkurang karena tidak akan ada penafsiran yang seragam atas apa yang merupakan perilaku yang tepat dan tidak tepat.

Budaya Kuat Lawan vs Budaya Lemah

Dalam budaya kuat, nilai inti organisasi itu dipegang secara mendalam dan dianut bersama secara meluas. Makin banyak anggota yang menerima nilai-nilai inti dan makin besar komitmen mereka pada nilai-nilai itu, makin kuat budaya tersebut. Budaya kuat akan mempunyai pengaruh yang besar pada perilaku anggota-anggotanya karena tingginya tingkat kebersamaan dan intensitas akan menciptakan iklim internal atas pengendalian perilaku yang tinggi. Budaya kuat juga memperlihatkan kesepakatan yang tinggi di kalangan anggota mengenai apa yang dipertahankan oleh organisasi itu, sehingga dapat menurunkan tingkat keluarnya karyawan.

Budaya vs Formalisasi

Budaya organisasi yang kuat meningkatkan konsistensi perilaku. Karena itu, budaya organisasi yang kuat dapat menggantikan formalisasi. Formalisasi dapat menciptakan prediktabilitas, ketertiban, dan konsistensi. Budaya dan formalisasi merupakan dua jalan yang berlainan untuk mencapai tujuan yang sama. Makin kuat budaya organisasi, akan menyebabkan semakin kurang perlunya formalisasi.

Budaya Organisasi Lawan Budaya Nasional

Budaya nasional mempunyai dampak yang lebih besar pada para karyawan daripada budaya organisasi mereka. Contohnya, karyawan Jerman pada fasilitas IBM di Munich akan lebih dipengaruhi oleh budaya Jerman daripada oleh budaya IBM. Karena itu, proses seleksi karyawan akan digunakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional untuk menemukan dan mempekerjakan pelamar kerja yang benar-benar cocok dengan budaya dominan organisasi mereka, meskipun jika pelamar tersebut agak tidak khas bagi para anggota di Negara mereka. Contohnya, perusahaan multinasional Inggris mungkin kurang tertarik mempekerjakan “orang khas Italia” untuk operasinya di Italia.

Apa yang dilakukan budaya?

Fungsi Budaya

Budaya menjalankan sejumlah fungsi dalam organisasi. Pertama, budaya mempunyai peran menetapkan tapal batas yang artinya budaya menciptakan perbedaan yang jelas antara satu organisasi dan organisasi lain. Contoh :

Kedua, budaya memberikan rasa identitas ke anggota-anggota organisasi. Contoh :

Ketiga, budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri pribadi seseorang. Contoh :

Keempat, budaya meningkatkan kemantapan sistem sosial. Contoh :

Terakhir, budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan mekanisme pengendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku para karyawan. Contoh :

Fungsi terkhir ini tampaknya makin penting di tempat kerja dewasa ini. Makna bersama yang diberikan budaya yang kuat memastikan bahwa semua orang diarahkan ke arah yang sama.

Budaya Sebagai Beban

Hambatan Terhadap perubahan Budaya menjadi beban saat nilai-nilai bersama tidak cocok dengan nilai-nilai yang akan meningkatkan keefektifan organisasi itu. Bila lingkungan dinamis, budaya organisasi yang telah berakar tidak bisa tepat lagi. Konsistensi perilaku akan membuat organisasi terhambat untuk menanggapi perubahan-perubahan lingkungannya. Contoh :

Hambatan Terhadap Keanekaragaman Budaya yang kuat sangat menekan para karyawan agar menyesuaikan diri. Budaya yang kuat juga membatasi rentang nilai dan gaya yang dapat diterima. Manajemen menginginkan karyawan baru untuk menerima nilai budaya inti organisasi sehingga menyingkirkan kekuatan unik yang dibawa oleh orang-orang dengan latar belakang yang berlainan tersebut. Contoh :

Hambatan Terhadap Merger dan Akuisisi Walaupun laporan keuangan dan lini produk yang menyenangkan dapat menjadi penarik awal atas calon akuisisi, tapi keberhasilan akuisisi lebih terkait dengan seberapa baik budaya kedua organisasi bersesuaian. Contoh :

Menciptakan dan Mempertahankan Budaya

Asal Mula Budaya

Para pendiri organisasi biasanya mempunyai dampak besar pada budaya awal organisasi tersebut. Mereka mempunyai visi tentang bagaimana seharusnya organisasi tersebut. Proses penciptaan budaya terjadi dalam tiga cara. Pertama, para pendiri hanya memperkerjakan dan mempertahankan karyawan yang berpikir dan merasakan cara yang mereka tempuh. Kedua, mereka mengindoktrinasikan dan mensosialisasikan para karyawan ini dengan cara berpikir dan perasaan mereka sendiri. Ketiga, pendiri itu sendiri bertindak sebagai model peran yang mendorong karyawan mengidentifikasikan diri dengan mereka dan oleh karenanya menginternalisasikan keyakinan, nilai, dan asumsi mereka. Contoh :

Menjaga Budaya agar Tetap Hidup

Seleksi Tujuan eksplisit dari proses seleksi adalah mengidentifikasi dan memperkejakan individu yang mempunyai pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan melakukan pekerjaan dengan sukses dalam organisasi itu. Keputusan akhir akan sangat dipengaruhi oleh penilaian pengambil keputusan mengenai seberapa baik calon itu cocok dengan organisasi itu, yang punya nila-nilai yang konsisten dengan nilai organisasi. Selain itu, seleksi juga berfungsi memberi informasi pada para pelamar mengenai organisasi itu. Bila para pelamar merasakan ada konflik antara nilai mereka dan organisasi maka mereka bisa keluar dari kumpulan pelamar. Dengan cara ini, proses seleksi mendukung budaya organisasi dengan menyeleksi keluar individu yang mungkin menyerang atau menghancurkan nilai-nilai intinya. Contoh :

Manajemen Puncak

Tindakan orang-orang manajemen puncak memiliki dampak besar pada budaya organisasi. Melalui apa yang mereka katakan, cara berperilaku, senior yang menegakkan norma-norma yang mengalir ke bawah sepanjang organisasi ( cont : pakaian yang pantas dikenakan, berapa banyak kebebasan yang seharusnya diberikan manajer kepada bawahan mereka, dll).

Sosialisasi

Suatu proses adaptasi karyawan dengan budaya organisasi. Saat ada karyawan baru yang mungkin belum kenal baik pada budaya organisasi, maka organisasi akan membantu karyawan baru menyesuaikan diri dengan budaya yang ada di organisasi tersebut ( disebut juga dengan proses sosialisasi ).

Contoh : karyawan baru di restoran kopi terbesar Starbucks menjalani pelatihan 24 jam untuk memahami kebiasaan di Starbucks, bagaimana menjelaskan produk kopi yang diolah dengan berbagai macam mesin (mesin tumbuk, mesin espresso, mesin butiran) kepada pelanggan, mempelajari filosofi Starbucks dan ungkapan-ungkapan yang familiar seperti ”half-decaf double tall almond skim mocha” (skim moka dua tumpuk dengan separuh kafein), dapat menjadi konsultan yang baik saat ditanya pelanggan, sehingga hasil dari pelatihan tersebut adalah para karyawan memahami budaya Starbucks dan diperkirakan mampu berhubungan dengan para pelanggan secara bersemangat dan berpengetahuan.

Tahapan sosialisasi :

  • Tahap Prakedatangan

Tahap pertama meliputi segala macam pembelajaran yang terjadi sebelum anggota baru bergabung dengan organisasi. Karena setiap individu baru dalam suatu organisasi tiba dengan seperangkat nilai, sikap dan harapan masing-masing.

Misal : saat A hendak masuk dalam organisasi dalam bidang pemasaran maka A akan menjalankan tingkat sosialisasi awal melalui pelatihan di tempat kerja (kerja magang) dan pengajaran di sekolah (pengajaran di fakultas ekonomi manajemen pemasaran tentang perilaku bisnis yang diinginkan oleh perusahaan-perusahaan bisnis).

Terkadang proses seleksi dilakukan dalam kebanyakan organisasi untuk memberitahu calon karyawan informasi mengenai organisasi itu sebagai keseluruhan. Proses seleksi juga berperan memastikan masuknya ”tipe orang yang benar” dalam organisasi. Jadi kesuksesan calon karyawan baru untuk dapat diterima dalam organisasi bergantung pada sejauh mana anggota yang bercita-cita tinggi itu dapat memenuhi harapan dan hasrat orang di dalam organisasi yang bertugas menyeleksi.

  • Tahap Keterlibatan ( Encounter )

Tahap dalam proses sosialisasi di mana karyawan baru melihat yang sesungguhnya organisasi dan menghadapi kenyataan dengan harapan dapat berbeda. Jika harapan dan kenyataan berbeda , karyawan baru itu harus menjalani sosialisasi yang akan membantunya untuk memiliki asumsi yang sama dengan yang diinginkan perusahaan. Dan anggota baru harus dapat menyelesaikan setiap masalah yang ada dalam organisasi (pada tahap keterlibatan ini) agar dapat melanjutkan ke tahap metamorfosis.

  • Tahap Metamorfosis

Tahap dalam proses sosialisasi dimana karyawan baru berubah dan menyesuaikan diri dengan pekerjaan, kelompok kerja dan organisasi. Karyawan baru dapat menguasai ketrampilan yang diharapkan organisasi, berhasil melakukan peran dan melakukan penyesuaian terhadap nilai/norma perusahaan.

Proses metamorfosis dan proses sosialisasi ini dikatakan selesai bila karyawan baru telah merasa nyaman terhadap organisasi dan pekerjaannya. Ia telah menginternalkan norma-norma organisasi dan kelompok kerjanya, memahami serta menerima sistem, prosedur, aturan dan norma tersebut, anggota baru merasa diterima oleh rekan sekerjanya dan individu merasa yakin dengan kompetensi diri sehingga dapat menyelesaikan perkerjaannya.

Proses tiga tahap ini berdampak pada produktivitas kerja, komitmen pada tujuan organisasi, dan keputusan akhir untuk tetap bersama dengan organisasi itu.

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.