Pelembagaan: Pelopor Budaya
Sampai pertengahan tahun 1980-an, sebagian besar organisasi dianggap semata-mata sebagai alat yang rasional untuk mengkoordinasi dan mengendalikan sekelompok orang dengan adanya tingkat-tingkat vertical, depertemen, hubungan wewenang, dan seterusnya. Namun, sebenarnya organisasi juga mempunyai kepribadian. Sekalipun bergerak di bidang yang sama, tetapi tiap perusahaan memiliki perasaan dan karakter yang unik di luar karakteristik strukturalnya. Asal-usul budaya sebagai variable independen yang mempengaruhi sikap dan perilaku karyawan dapat ditelusuri ke gagasan pelembagaan (institutionalization).
Bila organisasi menjadi terlembaga, organisasi itu memiliki kehidupannya sendiri, terlepas dari para pendirinya atau para anggotanya. Contohnya, Ross Perot yang menciptakan Electronic Data System (EDS) pada 1960-an, kemudian meninggalkannya pada tahun 1987 untuk mendirikan perusahaan baru, Perot Systems. EDS terus bertumbuh sekalipun telah ditinggalkan pendirinya. Selain itu, bila organisasi menjadi terlembaga, organisasi itu akan dihargai atas dirinya, tidak sekedar atas barang atau jasa yang dihasilkan. Jika tujuannya tidak lagi relevan, ia akan mendefinisikan ulang tujuannya. Contohnya, Organisasi Maret of Dimes yang awalnya bertujuan untuk mendanai perang terhadap polio. Ketika polio nyaris sepenuhnya terbasmi, organisasi tersebut tidak tutup, tetapi ia mendefinisikan ulang tujuannya sebagai pendana riset untuk mengurangi cacat kelahiran dan menurunkan tingkat kematian bayi. Jadi pelembagaan berlangsung dalam rangka menghasilkan pemahaman bersama di kalangan anggota mengenai perilaku apa yang tepat, terutama, dan bermakna.
Apakah Budaya Organisasional itu?
Budaya organisasi mengacu pada sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan organisasi itu dari organisasi-organisasi lain. Sistem makna ini merupakan seperangkat karakteristik utama yang dihargai oleh organisasi itu.
Ada tujuh karakteristik primer yang bersama-sama menangkap hakikat dari budaya organisasi:
1. Inovasi dan pengambilan resiko. Sejauh mana para karyawan didorong agar inovatif dan mengambil resiko.
2. Perhatian terhadap detail. Sejauh mana para karyawan diharapkan memperlihatkan kecermatan, analisis, dan perhatian terhadap detail.
3. Orientasi hasil. Sejauh mana manajemen memusatkan perhatian pada hasil, bukan pada tehnik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
4. Orientasi orang. Sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan dampak hasil-hasil pada orang-orang di dalam organisasi itu.
5. Orientasi tim. Sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan berdasarkan tim, bukan berdasarkan individu.
6. Keagresifan. Sejauh mana orang-orang itu agresif dan kompetitif.
7. Kemantapan. Sejauh mana kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya status quo bukannya pertumbuhan.
Gambaran budaya suatu organisasi dapat diperoleh dengan menilai organisasi itu berdasarkan tujuh karakteristik di atas. Gambaran itu menjadi dasar bagi perasaan pemahaman bersama yang dimiliki para anggota mengenai organisasi tersebut, cara penyelesaian urusan di dalamnya, dan cara para anggota diharapkan berperilaku.
Budaya merupakan istilah deskriptif
Budaya organisasi itu berkaitan dengan cara karyawan mempersepsikan karakteristik budaya organisasi, bukannya dengan apakah mereka menyukai budaya itu atau tidak. Artinya, budaya itu merupakan istilah deskriptif. Pemahaman ini penting karena membedakan konsep budaya dari konsep kepuasan kerja. Kepuasan kerja berupaya mengukur respon afektif (perasaan) terhadap lingkungan kerja. Kepuasan kerja berhubungan bagaimana perasaan karyawan terhadap harapan organisasi itu, praktik imbalan, dan yang serupa. Budaya organisasi adalah deskriptif, sedangkan kepuasan kerja adalah evaluatif.
Apakah Organisasi Mempunyai Budaya yang Seragam?
Budaya organisasi menunjukkan persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu. Tetapi pengakuan bahwa budaya organisasi mempunyai sifat-sifat umum tidak berarti bahwa tidak ada sub-sub budaya di dalam setiap budaya yang ada. Budaya dominan mengungkap nilai-nilai inti yang dianut bersama oleh mayoritas anggota organisasi itu. Sub budaya cenderung berkembang dalam organisasi besar untuk mencerminkan masalah, situasi, atau pengalaman bersama yang dihadapi para anggotanya. Sub budaya ini akan mencakup nilai-nilai budaya dominan ditambah nilai-nilai tambahan yang unik bagi anggota-anggota pada masing-masing departemen. Misalnya, dalam departemen penjualan dapat menganut sub budaya yang secara unik dianut bersama oleh anggota-anggotanya dan berbeda dengan sub budaya pada departemen produksi. Jika organisasi-organisasi tidak memiliki budaya dominan dan hanya tersusun dari sangat banyak sub budaya, maka nilai budaya organisasi sebagai variable independen akan sangat berkurang karena tidak akan ada penafsiran yang seragam atas apa yang merupakan perilaku yang tepat dan tidak tepat.
Budaya Kuat Lawan vs Budaya Lemah
Dalam budaya kuat, nilai inti organisasi itu dipegang secara mendalam dan dianut bersama secara meluas. Makin banyak anggota yang menerima nilai-nilai inti dan makin besar komitmen mereka pada nilai-nilai itu, makin kuat budaya tersebut. Budaya kuat akan mempunyai pengaruh yang besar pada perilaku anggota-anggotanya karena tingginya tingkat kebersamaan dan intensitas akan menciptakan iklim internal atas pengendalian perilaku yang tinggi. Budaya kuat juga memperlihatkan kesepakatan yang tinggi di kalangan anggota mengenai apa yang dipertahankan oleh organisasi itu, sehingga dapat menurunkan tingkat keluarnya karyawan.
Budaya vs Formalisasi
Budaya organisasi yang kuat meningkatkan konsistensi perilaku. Karena itu, budaya organisasi yang kuat dapat menggantikan formalisasi. Formalisasi dapat menciptakan prediktabilitas, ketertiban, dan konsistensi. Budaya dan formalisasi merupakan dua jalan yang berlainan untuk mencapai tujuan yang sama. Makin kuat budaya organisasi, akan menyebabkan semakin kurang perlunya formalisasi.
Budaya Organisasi Lawan Budaya Nasional
Budaya nasional mempunyai dampak yang lebih besar pada para karyawan daripada budaya organisasi mereka. Contohnya, karyawan Jerman pada fasilitas IBM di Munich akan lebih dipengaruhi oleh budaya Jerman daripada oleh budaya IBM. Karena itu, proses seleksi karyawan akan digunakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional untuk menemukan dan mempekerjakan pelamar kerja yang benar-benar cocok dengan budaya dominan organisasi mereka, meskipun jika pelamar tersebut agak tidak khas bagi para anggota di Negara mereka. Contohnya, perusahaan multinasional Inggris mungkin kurang tertarik mempekerjakan “orang khas Italia” untuk operasinya di Italia.
Apa yang dilakukan budaya?
Fungsi Budaya
Budaya menjalankan sejumlah fungsi dalam organisasi. Pertama, budaya mempunyai peran menetapkan tapal batas yang artinya budaya menciptakan perbedaan yang jelas antara satu organisasi dan organisasi lain. Contoh :
Kedua, budaya memberikan rasa identitas ke anggota-anggota organisasi. Contoh :
Ketiga, budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri pribadi seseorang. Contoh :
Keempat, budaya meningkatkan kemantapan sistem sosial. Contoh :
Terakhir, budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan mekanisme pengendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku para karyawan. Contoh :
Fungsi terkhir ini tampaknya makin penting di tempat kerja dewasa ini. Makna bersama yang diberikan budaya yang kuat memastikan bahwa semua orang diarahkan ke arah yang sama.
Budaya Sebagai Beban
Hambatan Terhadap perubahan Budaya menjadi beban saat nilai-nilai bersama tidak cocok dengan nilai-nilai yang akan meningkatkan keefektifan organisasi itu. Bila lingkungan dinamis, budaya organisasi yang telah berakar tidak bisa tepat lagi. Konsistensi perilaku akan membuat organisasi terhambat untuk menanggapi perubahan-perubahan lingkungannya. Contoh :
Hambatan Terhadap Keanekaragaman Budaya yang kuat sangat menekan para karyawan agar menyesuaikan diri. Budaya yang kuat juga membatasi rentang nilai dan gaya yang dapat diterima. Manajemen menginginkan karyawan baru untuk menerima nilai budaya inti organisasi sehingga menyingkirkan kekuatan unik yang dibawa oleh orang-orang dengan latar belakang yang berlainan tersebut. Contoh :
Hambatan Terhadap Merger dan Akuisisi Walaupun laporan keuangan dan lini produk yang menyenangkan dapat menjadi penarik awal atas calon akuisisi, tapi keberhasilan akuisisi lebih terkait dengan seberapa baik budaya kedua organisasi bersesuaian. Contoh :
Menciptakan dan Mempertahankan Budaya
Asal Mula Budaya
Para pendiri organisasi biasanya mempunyai dampak besar pada budaya awal organisasi tersebut. Mereka mempunyai visi tentang bagaimana seharusnya organisasi tersebut. Proses penciptaan budaya terjadi dalam tiga cara. Pertama, para pendiri hanya memperkerjakan dan mempertahankan karyawan yang berpikir dan merasakan cara yang mereka tempuh. Kedua, mereka mengindoktrinasikan dan mensosialisasikan para karyawan ini dengan cara berpikir dan perasaan mereka sendiri. Ketiga, pendiri itu sendiri bertindak sebagai model peran yang mendorong karyawan mengidentifikasikan diri dengan mereka dan oleh karenanya menginternalisasikan keyakinan, nilai, dan asumsi mereka. Contoh :
Menjaga Budaya agar Tetap Hidup
Seleksi Tujuan eksplisit dari proses seleksi adalah mengidentifikasi dan memperkejakan individu yang mempunyai pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan melakukan pekerjaan dengan sukses dalam organisasi itu. Keputusan akhir akan sangat dipengaruhi oleh penilaian pengambil keputusan mengenai seberapa baik calon itu cocok dengan organisasi itu, yang punya nila-nilai yang konsisten dengan nilai organisasi. Selain itu, seleksi juga berfungsi memberi informasi pada para pelamar mengenai organisasi itu. Bila para pelamar merasakan ada konflik antara nilai mereka dan organisasi maka mereka bisa keluar dari kumpulan pelamar. Dengan cara ini, proses seleksi mendukung budaya organisasi dengan menyeleksi keluar individu yang mungkin menyerang atau menghancurkan nilai-nilai intinya. Contoh :
Manajemen Puncak
Tindakan orang-orang manajemen puncak memiliki dampak besar pada budaya organisasi. Melalui apa yang mereka katakan, cara berperilaku, senior yang menegakkan norma-norma yang mengalir ke bawah sepanjang organisasi ( cont : pakaian yang pantas dikenakan, berapa banyak kebebasan yang seharusnya diberikan manajer kepada bawahan mereka, dll).
Sosialisasi
Suatu proses adaptasi karyawan dengan budaya organisasi. Saat ada karyawan baru yang mungkin belum kenal baik pada budaya organisasi, maka organisasi akan membantu karyawan baru menyesuaikan diri dengan budaya yang ada di organisasi tersebut ( disebut juga dengan proses sosialisasi ).
Contoh : karyawan baru di restoran kopi terbesar Starbucks menjalani pelatihan 24 jam untuk memahami kebiasaan di Starbucks, bagaimana menjelaskan produk kopi yang diolah dengan berbagai macam mesin (mesin tumbuk, mesin espresso, mesin butiran) kepada pelanggan, mempelajari filosofi Starbucks dan ungkapan-ungkapan yang familiar seperti ”half-decaf double tall almond skim mocha” (skim moka dua tumpuk dengan separuh kafein), dapat menjadi konsultan yang baik saat ditanya pelanggan, sehingga hasil dari pelatihan tersebut adalah para karyawan memahami budaya Starbucks dan diperkirakan mampu berhubungan dengan para pelanggan secara bersemangat dan berpengetahuan.
Tahapan sosialisasi :
- Tahap Prakedatangan
Tahap pertama meliputi segala macam pembelajaran yang terjadi sebelum anggota baru bergabung dengan organisasi. Karena setiap individu baru dalam suatu organisasi tiba dengan seperangkat nilai, sikap dan harapan masing-masing.
Misal : saat A hendak masuk dalam organisasi dalam bidang pemasaran maka A akan menjalankan tingkat sosialisasi awal melalui pelatihan di tempat kerja (kerja magang) dan pengajaran di sekolah (pengajaran di fakultas ekonomi manajemen pemasaran tentang perilaku bisnis yang diinginkan oleh perusahaan-perusahaan bisnis).
Terkadang proses seleksi dilakukan dalam kebanyakan organisasi untuk memberitahu calon karyawan informasi mengenai organisasi itu sebagai keseluruhan. Proses seleksi juga berperan memastikan masuknya ”tipe orang yang benar” dalam organisasi. Jadi kesuksesan calon karyawan baru untuk dapat diterima dalam organisasi bergantung pada sejauh mana anggota yang bercita-cita tinggi itu dapat memenuhi harapan dan hasrat orang di dalam organisasi yang bertugas menyeleksi.
- Tahap Keterlibatan ( Encounter )
Tahap dalam proses sosialisasi di mana karyawan baru melihat yang sesungguhnya organisasi dan menghadapi kenyataan dengan harapan dapat berbeda. Jika harapan dan kenyataan berbeda , karyawan baru itu harus menjalani sosialisasi yang akan membantunya untuk memiliki asumsi yang sama dengan yang diinginkan perusahaan. Dan anggota baru harus dapat menyelesaikan setiap masalah yang ada dalam organisasi (pada tahap keterlibatan ini) agar dapat melanjutkan ke tahap metamorfosis.
- Tahap Metamorfosis
Tahap dalam proses sosialisasi dimana karyawan baru berubah dan menyesuaikan diri dengan pekerjaan, kelompok kerja dan organisasi. Karyawan baru dapat menguasai ketrampilan yang diharapkan organisasi, berhasil melakukan peran dan melakukan penyesuaian terhadap nilai/norma perusahaan.
Proses metamorfosis dan proses sosialisasi ini dikatakan selesai bila karyawan baru telah merasa nyaman terhadap organisasi dan pekerjaannya. Ia telah menginternalkan norma-norma organisasi dan kelompok kerjanya, memahami serta menerima sistem, prosedur, aturan dan norma tersebut, anggota baru merasa diterima oleh rekan sekerjanya dan individu merasa yakin dengan kompetensi diri sehingga dapat menyelesaikan perkerjaannya.
Proses tiga tahap ini berdampak pada produktivitas kerja, komitmen pada tujuan organisasi, dan keputusan akhir untuk tetap bersama dengan organisasi itu.


