Judul: Orang Nasrani, Pandu Bangsamu Buku 1
Pengarang : Samuel Tumanggor
Penerbit: satu-satu
Tahun: 2007
Halaman: 179 Halaman
Indonesia tanah airku tanah tumaph darahku
di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku
Sepenggal kata-kata di atas merupakan kalimat pembuka dari syair lagu kebangsaan dan kebanggan kita-Indoensia Raya benar-benar telah merasuk ke seluruh jiwa dan pikiran kita, bahkan dua kalimat ini akan mudah sekali kita keluarkan tanpa perlu mengerahkan seluruh pikiran dan tenaga untuk mengucapkannya di setiap kita menyayikannya baik saat upacara bendera maupun waktu memperingati hari kemerdekaan. Namun pertanyaannya apakah sesuatu yang kita ucapkan dengan mudah bahkan sudah merasuk di dalam pikiran bawah sadar kita telah mampu kita wujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terlebih lagi kita sebagai orang Kristen yang menyatakan diri sebagai garam dan terang dunia. Penulis dengan tegas membuka seluruh rangkaian tulisannya dengan pertanyaan sudahkah kita sebagai orang nasrani menjadi pandu bagi ibu pertiwi di tengah-tengah kondisi pembusukan nasib bangsa dan memiliki semangat nasionalisme kristen?
Penulis (Samuel Tumanggor) yang merupakan lulusan dari salah satu jurusan teknik Institut Teknologi Nasional dan sekarang aktif di dalam projek terjemahan dinamis Alkitab perjanjian lama dengan sistematis menyususn pasal-pasal (ia memberikan nama bab dengan istilah pasal) seperti sebuah album musik yang setiap pasal otonom. Jadi, setiap pasal mempunyai aransemen yang berbeda-beda. Konsep yang penulis angkat merupakan pemikiran yang original yang memiliki kepedulian dan beban yang kuat terhadap bangsa ini yang jarang sekali ditemui di kalangan orang-orang Kristen, bahakn keunggulan buku ini , penulis dapat mengemas bahasanya dengan sederhana sehingga setiap kalangan akan sangat mudah untuk mencernanya. Kiprahnya di bidang penulisan juga telah menghasilkan sebuah buku sebelumnya dengan judul Demi Allah dan Demi, yang mengambil inspirasi dari perkataan seorang Kristen yang memiliki peran begitu luar biasa di kancah pemerintahan Soekarno yaitu Johannes Leimena bahwa “Negara Indonesia adalah suatu karunia Allah kepada bangsa Indonesia dengan suku-suku bangsany. Dengan demikian Allah mempunyai suatu maksud dengan kita sebagai negara dan bangsa.” Buku ke-2 ini menjadi lanjutan kerinduan penulis untuk memaparkan pandangan kebangsaan dari sudut pandang orang Nasrani dan berbagi mengenai konsep kebangsaan.
Dalam buku Orang Nasrani, Pandu Bangsamu ini, penulis membagi pembahasannya menjadi 3 sub bahasan. Bagian pertama penulis menekankan pada pendaratan kewarganegaraan surga kita dalam kewarganegaraan bumi/keindonesiaan. Sesuai dengan pertanyaan pembuka, banyak dari kita lupa akan peran kita untuk dapat memandu negeri kita tercinta menuju kepada jalan kebenaran. Allah menyatakan perntaaan umum kepada semua orang untuk memberikan kita nurani untuk berkumpul dalam suatu bangsa dan menjadi pejuan bagi bangsa kita yang terwujud di dalam lagu-lagu kebangsaan setiap negara seperti Taiwan yang menegasakan setiap penduduk untuk memcut diri untuk melanjutkan pemulian ibu pertiwi. Sedangkan pernyataan khusus, Alkitab kerap kali menunjukkan bahwa nasib dari suatu bangsa ditentukan oleh tindak-tanduk anak-anak bangsa yang memimpinnya, jika kita memimpin tanpa ketundukan kita kepada Tuhan dan keberdosaan kita maka celakalah bangsa yang kita ini, hal ini sesuai dengan Firman Allah (Im 18:26-28, Ul 9:4-5). Sekali lagi penulis menekankan kepad setiap kita orang-orang percaya untuk berani mengambil bagian di dalam kepemimpinan negeri ini karena negeri ini akan hancur secara cepat maupun lambat bila dipimpin selalu oleh orang-orang yang tidak tunduk kepada Tuhan dan tidak akan terberkati. Penulis juga mengkritisi akan ajaran Kristen yang menekankan akan kewarganegaraan surga sehingga memisahkannya dengan kewarganegraan bumi karena dipenuhi ketakutan akan penodaan kekudusan karena bersinggungan dengan dunia sekularitas. Tentu hal ini tidak benar bila kita memisahkannya karena dalam Doa Bapa kami jelas terungkap bahwa Yesus menyatakan jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga, selagi kita hidup di bumi kita harus membawa kehendak kerajaan sorga di bumi juga. Penulis juga melihat fenomena di gereja-gereja saat ini yang selalu menekankan kita sebagai kelompok minor sehingga tidak mungkin orang Kristen memiliki peran di dalam negara dan cuma sanggaup mengeluarkan jargon-jargon seperti “kita buat iblis gemetar,” “Transformasi bangsa pasti terjadi,” dan “Indonesia penuh kemuliaan,” tetapi kita tidak lupa berdoa dan beraksi. Karena kelemahan-kelemahan ini membuat gereja lupa mendorong anak-anak muda yang menjadi tunas harapan bangsa untuk dapar berkiprah dan berperan di dalam keseharian mereka maupun pikiran-pikiran kritis mereka. Padahal sejarah Indoensia membuktikan bahwa kegerakan yang luar biasa terjadi di Indonesia banyak dipelopori oleh orang muda seperti WR Supratman menciptakan lagu Indonesia Raya pada usia 23 tahun juga Johannes Leimena mempersatukan pemuda Indonesia pada usia yang sama. Ini menjadi PR bagi gereja dan lembaga-lembaga Kriten untuk mempersiapkan tunas-tunas bangsa yang siap memimpin bangsa. Kita juga sering berpikir siapakah kita, sehingga kita layak untuk menjadi pandu bagi negeri ini. Sudah terlalu banyak contoh-contoh nyata, siapapun kita pasti dapat berperan bagi bangsa ini seperti Johannes Leimena (dokter merangkap politikus dan mentri kesehatan) dan Romo Yusuf (pastor merangkap arsitek yang berjuan bagi keadilan rakyat kecil). Menurut saya, bangsa ini benar-benar merindukan pemimpin-pemimpin yang memiliki karakterk Kristiani yang benar-benar berserah dan takut akan Tuhan supaya menghasilkan dampak yang benar-benar menjadi Terang di tengah kegelapan bangsa saat ini. Anda semua wajib menjadi pemandu bagi bangsa ini dalam segala hal yang anda kuasai asalkan anda memiliki kehidupan spiritualitas yang sehat. Yang cukup disayangkan, penulis di dalam tema ini kurang banyak menyoroti dari sudut pandang kepemimpinan dan peran Yesus yang secara riil pada saat ia hidup terhadap bangsanya, padahal saat awal-awal bab ia sempat menyinggung mengenai teladan Yesus yang seharusnya menjadi contoh bagi kaum Nasrani. Yang kedua adalah isi yang akan disampaikan terlalu padat sehingga pembahsannya belum sampai mendalam hanya sebatasa pemaparan sebuah ide yang cepat.
Banyak dari kita mungkin juga mempertanyakan apakah Allah benar-benar berperan di dalam pembentukan dan setiap kejadian yang terjadi di dalam bangsa Indonesia. Tentunya beberapa dari kita ada yang pernah memikirkannya dan ada yang tidak peduli akan pertnyaan ini, namun penulis merasa bahwa pertanyaa ini penting sekali untuk dijawab. Ia mengatakan bahwa “Ya” Bangsa Indonesia ini ada sepenuhnya adalah pembentukan dari Tuhan. Keyakinan jawaban ini serasa terbantahakan dengan kondisi jaman yang serasa jauh dari “kasih Allah” yang penuh dengan kedamaian dan ketentraman. Sangat sulit bagi kita untuk benar-benar dapat menerima bagaimana mungkin bangsa yang dikenhendaki Tuhan menjadi seperti ini. Penulis mengajak setiap kita untuk menundukkan hati dan pikiran kita untuk mengerti apa yang bisa kita pelajari. Sebagai pembuka, penulis melihat dari sudut pandang pembentukan bangsa-bangsa seperti persebaran orang-orang kulit hitam yang bermula dari jasirah Arab menyebar ke Eropa, Amerika, akhirnya sampai ke Asia bahkan pakar antropologi mengatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah mereka (ras negroid). Segala misteri persebaran in menjadi salah satu jawaban bahwa suatu bangsa dapat terbentuk benar-benar karya Ilahi dan sulit bagi kita untuk dapat mengertiNya karena banyak hal yang belum tersingkap dan Allah yang berperan aktif dalam pembentukan ini. Bagaimana dengan kasih Allah kepada bangsa ini dapat dijelaskan? penulis melihat bahwa kasih yang diterima oleh setiap bangsa bukan berarti kasih itu merupakan hal-hal yang menyenangkan saja tetapi itu juga bersamaan dengan keadilan yang Allah nyatakan, karena itu kita tidak dapat menyoroti setiap kesusahan yang dialami bangsa kita semata-mata karena Allah tidak mengasihi Indonesia. Sekali lagi, kita harus menempatkan Allah sebagai otoritas tertinggi dari segala sesuatu yang ada di bumi ini karena hanya Dia yang tahu awal dan akhir daripada bangsa ini. Sekarang kita dapat melihat bagaimana pimpinan Tuhan yang begitu luar biasa di dalam pembentukan bangsa ini mulai dari persebaran orang kulit hitam kemudian rasa mongoloid yang masuk ke Indonesia, kemerdekaan atas penjajahan Belanda yang boleh membebaskan bangsa ini dari belengggu penyiksaan dan pemersatuan suku-suku bangsa yang ada, dapatkan kita mengatakan lagi bahwa apakah Allah benar-benar menuntun pembentukan Indonesia. Begitu banyak karya Tuhan yang luar biasa kepada bangsa ini, sekarang hanya menyisakan sebuah pertanyaan maukah kita untuk menjadi pandu bagi bangsa ini?
Penulis mengakhiri keseluruhan rangkaian penulisannya dengan menganggkat sebuat tema yang berjudul “Kuat Kuasa Tulisan.” Mendengar kata tulis-menulis mungkin bagi sebagian kita, hal tersebut merupakan hal yang tidak biasa kita lakukan sebagai orang Nasrani Indonesia. Kita perlu mengingat sebuah karya radikal yang pernah dibuat oleh seorang anak bangsa yang bertebal hanya 16 halamn dan diterbitkan tahun 1913, buku itu berjudul Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang ditulis oleh Ki Hajar Dewantara. Tulisan tersebutlah yang membakar semangat anak-anak bangsa untuk bangkit bagi ibu pertiwi dan membuat Belanda marah besar terhadap beliau. Tulisan bukan hanya berhenti menjadi sampah yang tidak memiliki guna setelah dibaca tetapi yang perlu kita sadari bahwa tulisan mampu melahirkan sebuah bangsa seperti Indonesia. Penulis di buku ini membahsa sangat menarik mengenai pentingnya suatu gagasan yang muncul akan mampu memberikan pengaruh seperti membutakan pikiran orang (buku Mein Kampf karya Hitler yang mengagung-agungkan bangsa Jerman), dan membentuk citra (fenomena bagaimana SBY dapat mendapatkan simpati dan memenangkan pemilu karena artikel-artikel yang ditulis oleh pers). Penulis juga menyinggung tugas besar bagi Gereja Indonesia untuk dapat memandu anak-anak bangsa untuk mampu menuangkan setiap ide-ide ke dalam tulisan sehingga bangsa ini tidak selalu tergantung kepada pustaka-pustaka orang Nasrani Barat. Pada bagian akhir tulisannya, penulis mencoba melakukan peneropongan terhadap penyebab mengapa seorang anak Indonesia sangat tidak gemar menulis dan ia membagikan penglamannya yang lebih sering terlibat di dalam dunia tulis menulis dengan memberikan beberapa kiat-kiat.
Sayangnya buku ini sering mengulang-ulang inti bahasan dengan mengemasnya secara berbeda-beda seakan-akan terkesan terlalu bertele-tele, tetapi Secara keseluruhan buku ini sangat cocok kita baca dengan santai karena bahasanya cukup merakyat dan cukup praktissehingga kita bisa merenungkan secara lebih mendalam mengenai masalah kebangsaan secara Kristiani. Di dalam momen-momen memeringati hari kemerdekaan, buku ini sangat pas sekali untuk kita beli dan baca selain karya dalam negeri juga mampu menggugah semangat kita untuk mencari peran yang ditempatkan Allah kepada setiap kita untuk mampu berperan bagi bangsa ini.
Jadi apa lagi yang saudara tunggu untuk menulis? Apakah di dalam pikiran saudara-saudara tidak ada satu gagasan atau ide yang pernah muncul? Bangsa ini akan selalu menantikan kehadiran anda dalam kancah penulisan yang akan membawa perubahan bagi Indonesia selagi Tuhan masih mengijinkan anda untuk menulis! Semoga Tuhan selalu menanamkan rasa cinta dan bangga akan tanah air tercinta dan Tuhan menggugah setiap kita untuk memandu Ibu Pertiwi di segala bidang kita! Majulah Indonesia!
