PENDAHULUAN
JIKA Guus Hiddink mencalonkan diri jadi presiden, rakyat Rusia mungkin akan berbondong-bondong memilihnya. Bukan hanya lantaran ia sukses mengantarkan negara tersebut ke semifinal Euro 2008, tapi juga karena bisa menyulap sepakbola Rusia yang dingin, dan membosankan jadi hangat, cepat, dan indah. “Guus for President”, teriakan ini memang lantang disuarakan rakyat Rusia sekarang. Di dalam stadion ketika Rusia sedang berlaga, para pendukung tim Beruang Merah kerap menyebut-nyebutnya. Di
jalanan, anak-anak kecil pun berteriak lantang “Guus for President”.
Perjalanan hidup yang luar biasa. Berawal dari Achterhoek, sebuah sudut urban di Belanda, Hiddink kecil berangan-angan dan memasang cita-cita sebagai seorang petani. Sebagai anak desa di wilayah pertanian, menjadi petani dengan sawah garapan sendiri memang jamak jadi cita-cita tertinggi. Tapi sepakbola, yang semula diajarkan temannya, mengubah cita-cita Hiddink kecil. Semula hanya ikut-ikutan teman, ia lantas serius bergabung dengan klub amatir lokal, SC Varsseveld. Posisinya adalah gelandang.
Debut karir profesional dijalani Hiddink ketika bergabung dengan klub Belanda, De Graafschap, pada tahun 1967. Dia kemudian mulai bersinar dan menjadi pemain yang diburu para fan. Tiga tahun berlalu, Hiddink bergabung dengan klub PSV Eindhoven yang kini dikenal sebagai klub Belanda yang banyak melahirkan pemain terbaik. Sayang, Hiddink gagal meraih posisi utama dan akhirnya kembali ke De Graafschap. Dia menghabiskan waktu bersama De Graafschap hingga 1976. Hiddink juga sempat bermain di liga sepakbola Amerika Utara saat bermain bersama Washingtong Diplomat di periode Juli hingga Desember 1976. Ada lagi klub San Jose Earthquakes di liga yang sama hingga akhirnya Hiddink kembali ke Belanda untuk bermain di klub NEC pada akhir tahun 1977. Karir Hiddink sebagai pemain berakhir pada tahun 1982. Sebelum memutuskan pensiun, Hiddink kembali bergabung bersama klub pertamanya, yaitu De Graafschap, setahun sebelumnya. Meski memutuskan untuk gantung sepatu, Hiddink tetap berkecimpung di dunia sepakbola. Berbekal pengalamannya sebagai asisten manajer De Graafschap, Hiddink mengambil kesempatan menjadi manajer PSV Eindhoven pada tahun 1987. Dari sanalah karirnya sebagai pelatih terus melesat, sampai sekarang.
Fenomena yang muncul akibat prestasi yang diraih Rusia sebuah sejarah bagi negara Rusia juga persepakbolaan dunia. Rusia selama ini memang jarang disebut-sebut di pentas sepakbola Eropa. Terakhir, nama mereka sempat bergema pada 1988, itu pun ketika masih bernaung dalam bendera Uni Soviet. Mencapai final Euro 1988 untuk ditaklukkan Belanda 0-2, yang diantaranya lewat gol menawan Marco van
Basten –arsitek Oranye sekarang.
20 tahun kemudian, Rusia sukses membalaskan dendamnya dengan melumat Belanda 3-1 untuk melenggang ke semifinal. Sebuah dendam yang menuntaskan kepenasaran para fan golongan tua. Dan keajaiban mencengangkan bagi fan golongan muda. Dan itu terjadi karena faktor Guus Hiddink. Ahli taktik genius yang menyulap 23 pemain tak dikenal, menjadi bahan pembicaraan setiap orang di seluruh dunia. “Hiddink lebih hebat dari Houdini (pesulap legendaris),” puji rakyat Rusia. Koran Rusia pun ramai-ramai memujanya. Semua koran di sana memajang foto Guus Hiddink di halaman depan, dengan ukuran foto sangat besar, yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Tak pernah sepakbola Rusia seindah ini sepanjang sejarahnya, ” tulis Rossiiskaya Gazeta, seperti dikutip lagi dari Times Online. `Koran Nezavisimaya Gazeta bahkan untuk pertama-kalinya menulis judul headline dengan bahasa Inggris “Made in Russia”, dengan foto Guus Hiddink terpampang besar. Di bawahnya ditulis juga “Kunci utama keajaiban sepakbola Rusia.”
Tak semua pihak setuju dengan pendewaan pria kelahiran Varsseveld, Belanda pada 8 November 1946 ini. Direktur Teknik UEFA, Andy Roxburgh menilai, Guus berada di tempat yang tepat. Menurutnya, Rusia memang sekarang dalam performa puncak karena punya waktu istirahat jauh lebih panjang. Kata Roxburgh, saat liga negara lain di Eropa masih berlangsung, Liga Rusia justru sudah usai. “Jadi, mereka punya waktu lebih panjang untuk istirahat, dan untuk fokus ke Euro ini,” ujarnya.
Ia merujuk pada perempat-final ketika Rusia menggilas Belanda 3-1 lewat perpanjangan waktu. “Terlihat para pemain Rusia lebih bugar. Memang mereka punya para pemain bagus. Pelatih jempolan. Tapi faktor staminalah yang utama,” tuturnya.
Komentar kritis mantan pelatih Skotlandia ini tak banyak didengar. Suaranya menghilang di tengah gaung mendewakan Guus Hiddink. Hal yang tak bisa dihindari lantaran catatan karirnya memang fenomenal. Sentuhannya memang selalu menghasilkan keajaiban. Lihat saja kiprah pasukan Korea Selatan yang mengejutkan dunia ketika merebut tempat di semifinal Piala Dunia 2002. Tengok juga bagaimana Australia dalam debutnya di Piala Dunia 2006 tiba-tiba saja lolos ke putaran dua. “No Guus no Glory” demikian teriakan mereka yang terkagum-kagum dengan meneer Belanda. “In Guus we Trust” demikian juga kepercayaan mereka pada pria yang menguasai multi bahasa ini. Akankah keajaiban
Guus Hiddink dengan pasukan Rusianya ini berlanjut?
Inilah pelatih dengan rekor nickname (julukan) terbanyak. Berbagai prestasi yang diraihkan, baik semasa jadi pelatih level klub, hingga negara, memang menghasilkan juga berbagai julukan. Tahun 1998, ketika mengarsiteki Belanda ke semifinal Piala Dunia 1998 di Prancis, publik Belanda menjulukinya “Guus Geluk” atau si Guus yang beruntung. Tahun 2002 ketika mengantar Korea Selatan ke semifinal Piala Dunia 2002, ia dijuluki “Hiddingu”, sebuah penghormatan dengan membumikan namanya dalam lafal orang Korea. 2006 saat ia meloloskan debutan Australia ke putaran dua Piala Dunia 2006, publik Australia menyebutnya sebagai “Ausie Guus”. Dan kini, ketika Rusia melenggang ke semifinal Euro 2008, ia pun mendapat julukan baru “Tsar Guus”.
Sebenarnya apa faktor-faktor rahasia yang membuat seorang Guus Hiddink mampu menjadi seorang pelatih yang memiliki gaya kempimpinan yang begitu fenomenal dan apa ada kaitan antara psikologi olahraga dengan keberhasilan Guus Hiddink dalam mencapai prestasi-prestainya yang begitu menkajubkan dengan mampu membawa underdog yang tidak dipandang satu matapun oleh tim-tim besar Eropa.
PEMBAHASAN
Memimpin suatu tim sepakbola memiliki banyak persamaan aspek dengan pengelolaan suatu organisasi. Diperlukan visi dan strategi yang kuat, ada kegiatan operasional implementasi dari rencana yang telah disusun, dan melibatkan juga aspek-
aspek efisiensi dan efektifitas keuangan.
Guus Hiddink mampu menggunakan setiap sumber daya kekuasaan yang ada padanya untuk mampu mengubah pola perilaku daripada pemainnya. yang pertama adalah Expert Power karena ia memiliki track record yang luar biasa sebelumnya dengan Belanda, Korea, dan Australia, sehingga menimbulkan suatu kepercayaan sendiri dari Rusia bahwa ia akan mampu memimpin mereka. Aspek pertama seorang pelatih yang berhasil adalah ia dipercaya oleh anak buanya bahwa ia mampu melatih mereka. Kekuasaan ini juga dintunjang dengan Legitimate power yaitu kekuasaan yang dimiliki seorang pemimpin sebagai hasil dari posisinya dalam suatu organisasi atau lembaga. Kekuasaan yang memberi otoritas atau wewenang (authority) kepada seorang pemimpin untuk memberi perintah, yang harus didengar dan dipatuhi oleh anak buahnya dan juga ciri kepemimpinan yang autokratik memutuskan sesuatu sendiri. Pada pelatih yang autokratik, ia memilih sendiri bawahan, melatih jadwal, dan bermain dengan sedikit masukan dari pemain dan asistennya. Jadi dalam melakukan segala sesuatu kepada timnya ia memmiliki kekuasaan yang luas dan cenderung tidak menerapkan sisi demokratis di dalam kepemimpinannya. Seperti, ia banyak dikritik oleh media mengenai pola kepemimpinannya yang cenderung tegas dan disiplin, di mana Hiddink mulai menangani Rusia pada Juli 2006, di awal kepemimpinannya, Hiddink telah menunjukkan sifat tegas dengan memulangkan Sergei Ignashevich yang kerap terlambat datang di sesi latihan. Dia mengatakan bahwa para pemainnya harus tepat waktu. Nasib sama juga menimpa Alexander Kerzhakov yang dinilai Hiddink terlalu malas. Terlepas dari itu, ia juga banyak mematahkan anggapan tentang pemain yang tua lebih pantas bermain karena memiliki lebih banyak pengalaman nyatanya Hiddink malah mengundang para pendatang baru bagi tim Rusia. Salah satunya Dmitri Torbinsky, yang lalu menyumbangkan satu gol
untuk kemenangan Rusia 3-1 di partai perempat final melawan Belanda. Coercive power telah ditunjukkan oleh Guus Hiddink dengan kemampuannya sebagai pemimpin untuk memberikan hukuman kepada pemain yang memang benar-benar tidak memenuhi syarat. Sehingga kepemimpinan Hiddink ini sering dianggap sebagai sebuah gaya yang kuno karena selalu menekankan paksaan tetapi hal ini memberikan bukti yang lain bahwa kepemimpinan gaya lama ini tidak selamanya tidak efektif karena ada beberapa hal yang menjadi sisi positif dari Hiddink yang tidak dimiliki oleh pelatih lain.
Sisi positif itu adalah kemampuannya untuk mengembangkan kekuasaan penghargaan (reward power) yaitu Yakni kekuasaan untuk memberi keuntungan positif atau penghargaan kepada yang dipimpin.Tentu hal ini bisa terlaksana dalam konteks bahwa sang pemimpin mempunyai kemampuan dan sumberdaya untuk memberikan penghargaan kepada bawahan yang mengikuti arahan-arahannya. Ia selalu memberikan arahan bahwa pemain yang mampu berlatih fisik secara rutin dan displin maka akan mendapatkan tempat langsung di kursi utama pemain. Ia tidak memandang kesenioritasan tetapi menganggap sama semua pemain dan memberikan kesempatan yang sama kepada semua pemain untuk menduduki skuad utama. Hal yang biasa dilakukan pelatih adalah menggantung tim pada pemain bintang seperti di Prancis yang mengandalkan Thiery Henry karena faktor keseniorannya dan namanya yang sudah banyak dikenal. Guus Hiddink tidak pernah mempedulikan masalah tersebut, ia berani mencoret salah satu pemain senior di Rusia karena perilakunya yang tidak sesuai dengan arahannya.
Faktor penentu lain adalah kemampuan Hiddink untuk mengkritisi budaya suatu negara yang mempengaruhi pola permainan dan kerjasama di dalam tim sepakbola. Riset yang pernah dilakukan perusahaan samsung terhadap kepemimpinan Guus Hiddink di Korea Selatan. Salah satu contoh kasus yang ia hadapi adalah Hiddink menemui kesulitan ketika harus mengaplikasikan teori sepak bola barat yang dimilikinya. Ia mengetahui persoalan utamanya terletak pada budaya dan etika Konfusianisme terutama soal aturan senioritas yang menghambat komunikasi antarpemain. Setiap meja diperuntukkan bagi kelompok pemain menurut urutan senioritas. Uniknya, selama makan tidak ada komunikasi antarsatu dan lain kelompok.” Saat itu juga Hiddink mengetahui persoalan sebenarnya sepak bola Korsel. Ia meminta pengurus Federasi Sepak Bola Korea untuk mengubah meja makan pemain. Hiddink tidak menginginkan ada pengelompokan pemain sesuai usia dan lamanya bermain di tim nasional, dan menginginkan semuanya berbaur. Sebagai gantinya, Hiddink menginginkan satu meja makan panjang untuk semua pemain. Tidak ada kursi senioritas, atau bagian-bagian tertentu untuk mereka yang dianggap lebih berpengalaman. Pemain junior dan senior saling berhadapan pada saat makan pada jarak sangat dekat. Ia juga memberikan tugas kepada setiap pemain senior untuk membuat jurnal harian dengan menanyakan apa yang menjadi keinginan dari pemain junior terhadap tim Korsel. Hal ini membuat pemain di dalam tim tidak lagi saling diam bila ada kesalahan saat pertandingan tetapi membuatnya mapu berkomunikasi satu sama lain. Hiddink sangat pandai dalam membangun komunikasi anatar pemain di dalam sebuah tim, hal itu yang ia lakukan kepada tim Rusia untuk menyatukan antara mereka yang senior dengan yang junior untuk membangun komunikasi dan kerjasam tim yang baik. Karena menurut Hiddink yang terpenting adalah mengembangakn kerjasam di dalam tim tidak peduli dengan status apapun. Ia selalu dikenal dengan pelatih yang mengesampingkan masalah diskriminasi apapun di dalam timnya dan selalu memperjuangkan kesetaraan.
Ia juga mengembangkan sistem kompetisi di dalam tim, seperti yang dibahas di atas ia tidak pernah peduli dengan pemain senior, bila mereka kalah di dalam berkompetisi mereka tidak akan terpilih dan hasilnya memakan cukup korban. Tetapi cara yang dipakai ini sangat tepat karena kompetisi selalu memunculkan motivasi yang lebih intrinsik sehingga pemain lebih memiliki semangat yang menggebu di dalam memperjuangkan diri untuk masuk ke dalam skuad utama dan menjadikan mereka berlatih lebih keras. Sistem kompetisi yang diterapkan ini memberikan efek yang positif kepada pemain-pemain Rusia yang membuat mereka akhirnya memiliki kemampuan fisik yang setara dengan pemain-pemain negara Eropa favorit karena motivasi untuk masuk tim utama ini.
Kemampuan kepemimpinan Hiddink telah dikenal dengan nama Hiddink Way, begitu orang Korea menyebutnya, berjalan sesuai rencana. Namun, sampai beberapa bulan sebelum piala dunia, Korsel hanya beberapa kali tampil mengesankan di depan publiknya. Saat menghadapi Prancis, misalnya, publik Korsel mulai bisa melihat kemampuan pemain Korsel mencetak gol ke gawang tim Eropa. Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kemampuannya yang juga sama ditunjukkan dengan mampunya Rusia untuk meloloskan diri sampai ke babak semifinal padahal pada pertandingan awal Rusia harus menelan kekalahan yang memalukan karena kalah 4-1 dari Spanyol tetapi Hiddink memamng memiliki ramuan taktik yang begitu luar biasa dan pelajaran yang luar biasa yaitu tanpa diketahui banyak media massa, Hiddink saat itu telah memberikan sentuhan think and play kepada pemain-pemainnya. Ia mengajarkan bagaimana mengambil keputusan di saat tertekan, dan mengatasi tekanan lawan dan Ia mengajarkan kepada semua pemain bagaimana memainkan perubahan karakter bermain di lapangan, saat menyerang atau ketika diserang. Ia mengubah Rusia menjadi sebuah tim setara dengan tim-tim unggulan Eropa
Kehebatan Guus Hiddink yang luar biasa adalah kemampuannya merubah mentalitas “klub kecil” yang menghinggapi Korea Selatan, Australia dan Rusia menjadi tim dengan pemain yang memiliki self confidence yang luar biasa tinggi. Hiddink dikatakan memiliki kemampuan khusus untuk memikat dan menang atas para pemainnya. Sebelum Piala Dunia 2002, Hiddink berkata kepada para pemain Korsel bahwa mereka akan mengejutkan dunia. Begitu pula saat Korsel melangkah ke perempat final, Hiddink mengungkapkan pernyataan-pernyataan yang membangkitkan semangat para pemain. Salah satunya, apakah kamu menginginkan yang lebih? Taktik serupa juga diterapkan Hiddink dalam tim Rusia. Tanpa ragu, Hiddink mengaku siap disebut sebagai pengkhianat kalau Rusia berhasil mengalahkan Belanda. “Pelatih (Guus) Hiddink selalu berkata kalau kami bisa mengalahkan tim mana pun,” ungkap top skor Rusia, Ivan Saenko. Mereka menjadi merasa “sejajar” dengan siapapun. Dalam perang, keyakinan diri seperti itu sudah merupakan 1 langkah kemenangan. Rusia beberapa hari lalu tampil dominan dan sangat percaya diri menghadapi Belanda yang jauh lebih favorit dan memiliki banyak pemain lebih terkenal.
Kemampuan-kemampuan secara personal yang membuatnya lengkap menjadi seorang pemimpin adalah kemauannya untuk selalu belajar dan mengenal hal-hal yang baru. Guus Hiddink percaya, komunikasi dengan para pemain menjadi kunci utama untuk bisa membentuk sebuah tim yang solid. Dan komunikasi hanya bisa terjalin jika ia memahami bahasa para pemainnya. Filosofi itulah yang membuat sang meneer lantas menjadi ahli linguistik dan sekaligus juga belajar bahasa ibu dari tiap negara yang disinggahinya. Hasilnya mencengangkan. Ia menguasai tujuh bahasa, dan semuanya dalam derajat sangat fasih, yakni bahasa Belanda, Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, Korea, dan Spanyol. Ia pun menguasai secara pasif bahasa Italia. Kini ia siap menambah lagi perbendaharaan bahasanya lantaran Hiddink sekarang sedang belajar bahasa Rusia.
Dalam wawancara dengan Guardian beberapa waktu lalu, Hiddink mengatakan seorang pelatih memang harus memahami faktor budaya setempat, sebagai pondasi untuk bisa membentuk sebuah tim yang kuat. “Saya punya banyak alasan belajar bahasa. Saya percaya, hanya dengan memahami kebudayaan sebuah negara, kita bisa memahami karakter para pemainnya. Dan itu penting untuk terbentuknya sebuah tim,” ujar Hiddink. Kemauannya untuk mengenali budaya negara yang ia latih juga ditunjukkan pada saat lagu kebangsaan Rusia dikumandangkan ia juga ikut menyayikannya dengan fasih sampai-sampai Presiden Rusia Dmitri Medvedev memberikan tawaran kepadanya untuk mau menjadi warga negara Rusia,
KESIMPULAN
Faktor-faktor rahasia yang menjadi kekuatan Guus Huddink untuk mampu membawa tim-tim underdog untuk mencapai prestasi yang laur biasa adalah gaya kepemimpinanya yang cenderung autokratif yang tegas dan disiplin tetapi ia juga mengembangkan kepemimpinan yang mengembangkan motivasi intrinsik seoraang pemain dengan kompetisi dan membrikan reward yang benar-benar pantas kepada mereka yang berhasi mengikuti arahannya. Selain tiu, aia adalah seorang pemimpin yang konsisten dengan apa yang akan ia lakukan tanpa mempedulikan perkataan media karena ia tahu bahwa apa yang ia lakukan tepat dan ia memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengembangkan kerjasama tim juga mengesampingkan senioritas.
Peran psikologi olahraga di dalam melihat kasus-kasus seperti adalah kemampuan untuk menggambarkan fenomena yang terjadi seperti Guus Hiddink dan mencari apa yang menjadi faktor kesuksesan yang diraih oleh pelatih tersebut sehingga muncul suatu wacana baru di dalam dunia kepelatihan yang nantinya akan mampu untuk diterpkan di berbagai bentuk tim baik di mancanegara maupun di dalam negeri. Indonesia sangat memerlukan sekali pakar-pakar psikologi olaharaga yang mampu menganalisis secara tajam fenomenay yang terjadi di manca negara sehingga dapat memberikan masukan bagi kemajuan dunia olaharaga Indonesia. Majulah terus perolahragaan Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Gunarsa, Singgih D. (1996). Psikologi Olahraga. Teori dan Praktik. Jakarta. Gunung Mulia
Persada Network. (2008). Sihir Hiddink. Diunduh 6 Juli 2008, from http://www. banjarmasinpost.co.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=32745.
Waan, D. L. (1997). Sport psychology. New Jersey; Prentice Hall. inc

thumbs up