Semakin bertambahnya usia maka seharusnya juga diiringi dengan semakin berkembangnya kedewasaan di dalam kepribadian bangsa, namun apakah hal ini juga terjadi dengan negara kita Indonesia ketika memasuki ulang tahunnya yang ke 63 dan 100 tahun Kebangkitan Nasional. Tampaknya semakin bertambahnya usia Bangsa Indonesia tidak berjalan bersamaan dengan semakin sejahteranya bangsa ini.
Kesejahteraan bangsa dirasakan sangat sulit untuk diwujudkan karena kita semua melihat sebuah realita yang sangat ironis bahwa para pemimpin-pemimpin yang seharusnya menjadi teladan justru menjelang hari kemerdekaan dikotori dengan berita para anggota Dewan yang menerima pemberian dari pihak Bank Indonesia beberapa tahun lalu dan yang paling mengejutkan adalah menyangkut ke hampir sebagian para pemimpin dan anggota di dalam komisi DPR.
Apa yang menjadi latar belakang dari korupsi yang mereka lakukan? Apakah mungkin karena mereka berada dalam kondisi krisis perekonomian keluarga mereka. Tetapi kita semau tahu bukan masalah krisis perekonomian karena para anggota dewan telah mendapatkan kompenasi dari hasil kerja mereka yang sesuai. Pola ini mencerminkan sebuah pencarian suatu keagungan yang neurotik karena terfokus kepada keagungan diri sendiri.
Fenomena neurotik ini kita rasakan tidak hanya menjadi milik mereka yang memiliki posisi sebagai seorang politikus, namun menjadi kepribadian yang umum ke seluruh warga. Proses pembelajaran sosial yang merupakan hasil dari observational learning karena melihat tingkah-tingkah yang neorotik dari para pemimpinnnya menjadikan kepribadian neorotik yang egoistis ini menjadi kepribadian bangsa yang baru. Di saat-saat kita memperingati 100 tahun kebangkitan Nasional dan memasuki usia ke 63 dari bangsa Indonesia, justru Bangsa ini harus menemukan realisasi diri yang benar.
Ketika manusia berada di dalam lingkungan yang aman dan dan hangat akan sangat mendorong pengembangan realisasi diri yang benar menurut Horney. Celakanya, pengaruh yang negatif saat awal-awal pembentukan kepribadian negatif memberikan kecenderungan perwujudan diri ideal yang berusaha untuk menutupi kekurangannya. Kondisi ini yang akan menggambarkan kondisi bangsa Indonesia yang pada saat awal pemerintahan orde lama yang merupakan tahapan awal dari pembentukan bangsa justru berada di dalam kondisi yang tidak stabil dan mengalami krisi yang cukup berat. Sehingga pemimpin orde baru melakukan perubahan dengan mencari-cari diri ideal supaya mampu mengatasi tekanan sosial. Dengan munculnya berbagai semboyan misalnya negar swasembada pangan dan pembangunan jangka panjang yang memakmurkan rakyat, tetapi di balik semua itu hanya suatu gambaran pencarian diri ideal yang tidak nyata sehingga Indonesia harus terjerat oleh hutang-hutang yang dipinjamkan bank dunia.
Proses pembentukan kepribadian bangsa sehingga menjadi kepribadian yang neorits juga berimplikasi secara langsung kepada seluruh warga terutama yang adapat kita lihat adalah para pejabat-pejabat pemerintahan. Demi pencarian keagungan diri yang neurotik, banyak dari warga negara yang tidak memikirkan nasib dari orang lain dan rela untuk menindas orang lain demi ambisi neoritk mereka untuk menggapai kesempurnaan diri. Inilah gejala-gejala yang menunjukkan perwujudan diri idel yang menyimpang dan mencari ciri kepribadin warga negara. Terutama kita menyoroti bagaimana perilaku-perilaku pemimpin-pemimpin negara yang terlihat secara jeals mereka melakukan korupsi uang milik rakyat yang dipastikan secara akan sehat mereka mengerti bahwa uang-uang tersebut seharunya digunakan untuk kepentingan rakyat dan mereka juga pasti menyadari bahwa mereka dapat terpilih menjadi pemimpin negara karena aspirasi dari rakyat. Harus bagaimana lagi untuk dapat menjelaskan perilaku-perilaku yang sudah jauh dari ambang batas akal sehat kita dan inilah kepribadian yang neurotis yang kita lihat dari bangsa ini.
Ketika memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional dan Proklamasi Kemerdekaan tidak hanya menjadi suatu prosesi perayaan yang menjadi rutinitas setiap tahunnnya melainkan kedua hari bersejarah ini harus kita hayati sebagai sebuah refleksi terhadap kepribadian bangsa yang dicerminkan oleh rakyat-rakyatnya yang cenderung untuk mencari keagungan buat dirinya sendiri. Kita harus mencari kembali kepribadian bangsa yang mencerminkan diri yang benar dan kembali melakukan rekonstruksi terhadap berkembangan diri ideal yang neurotis. Sudah saat nya bagi setiap kita untuk meninggalkan ambisi-ambisi yang neurotis guna menjadi individu-individu yang dianggap superior tetapi menewaskan mereka yang merupakan rakyat kecil. Tidak menjadikan uang sebagai makanan wajib dan kekuasaan sebagai minuman yang melegakan kehausan tetapi kita berusaha unutuk membuat kedua elemen itu menjadi fasilitas yang digunakan untuk menjadikan rakyat-rakyat miskin menjadi sejahtera.
Mari kita setiap warga negara, berusaha untuk melakukan rekonstruksi ulang kepribadian neurotis kita dengan melakukan terapi-terapi yang akan mentarnsformatif perilaku-perilaku yang dimunculkan. Terapi yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan sikap altruis dan penananam kasih yang mendalam supaya bangsa kita menjadi bangsa yang dikenal dengan kepribadian budaya yang ramah dan rela berkorban demi orang lain. Bangsa ini akan tetap ada dan bertahan bila setiap warganaya mau untuk berubah dan Bangsa ini tidak akan bertahan bila kita tetap bertahan di dalam kondisi yang neurotis karena bangsa sebentar saja akan menjadi bangsa yang abnormal bila kita dari sekarang tidak mau untuk menyadarinya dan bersikap. Harapan yang selalu kita nanti-nantikan bahwa bangsa ini akan dikenang oelh dunia karena memiliki kepribadian yang altruis dan kasih yang melimpah ruah.
