
Hal pertama yang bisa saya pelajari adalah pengotak-ngotakan, memang secara tidak disadari saya selalu berkumpul dengan orang yang berada di dalam satu rasa saya yaitu orang keturunan Tionghoa pertama, kedua dengan orang-orang yang berada di sosial ekonomi yang sama yaitu menengah ke atas dan ketiga saya lebih suka untuk berkumpul dengan orang yang sesama Kristiani. Kondisi ini terjadi karena ketika berada di dalam masyarakat kita tidak akan dapat melepaskan diri dari status yang kita bawa, di dalam buku ini dinamakan dengan catur sosial. Jadi ketika memulai relasi dengan lingkungan yang baru, saya merasakan bahwa saya selalu memilih-milih dahulu orang mana yang akan saya jadikan teman terlebih dahulu, saya langsung memasukkan mereka ke dalam ranking yang saya buat. Pada dasarnya seorang manusia akan menilai seseorang hanya dari status yang mereka bawa, tidak mungkin saat pertama kali bertemu dapat melihat seluruh sifat seseorang yang terlihat hanya status yang tampak, yang akhirnya kita akan membuat label-label tertentu . Belajar dari Yesus yang sangat luar bIasa mampu menanggalkan seluruh status dan papan catur sosIal yang Ia bawa untuk dapat bergaul bahkan berinteraksi lebih dalam dengan orang-orang yang non-Yahudi bahkan orang yang paling dianggap berdosa di mata orang Yahudi yaitu pemungut cukai. Yesuspun menghancurkan kemurnIan etnis yang diangggap sebagai suatu budaya Palestina. Pada saat itu memang yang paling menjadi masalah adalah mengenai orang Yahudi dan non-Yahudi. Terdapat jurang pemisah yang sangat jauh antara orang Yahudi dan non-Yahudi. Orang Yahudi tidak dapat menerima ajaran Yesus bahwa berkat yang diterima oleh Abraham untuk semua bangsa, apalagi keselamatan yang diterima berlaku untuk semua orang. Yesus juga melakukan banyakk mujizat kepada orang-orang non-Yahudi yang menggambarkan suatu makna bahwa Ia sedang mengabarkan misi mesIasnik yang membuat orang-orang yang dIanggap kafir oleh orang Farisi menjadi percaya bahwa Yesus adalah benar-beanr MesIas, ironisnya hal-hal yang dilakukan oleh Yesus ini tidak membuat orang-orang Farisi percaya akan siapa Yesus yang sebenarnya. Hal ini menunjukkan bahwa kabar baik mengenai keselamatan tidak bergantung kepada sIapa kita dan status kita tetapi kabar baik ini akan masuk ke dalam seluruh penjuru dunIa baik suku-suku yang terpinggirkan maupun suku-suku yang superior. Pelajaran yang saya tarik adalah saya sering menganggap ada orang yang saya rasa sudah tidak layak untuk mendengar berita keselamatan akibat dari perbuatannya yang benar-benar kejam, tapi semua itu salah orang-orang yang berada di dalam taraf yang saya anggap paling rendah justru merekalah yang harus mendengarkan kabar baik ini dan Yesus tidak pernah memilih-milih berdasarkan sIapa kita tetapi semua adalah kedaulatanNya. Selain itu Yesus juga banyak menyinggung masalah perbedaan status biologis maupun sosIal sebagai orang Kristen yang mau menjadi serupa dengan Kristus sudah bukan waktunya lagi bagai saya untuk melakukan pembedaan-pembedaan ras. Masalah diskriminasi ras inilah yang paling menegur saya karena secara tidak sadar, saya selalu menganggap orang-orang pribumi terutama mereka yang berada di kalangan sosIal ekonomi yang rendah sebagai orang yang hanya bisa mengacau dan tidak sejajar dengan saya. Saya banyak belajar dari Yesus yang tidak memandang perbedaan ras ini terutama dari sikapnya yang mau masuk ke kawasan orang SamarIa yang saat itu dIanggap merendahakan martabat orang Yahudi. Teladang Yesus yang juga cukup berbicara kepada saya adalah pandangan mengenai status perempuan. Banyak hal yang sudah tertanamkan didalam persepsi dan sikap saya terhadap perempuan. Budaya patrIachi benar-benar kuat masuk di dalam pikiran-pikiran bawah sadar saya setelah saya refleksikan, saya terkadang menganggap perempuan lebih rendah daripada kakum laki dan saya merasa beberapa hal di dalam organisasi tidak cocok bila saya harus melakukan dengan perempuan karena mereka lebih saya lihat tidak mampu dan kurang mandiri. Tetapi Yesus sekali lagi menunjukkan sikapnya yang luar bIasa kepada perempuan yang saat itu juga dIanggap rendah di budaya Yahudi karena perempuan selalu ditempakan lebih rendah dari perempuan dan seorang istripun hanya memiliki tugas untuk melahirkan anak. Yesus dengan sengaja melakukan hal-hal yang dIanggap tidak wajar oleh orang Yahudi yaitu berbicara dengan perempuan SamarIa dan membIarkan perempuan untuk mengikutinya. Perilaku Yesus yang tidak bIasa ini juga menjadi teladan bagi kaum-kaum wanita yang ada sehingga mereka sosok Yesus yang dapat menerima mereka secara penuh sehingga wanita memiliki status yang baru di dalam kerajaan yang sungsang. Selanjutnya adalah bagaimana supaya saya dapat menghindarkan diri saya dari persepsi-persepsi yang sudah saya bawa sejak kecil hingga sekarang supaya dapat berubah. Maka ada beberapa cara yang dIajarkan di dalam buku ini untuk mempercepat usaha untuk memperbaharui sub-sub kelompok yang memecah belah yaitu kita mengakui kelompok-kelompok ini, kemudIan kita harus memandang pada Yesus yang sudah melampui kotak-kotak sosIal dan akhirnya kita harus berusaha untuk melampaui kotak-kotak sosIal seperti yang telah Yesus lakukan.
Selanjutnya yang dapat kita amati di dalam lingkungan sosial sehari-hari kita adalah ketidaklepasan seorang akan status yang vertikal yang juga menjadi pemisah, yaitu penempatan seorang yang berada di bawah dan mereka yang memiliki posisi di atas orang lain. Pemisah ini dinamakan dengan stratifikasi sosial.Kedudukan yang lebih tinggi contohnya seperti ketua di dalam suatu organisasi memiliki kuasa dan kebanggan sendiri dibanding dengan anggota yang tidak memiliki jabatan apapun. Peringkat sosIal ini membuat nilai yang dimiliki seseorang akan semakin besar atau semakin kecil. DunIa sekarang ini sangatlah memandang suatu tingkatan, hampir sebagaIan besar orang akan lebih menghargai para eksekutif-eksekutif muda dibanding dengan pengemis-penegemis tua. Jadi setIap orang yang berada di dalam strata yang tinggi maka akan memiliki suatu keuntugan di mata dunIa ini yaitu kuasa untuk mempengaruhi orang lebih besar, hal ini sudah banyak terbukti bahwa orang yang kaya akan lebih mudah mendapatkan tempat secara politik di dalam negeri ini karena uang lebih banyak berbicara daripada hal-hal yang lain. Apakah hal seperti ini juga terjadi di zaman Yesus, tentu saja juga terjadi. Bahkan para murid Yesus secara tidak sadar juga memperebutkan posisi menjadi yang utama kelak di sorga nanti. Bagaimana dengan Yesus apakah Ia anti dengan yang namanya kuasa. Ternyata tidak, Ia juga banyak menggunakan kata-kata kuasa di dalam keseharIanNya. Namun kuasa yang Ia peroleh bukan dari dunIa politik namun dari Allah sendiri. Kuasa yang Ia miliki tidak Ia gunakan dengan semaunya sendiri tetapi benar-benar untuk menjalankan mandat Ilahi dan orang-orang yang Ia tolong benar-benar merasakan kuasa dari Allah sendriri. Perkataan Yesus mengenai berhenti memanjat juga menjadi suatu perkataan yang berbicara langsung kepada saya karena secara tidak disadari saya juga memiliki usaha-usaha untuk mencari posisi yang lebih dipandang supaya saya menjadi orang yang memiliki kuasa dan dihargai banyak orang. Saya memiliki pemikiran bahwa seseorang tidak akan pernah dihargai bila Ia tidak memiliki cukup banyak uang, ini menjadikan suatu perenungan di dalam hidup saya. Sebaliknya Yesus mengajarkan kita untuk menjadi seperti anak kecil. Anak kecil adalah sebuah sosk manusIa yang memiliki pemikiran yang sangat murni karena mereka tidak melihat perbedaan hiraki, perbedaan sosIal, dan belum terbersit sedikitpun di dalam pemikirannya untuk melakukan manipulasi guna memperoleh kekuasaan lebih. Oleh karena itu, sekarang saya belajar untuk membalik pola pikir mengenai kekuasaan yang dunIa ini ajarkan tetapi harus mulai mengarah kepada ajaran yang Yesusn ajarkan mengenai kebesaran = bawah, pelayan, budak, terakhir, anak-anak. sangat mudah untuk mencerna arti kata-kata kebesaran ini namun akan sangat sulit di dalam menerapkan mkana kata kebesaran ini. Yesus telah menjadi contoh di dalam menerapkan apa yang Ia ajarkan. Ia dahulunya adalah seorang raja yang memiliki seluruh dunIa ini tetapi Ia telah merelakan dirinya untuk turun ke dalam dunIa ini menjadi seorang pelayan bagi manusIa yang seharunya melayani dIa, kisah ini sama dengan analogi kita yang mencucikan pakaIan dan alat-alat makan pembantu kita. Tetapi itulah yang Yesus ajarkan supaya kita menjadi yang terakhir dan melayani sIapa saja, tidak peduli dengan status mereka. Sebenarnya apa manfaat dari pada hiraki-hiraki yang ada, hiraki-hiraki yang selama ini dibagun di dalam masyarakat hanya akan menguntung mereka yang berada di posisi yang atas dan mereka yang berada di posis bawah akan selalu tidak diuntungkan. Dalam hal kekuasaan Yesus bukanlah anti terhadap kekuasaan namun Ia banyak sekali menggunakan kekuasaan yang Ia miliki untuk sesuatu hal yang mempermulIakan nama Tuhan. sekali lagi kekuasaan yang Ia dapat bukan menggunakan cara-cara yang dipakai oleh pemimpin-pemimpin dunIa yang cenderung berpolitik tidak benar tetapi Yesus menggunaka kasihNya untuk memperoleh kekuasaan tersebut. Pengaruh yang begitu luas yang Ia dapatkan semata-mata karena kasihNya yang Ia bagikan untuk semua orang tanpa memandang status sosIal yang ada membuat orang-orang melihat sosok yang menjadi teladan bagi setIap orang. Secara keseluruhan yang saya pelajari adalah kekuasaan yang saya punyai bukan dengan motivasi untuk menguasai orang lain tetapi untuk membantu orang lain. Kedua, untuk menjadi yang terdepan, maka kita harus menjadi yang terbelakang terlebih dahulu. Ketiga, Kuasa yang didapat lebih besar pengaruhnya bila mendapatkannya melalui kasih yang dibagikan.
Hal yang menarik yang saya pelajari berikutnya adalah unusual politic, cara-cara berpolitik Yesus yang tidak bisanya. Yesus tidak menggunakan cara-cara berpolitik yang -sama dengan orang-orang Farisi dan saduki di dalam mendapatkan suatu pengakuan. Banyak lambang-lambang yang cukup menarik untuk menggambarkan pemerintahan Yesus yaitu palungan & kandang bukan kamar VIP rumah sakit, baskom bukan guci dari emas, dan salib bukan tahta kerajaan. Pengorbanan Yesus yang Ia tunjukkan dengan menncuci kaki-kaki yang kotot bukanlah suatu tindakan yang bisa dIanggap bIasa karena membersihka kaki orang bukan pekerjaan yang menyenangkan dan menjadikan diri kita lebih rendah dibanding orang yang kita cucikan kakinya. Kain dan baskom ini menjadi suatu penunjuk bahawa Yesus benar-benar menjungkirbalikkan hiraki-hiraki sosIal yang ada dan menunjukkan kepada setIap kita utnuk saling melayani satu sama lain, tidak berebut untuk menjadi yang tertinggi tetapi bIarlah kita salaing mengasihi dan merendahkan diri satu dengan yang lain. Salib itupun juga menjadi suatu lambang pengorbanNya yang begitu besar, Ia dapat menghindari tanggung jawab tersebut tetapi Ia tidak mau. tanpa pelayanan baskomNy tidak akan pernah ada jalan salib itu. Pengajaran-penagajaran Yesus juga selalu menentang pengajaran keagamaan yang konvensional. Ia selalu memperjuangkan kebenarang yang harus disampaikan bukan demi keuntunganNya tetapi justru akan membawa banyak kerugIan kepada dirinNya. Ajaknnya kepada setIap murid untuk mengikuti teladanNya menjadi suatu bukti bahwa Ia benar-benar melakukan kebenaran-kebenaran. Yesus mengajak setIap kita untuk terlibat di dalam pelayananNya, karena Firman yang Ia ajarkan tidak akan berguna bila kita tidak dapat melakukannya. Murid terbesar adalah dIa yang melakukan dan mengajarkan perintah Tuhan. Salib menjadi suatu lambang kepurusan kita di dalam memilih mengikut Yesus. Banyak orang berpikir bahwa mengikut Yesus adalah segala jawaban di dalam masalah-masalah yang kita hadapi di dunIa ini namuan Ia tidak pernah menjanjikan hal itu, Ia hanya mengatakan bahwa mengikut DIa haruslah memilkul salib. Memikul salib berarti kita harus berani untuk meningggalkan ambisi-ambisi pribadi kita di dalam dunIa ini yang sangat dipenuhi dengan hawa nafsu. Langkah ini merupakan langkah yang paling berat yang saya rasakan ketika harus memikul salib meskipun belum sepenuhnya memikul salib ini. Saya sangat tidak rela untuk meninggalkan ambisi-ambisi pribadi saya namun saya sekarang sedang belajar untuk mampu melepaskannya dan benar-benar memikul salib secara penuh. Yang kedua adalah maka kita seakan-akan akan kehilangan hidup kita di dunai ini. . Ketika kita mengikut Yesus bukanlah suatu harga yang murah yang harus kita bayar tetapi harga yang begitu mahal tetapi hal itu masih tidak sebanding dengan pengorbanan Yesus di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa saya sehingga saya terlepas dari hukuman kekal. Komitmen yang harus saya bagun benar-benar komitmen ynag secara total menyerahkan diri saya di dalam Tuhan. Banyak sekali kesusahan yang harus ditempuh namun sukacita itu selalu berinringan dengan setIap derita yang saya alami.
Secara keseluruhan saya melihat memang dalam mengikut Yesus kita harus melakukan banyak hal yang berlawanan dengan apa yang dilakukan oleh dunIa ini, ini sesuai dengan ayat yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunIa ini. Dan inti daripada mengikut Kristus adalah kerelaan untuk memikul salib. Mungkin secara sederhana kata-kata itu muncul tetapi membutuhkan banyak pengorbanan yang mahal untuk dapat mewujudkannya. Amin

komplit neh hehe..
aku tertarik ke topik ‘status’ yang kamu tulis di bagian awal Mil.. sejak lahir seakan banyak status udah nempel bahkan saat kita belum sempet tahu apa arti status itu. tapi seiring perjalanan hidup dan iman yang makin bertumbuh, entah status apapun yg udah nempel, mungkin memang ngga bisa dilepaskan, tp mnrtku mungkin akan jadi satu hal yang ngga perlu dianggap untuk dipermasalahkan. tapi semua itu hanya bisa terjadi dengan kesadaran untuk ngga anggap itu sebagai satu hal penting untuk dilihat dari diri sendiri ataupun orang lain. justru ngga bisa jadi berkat buat orang lain kali ya kl cuma bergerak dengan mementingkan status yang melekat hehe..
kl boleh nih saran supaya makin mantap next time, paragraf nya jgn terlalu panjang mil, krn font size nya small enough. isi boleh panjang, tp dibagi ke paragraf yg lebih banyak agar bacanya lebih enak hehe..
keep writing and be a blessing through your blog! God bless..